Statistik

Hit hari ini : 666
Total Hits : 969,403
Pengunjung Hari Ini : 176
Pengunjung Online : 3
Total pengunjung : 219,618

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 46 Next > Last >>

Tenggarong Kutai Carnival Menampilkan Tema Kostum Sampe’


Masih dalam rangkaian Festival Kota Raja VI dalam rangka memeriahkan HUT Kota Tenggarong ke 235 , Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara kembali menggelar Tenggarong Kutai Carnaval ( TKC) pada Sabtu siang (07/10) yang bertemakan Sampe, Sampe sendiri merupakan alat musik suku Dayak Kalimantan, serta 4 lainnya seperti Buah Bolok, Pesut, Sumpit dan Hudoq.Kepala Dispar Kukar Sri Wahyuni mengatakan sebagai event tahunan, TKC  tetap dilaksanakan meskipun dengan kondisi terbatas. Menurutnya untuk TKC tahun ini diikuti 32 peserta yang terdiri dari 28 orang talent dewasa, dan 4 orang talent anak-anak. “Mereka akan memamerkan berbagai tema dan lima orang peserta nantinya akan menampilkan desain baru untuk karnapal kostum pada tema Sampe dan Sumpit hari ini. Selebih peserta lagi nanti akan memakai kostum karnaval yang pernah ditampilkan pada tahun sebelumnya, tapi akan lebih di modifikasi lagi oleh management atau talent-talent dari TKC itu sendiri,” ujarnya. Menurut nya sebagai event tahunan, TKC tidak dapat dipisahkan dengan  Festival Kota Raja (FKR). “Walupun dengan format yang berbeda paling tidak mereka punya ruang memperkenalkan diri untuk beraktualisasi dalam event seperti ini,”


Lebih lanjut dikatakannya, selain memfasilitasi pelaku seni tradisi, Dispar juga memfasilitasi pelatih seni kontemporer. Melalui gelar seni ini masyarakat dapat melihat serta menikmati pertunjukkan karya- karya kreative dari management TKC. Diantaranya,  bagaimana cara membuat kostum dari kearifan lokal,  misalnya pada tahun ini bertemakan Sampe dan Sumpit.“Ini merupakan tantangan ide yang sangat bagus, dengan  tema- tema yang diangkat khas dari alat musik khas suku Dayak. Kami berharap kedepan TKC tidak hanya tampil di moment–moment FKR, tapi mempersilahkan juga bagi institusi atau lembaga pemerintah ataupun swasta yang mengundang management TKC.


Para Talen TKC memulai performance di panggung hiburan Tenggarong Fair dan secara perlahan melakukan Karnaval dijalan, masyarakat sangat antusias melihat pagelaran ini dengan sesekali berfoto bersama Talent, Carnival ini berakhir di halaman Kedaton Kutai Kartanegara.

Wakil Bupati Kukar Buka FKR VI 2017


Dalam rangka memperingati  Hari Jadi Kota Tenggarong ke 235 Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Pariwisata menggelar  Festival Kota Raja VI yang dirangkai dengan Tenggarong Fair.

Dalam sambutan tertulis  Bupati Kutai Kartanegara yang dibacakan Wakil Bupati  Edi Damansyah menyambut baik terselenggaranya Festival Kota Raja VI, dan ia berharap agar warga Kutai Kartanegara menjaga dan memiliki Kota Raja tercinta ini, dengan memberikan karya-karya terbaik, Kreatif, Inovatif bagi bagi segala sektor bagi daerah.Menurutnya kita patut bangga meski Tenggarong Fair baru pertama dilaksanakan, namun sudah diperkaya dengan kegiatan workshop pengembangan Kapasitas pelaku UMKM dan Usaha Ekonomi Kreatif.

Semantara itu Kepala Dinas Pariwisata Sri Wahyuni dalam laporannya mengatakan FKR VI digelar mulai mulai 30 September hingga 8 Oktober 2017 yang pusatkan di Lapangan Basket Stadion Rondong Remang Tenggarong,  selain menghadirkan Tenggarong Fair juga diisi Pameran Produk Lokal dan Bazar serta setiap harinya dimeriahkan dengan berbagai hiburan seni dan budaya. “diantaranya peragaan Busana Batik, Zumba Party, Pemutaran Film Indie, Festival Tari Jepen, Pentas Musik, Lomba Gasing, Reggea Party serta workshop UKM, selain itu juga dimeriahkan dengan penampilan Tenggarong Kutai Carnival (TKC) yang di laksanakan pada hari sabtu(07/10) start di Panggung Hiburan Tenggarong Fair finis di Halaman Kedaton Kutai Kartanegara, sedangkan pada malam penutupan FKR VI akan dimeriahkan dengan penampilan Artis Dangdut Anna Zivana dan Wandie Mario.Pembukaan acara FKR VI ditandai dengan pemukulan Rebana oleh Wakil Bupati Kukar, bersama Kepala Dinas Pariwisata Sri Wahyuni, Dandim 0906 dan Camat Tenggarong, dan dilanjutkan dengan peninjauan pameran produk lokal dari UMKM.




Pemenang Lomba Foto Eksotika Erau 2017


Setelah melalui proses penilaian dewan juri terhadap puluhan foto yang masuk nominasi lomba Foto Eksotika Erau 2017, yang dilaksanakan pada hari Jumat 29/9/2017 diruang rapat Dinas Pariwisata juri yang terdiri dari Arbain Rambey yang merupakan Photograper Profesional , Fachmi Rachman Editor Tribun Kaltim, serta Kepala Dinas Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP. hasil penjurian menentukan pemenang lomba foto Eksotika  Erau 2017, Juara I berhasil diraih Fandi Oktadiansyah  lewat foto berjudul “Tari Kipas Korea Selatan ”. Sedangkan Juara II diraih Chandra AP untuk foto bertajuk “Tari Datun Udoq” dan Juara III diraih Ibnu Abbas Rachman untuk karya foto berjudul “The Art Of a Hudoq Dancing”.

Dewan juri juga memilih foto karya Dwi Rizky Murdana  yang berjudul “Persiapan Mengulur Naga” sebagai Foto Terunik Lomba Foto  Eksotika Erau 2017 Sementara Foto Terfavorit diraih Agung Yorinda  Prasetya yang berjudul “Imut” memperoleh jempol atau tanda suka terbanyak di Facebook Visiting Kutai Kartanegara yakni sebanyak 637 dukungan. Secara keseluruhan ada 465 foto yang dikirimkan 107  fotografer dalam Lomba Foto Eksotika Erau 2017. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62 foto karya 44 peserta masuk nominasi.Kadispar Kukar Sri Wahyuni mengatakan tidak mudah dalam penilaian lomba foto kali ini karena banyaknya fotografer yang turut serta tahun ini. “Ada 62 foto karya 44 peserta yang masuk nominasi Kemudian seluruh foto yang masuk nominasi ditampilkan di Facebook Visiting Kutai Kartanegara untuk pemilihan foto favorit dari tanggal 21 Juli hingga 21 Agustus 2017.” ucap Sri Wahyuni. Untuk penyerahan hadiah para pemenang  dilakukan pada saat penutupan pelaksanaan Festival Kota Raja VI  (FKR) 2017, Adapun besaran hadiah uang pembinaan bagi pemenang, yakni sebesar Rp 5 juta untuk Juara I, Rp4 juta bagi Juara II, Rp 3 juta bagi Juara III. Kemudian untuk Foto Terfavorit bakal mendapatkan uang tunai sebesar Rp 3 juta, dan untuk Foto Terunik berhak mendapatkan uang tunai sebesar Rp3 juta.




Merebahkan Tiang Ayu Sebagai Tanda Berakhir Nya Erau Adat Kutai 2017


Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura secara resmi mengakhiri pelaksanaan pesta Erau Adat Kutai dan The5  International Folk Art Festival (EIFAF) 2017, pada Senin (31/7) pagi kemarinlewat upacara merebahkan Ayu. Upacara adat yang berlangsung khidmat dan sederhana itu digelar di ruang Stingkil Keraton Kutai Kartanegara atau Museum Mulawarman, Tenggarong.Prosesi merebahkan Ayu itu dilakukan 6 orang yaitu putra Sultan Kutai, HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adinigrat, HAP Soeryo Adinata, HAP Soerya Manggala, dan HAP Soerya Kesuma serta 2 keluarga Keraton Kesultanan Kutai, HAP Aryo Adi Putro dan HAP Ario Putro Ami Djoyo. Sementara Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adinigrat bertugas menyambut ujung/kepala tiang Ayu. Proses tersebut disaksikan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XX HAM Salehoeddin II bersama para kerabat keraton.Setelah tiang Ayu rebah, dilanjutkan dengan pemberian tempong tawar oleh pimpinan Dewa belian pertama-tama kepada tiang Ayu, Sultan Kutai lalu Putra Mahkota serta kerabat keraton lainnya. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan doa selamat yang dipimpin oleh seorang kerabat Keraton, sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa Erau berlangsung sukses.Usai melaksanakan upacara merebahkan Ayu, seluruh kerabat keraton mulai dari panitia, petugas adat, Belian dan Dewa hingga pasukan Kesultanan, menghaturkan sembah dan menyalami Sultan Kutai bersama keempat putranya.Acara tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Kukar Edi Damansyah, Ketua DPRD Kukar Salehuddin”Dengan dilaksanakannya merebahkan Ayu, maka Erau Adat Kukar resmi berakhir,” ujar HAP Puger yang mewakili Sultan Kutai. Menurutnya kita bersyukur karena pelaksanaan Erau tahun ini berjalan lancar dan sukses. Ia juga berterimakasih kepada pihak yang telah membantu dan mendukung terselenggaranya Erau tersebut, terutama Pemkab Kukar serta seluruh masyarakat Tenggarong dan masyarakat Kukar pada umumnya. ”Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung pesta adat Erau ini,” pungkasnya




Ribuan Masyakat Ikuti Ngulur Naga Dan Belimbur Erau 2017


Prosesi mengulur Naga dan Belimbur adalah satu ritual yang disakralkan dalam upacara Adat Erau. Pada ritual ini, rombongan utusan Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura mengarak sepasang replika naga untuk dilepaskan di Kutai Lama, tempat asal muasal legenda sang naga tersebut. Prosesi Mengulur Naga dan Belimbur, menjadi tradisi penutup seluruh rangkaian pelaksanaan Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) 2017 di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Acara tersebut dipusatkan di halaman Museum Mulawarman, Tenggarong, Minggu (30/7).Antusiasme warga pun cukup tinggi meramaikan acara tersebut, mereka datang berduyun-duyun ke museum untuk menyaksikan prosesi itu sekaligus ikut belimbur. Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari dihadapan kerabat kesultanan dan tamu undangan mengatakan, Festival Erau memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, dan Erau menjadi gerbang wisata untuk mengenal Indonesia.


Dalam prosesi itu berlangsung aman dan lancar. Ribuan masyarakat dengan sabar menunggu pelaksanaan prosesi, hingga belimbur dimulakan sekitar pukul 11.30 Wita. Saat air tuli tiba dari Kutai Lama, Kecamatan Anggana. Kesadaran warga ini berkat imbauan berkali-kali dilakukan pihak kesultanan melalui pengeras suara. meminta agar warga tidak menyiram, sebelum seluruh prosesi berakhir. Selain itu, imbauan lain dilarang menyiram dengan air kotor, tidak gunakan air dibungkus plastik dan ketika seseorang disiram tak boleh marah. Menurut  Bupati Kukar Rita Widyasari mengatakan "Upacara Mengulur Naga telah menjadi icon dari upacara Erau Adat Kutai yang dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat di Kalimantan Timur, tetapi juga secara nasional, terlebih Erau Adat Kutai telah menjadi festival budaya terpopuler di tanah air pada Anugerah Pesona Indonesia 2016 lalu," prosesi mengulur naga, tidak hanya diikuti oleh masyarakat Kukar, tetapi menjadi kehormatan bagi Kukar yang dihadiri oleh beberapa Duta Besar serta peserta Festival Kesenian Rakyat Internasional V dalam rangka Erau Adat Kutai 2017 dari 8 (delapan) negara. "Seni dan budaya adalah bahasa universal yang dapat dimengerti secara bersama-sama oleh siapa saja dan darimana pun asalnya. Pelaksanaan Erau Adat Kutai ini juga tidak lain untuk mengangkat adat luhur dikenal oleh masyarakat dunia. Jendela untuk memberi ruang masyarakat internasional mengenal Indonesia melalui Erau Adat Kutai serta untuk mengenal dan memajukan pariwisata di Kutai Kartanegara," ujar Rita.Ditambahkan Rita, upacara mengulur naga menjadi momen spesial bagi masyarakat yang selain dapat menyaksikan secara langsung prosesinya, juga karena prosesi belimbur memilki makna pembersihan diri dari pengaruh jahat yang dapat diikuti oleh seluruh masyarakat secara langsung."Acara belimbur ini ditunggu-tunggu masyarakat, semua orang akan membiarkan dirinya basah, menerima siraman air, dan orang yang disiram tidak boleh marah. Gunakan air yang bersih dan menyiram sewajarnya serta jaga keamanan dan ketertiban selama prosesi belimbur, jadilah contoh dan panutan bagi masyarakat dari luar sesuai dengan adabnya," tambah Rita. Prosesi belimbur tersebut turut dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XX H. Adji Mohamad Salehoedin II, Kerabat Kesultanan, Special Envoy Of President Seychelles for ASEAN, Mr. Nico Barito, Minister of Tourism Seychelles, Mr. allain St Ange, Ambassadorof Poland, Mr. Igor Kaczmarczyk, Ambassador of Slovakia, Mr. MichailSlivovic, Deputy Ambassador Bulgaria, Ms. Alexandrina Guigova, and Deputy Ambassador Mozambique, Ms. Clara Sengo, All Directors and EIFAF 2017 Participants  serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kukar



Jepang Hebohkan EIFAF 2017


Penampilan pentas seni yang dilaksanakan dilapangan Stadion Rondong Demang pada tanggal 28 Juli 2017 yang masih menampilkan tiga Negara peserta Folklore Jepang, Thailand  dan Bulgaria serta dua peserta Indonesia. Ini salah satu rankaian dari Erau Adat Kutai & 5Th International Folk Arts Festival Tahun 2017.  

Penampilan yang pertama tuan rumah sendiri yang tampil yaitu Sanggar Tari LSBK, dilanjutkan penampilan dari peserta Jepang, lalu tuan rumah lagi dari Sanggar Tari Temengang Lian lala dari peserta lagi yaitu Thailand dan Bulgaria.

Penampilan dari Negara Jepang mampu memukau dan membuat penonton terhipnotis dengan penampilan yang sisuguhi dari Negara Jepang, apalagi saat gendang di tabukan dengan kencang dan sekuat tenaga secara bergantian membuat merinding mendengarnya. Serta tepuk tangan penonton pun tidak ketinggalan, mereka sangat – sangat menyambut meriah penampilan dari Negara Jepang.


Kemeriahan Mamanda Di EIFAF 2017


Kesenian Mamanda ikut serta meramaikan Erau Adat Kutai & 5Th International Folk Arts Festival Tahun 2017, Kesenian Mamanda tampil di lapangan parkir Stadion Rondong Demang pada kamis malam tanggal 27 Juli 2017 pukul 20.00 - 22.00 WITA. Hadir pada penampilan kesenian Mamanda ini yaitu Wakil Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah,M.,Si, para Kepala Seksi Dinas Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara dan masyarakat luar dan dalam Tenggarong.

Penampilan Kesenian Mamanda kali ini berjudul “Dendam Cinta Berselimut Angin”.  Ceritan ini menceritakan di sebuah Desa kerajaan Panji Berseri, terjadi percintaan antara pemuda kerajaan dengan seorang gadis desa yang cantik jelita yang bernama Bulan. Dikala itu mereka saling mencintai tanpa sepengetahuan orang tua. Dan pada saat yang sama ada seorang pemuda biasa bernama Alif yang ingin mendapatkan cinta Bulan. Sungguh tak diduga cintanya pun ditolak dengan nada yang sombong karena dia sudah memiliki seorang kekasih yang bernama Pangeran Kusuma Jaya Putra Mahkota Kerajaan Panji Berseri, Alif pun tidak tinggal diam, dia mendatangi seorang dukun untuk membunuh pangerah sehingga dia bias memiliki Bulan.


Pangeran pun akhirnya jatuh sakit, dan kembali keistana, setiba dikerajaan raja dan permaisuri sangat terkejut melihat putranya yang datang dengan keadaan sakit, raja pun memerintahkan kepada pahlawan untuk mencari seseorang yang bias mengobati pangeran. Pahlawan pun tiba dikerajaan dengan seseorang mengobati pangeran. Pangerang diobati oleh petapa tua yang konon bias mengobati orang sakit dengan cara belian. Dan Alif pun ditangkap dan dibawa kekerajaan Panji Berseri untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap pangeran.


Hari Ketiga Pentas Seni EIFAF 2017




Pentas
seni EIFAF 2017 sampai hari ke-3 masih berlangsung meriah. Terlihat dari antusias para
penonton yang masih ramai mendatangi dua panggung pentas seni yaitu Stadion
Utama Lapangan Basket Timbau dan panggung kedua yaitu panggung Stadion Rondong
Demang.




Panggung
Utama Lapangan Basket Timbau menghadirkan peserta dari Tabang, China Taipei,
Slowakia, Tonyoi Bennuaq dan Polandia dan di panggung Stadion Rondong Demang
menghadirkan Ngelawai, Thailand, Malang, India dan Jepang.




Group
seni tari dari Tonyoi Benuaq membawakan tari yang bercerita tentang pengobatan
yang diberikan kepada orang yang sedang sakit dan membayar makan semengat
ucapan syukur orang yang sembuh dari sakit. Tari ini di sebut dengan tari
Belian Bawo. Group seni tari Polandia hadir dengan costum yang sangat menonjol
dari rompi bersulam, puluhan manik-manik, bulu burung burung merak  dan sabuk yang dihiasi.




Group
seni tari dari India membawakan tari GHoomar yaitu tari yang berasal dari salah
satu daerah di India yaitu Rajasthan. Para penari berputar-putar di atas kaki
sembari bergerak masuk dan keluar dari sebuah lingkaran besar.



Keseruan Street Performance


Penampilan Street Performance pada tanggal 26 Juli 2017 tidak kalah menariknya dengan street performance sesudahnya. Street Performance kali ini menampilkan dua (2) perwakilan dari Indonesia yaitu SD 028 Tenggarong dan Sanggar Tari Benaong, dan dua (2) perwakilan dari peserta Folklore yaitu Negara Korea dan Negara Bulgaria.




Penampilan pertama di tampilkan oleh adik – adik dari SD 028 Tenggarong, yang menampilkan tarian dengan judul jepen kanaka tau jepen keroan kanan. Tarian ini menceritakan keseharian anak – anak yang bermain dengan suka cita, permainan yang dimainkan mulai dari asen naga, lompat tali, kabat sampai sandal kelom. Tampilan ke dua dilakukan oleh peserta dari Korea. Mereka menampilkan 3 macam tarian yaitu yang pertama dengan judul tarian sarangiao, tarian kedua berjudul peace dance dan tarian ketiga berjudul gangga sule.




Tampilan berikutnya dari tuan rumah lagi yaitu dari sanggar tari benaong yang menampilkan  tari Datun Julut Remaja Kreasi. Tarian ini menceritakan kebersamaan remajaputri suku dayak kenyah yang saling membantu antar sesame dan mempererat tali persaudaraan demi mewariskan dan mempertahankan adat kebudayaan leluhur. Penampilan tarakhir ditutup dengan tarian dari Bulgaria yang menampilkan tarian yang sederhana tetapi ringan, lincah dan garang.





 

Lomba Taruna Dara Cilik Di EIFAF 2017


Acara Pemilihan Teruna Dara Cilik dalam rangka Erau Adat Kutai & International Folk Art Festival ke-5 2017 berlangsung meriah. Melalui staf yang mewakili membacakan teks sambutan Bupati Kutai Kartanegara menandakan awal mula acara dimulai. Dalam teks sambutan yang dibacakan, Bupati Kutai Kartanegara mengapresiasi atas nama pemerintah daerah menyambut baik dan sangat mendukung diselenggarakannya kegiatan ini melalui momentum Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival untuk melestarikan dan memperkenalkan pakaian khas adat Kutai.




Dalam sambutannya juga menjelaskan bahwa dengan diselenggarakannya Fashion Adat Kanak Kutai ini akan memperkenalkan pakaian khas Kutai Kartanegara yang saat ini telah berkembang dengan baik, berbagai macam desain serta produksi dari bahan-bahan yang utamanya berasal dari tanaman khas daerah Kutai. Hal ini juga diterangkan Bupati Kutai Kartanegara sebagai cara memperkenalkan aneka pakaian khas Kutai secara luas dimata masyarakat Internasional. Kemudian dalam sambutannya juga menjelaskan tentang adanya pemilihan Teruna Dara Cilik 2017 ini diharapkan dapat menambah rasa percaya diri anak dalam meningkatkan bakat maupun potensi yang dimiliki dengan tujuan memberikan anak edukasi serta pemahaman supaya nantinya bisa terus melestarikan budaya lokal di Kutai Kartanegara.




Acara ini memiliki kategori-kategori yang dilombakan, mulai dari Fashion Adat Kanak Kutai Kategori A (usia 4 – 7 tahun), Fashion Adat Kanak Kutai Kategori B (usia 8 – 10 tahun), dan sampai pada pemilihan Teruna Dara Cilik 2017. Pemenang Fashion Adat Kanak Kutai terbagi menjadi 5 pemenang, mulai dari Best Dress, Juara Harapan I, Juara III, Juara II, & Juara I. Untuk pemenang Fashion Adat Kanak Kutai Kategori A yaitu Kania Renata Susanto (Best Dress), Salsabila Dwi Ramadhani (Juara Harapan I), Divanna Putrilia Hidayat (Juara III), Haikal Gading (Juara II), dan Aqila Yumi Yulian Putri (Juara I). Sedangkan untuk Fashion Adat Kanak Kutai Kategori B yaitu Yustika Nur Ramadhana (Best Dress), Tirza Amanda Risya (Juara Harapan I), Aisya Nurul Azkiya (Juara III), Destilaydi Nurmaya Mardwi (Juara II), dan Keizia Shareefa Hidayah (Juara I).




Adapun pemenang Teruna Dara Cilik 2017 juga memiliki kategori yang dimenangkan, pemenangnya yaitu Muhammad Rizky Raihansyah (Teruna Best Catwalk) & Nabila Dinda Azzahra (Dara Best Catwalk), Raditya Kemal Thooriq (Teruna Berbakat Kukar) & Syahrika Fadia Hamizah (Dara Berbakat Kukar), M. N. A Amrullah (Teruna Favorit) & Monica Massayu Widi Wicaksana (Dara Favorit), Mahdi Jannata (Teruna Wakil II) & Mawar Nur Kamila (Dara Wakil II), Christian Joe (Teruna Wakil I) & Diah Pitaloka (Dara Wakil I), dan Muhammad Rizky Raihansyah (Teruna Cilik Kukar) & Monica Massayu Widi Wicaksana (Dara Cilik Kukar).




Harapan diselenggarakannya acara ini yaitu memunculkan minat kepada anak-anak usia dini agar selalu mencintai budaya lokal dan melestarikannya sehingga nantinya budaya lokal akan tetap ada pada generasi-generasi berikutnya.