Benner Naga

Fashion Street

Bukit Bangkiray

Seni

Lapion

Statistik

Hit hari ini : 303
Total Hits : 332,597
Pengunjung Hari Ini : 99
Pengunjung Online : 3
Total pengunjung : 78,282

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 25 Next > Last >>

FOCUS GROUP DISCUSSION DALAM RANGKA PENYUSUNAN RAPERDA RIPPDA KUTAI KARTANEGARA 2015-2025

 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara menggelar acara Focus Group Discussion dalam rangka penyusunan Rancangan Peraturan Daerah ( RAPERDA) Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPPDA) Kutai Kartanegara pada hari selasa 18/11/2014 bertempat di Hotel Liza Tenggarong, yang dihadiri perwakilan SKPD dan Kecamatan, pihak Kesultanan Kutai Kartanegara, para Tokoh Masyarakat, Budayawan dan Seniman serta para  Komunitas

 Kepala dinas kebudayaan dan Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni mengatakan bahwa dalam penyusunan Draf RAPERDA RIPPDA, Disbudpar Kukar bekerja sama dengan Tim Politeknik Negeri Samarinda, dan pada saat ini akan memaparkan laporan awal draf tersebut, dan dari laporan itu nantinya diharapkan  kepada peserta diskusi untuk bisa memberikan masukan nya , RIPPDA ini akan berlaku mulai tahun 2015 – 2025, dimana selama 10 tahun nantinya Pemda Kukar akan mempunyai pedoman dalam pengembangan Pariwisata Daerah, dari kawasan dan potensi wisata yang ada di kukar, tim akan  merekomendasikan objek mana saja yang dikembangkan yang memiliki potensi secara sosial dan ekonomis.

 Semantara itu tim dari Politeknik Negeri Samarinda M. Fauzan Nur mengatakan bahwa  tujuan dari FGD ini ingin mengetahui Visi Misi pariwisata, respon dan masukan serta menyerap aspirasi dari peserta diskusi, sebab dalam proses penyusan  draf ini tim  masih memerlukan  banyak data. serta  objek wisata potensial yang akan dimasukan dalam Riparda diantaranya di samboja ada bukit bengkirai, safari sungai hitam, yang  banyak dikunjungi wisatawan asing, di muara badak ada pantai pengempang, di kota bangun, ada  wisata alam danau semayang, pesut Mahakam ,air terjun di kedang ipil, di Muara Muntai ada perkampungan nelayan , dan pulau Nusa    tuna indah taman anggrek, di loa kulu ada desa budaya lung anai, dan sumber sari,di Muara Kaman ada situs yupa wisata relegi, dikunjungi warga bali yang beragama Hindu yang datang untuk berdoa.

 Setelah pemaparan dari tim dilanjutkan dengan diskusi dengan para peserta, Faria Fadila dari BLHD mengusulkan agar 18 Kecamatan yang mempunyai potensi wisata di masukan dalam Riparda, serta pihak Kesultanan menjadi rujukan dalam pengembangan wisata, Sopiar . S.Sos. M.Si dari Bappeda mengatakan dalam menyusun Visi dan Misi Parwisata Kukar hendaknya berciri khas sejarah dan budaya sebab Kukar tidak bisa terlepas dari kedua hal tersebut, serta pembangunan Meseum Tambang Batu Bara di Loa Kulu untuk mengenang Tambang peninggalan Kolonial Belanda tertua di Kaltim, semantara itu Sekretaris Kesultanan Kutai Harianto Bahrul mengatakan bahwa pariwisata memiliki multi efek salah satunya adalah peningkatan ekonomi kreatif, serta dalam membangun pariwisata harus punya ciri khas,  untuk kukar yaitu melayu kutai,misalnya  dari segi bentuk bangunan rumah yang mana selama ini ciri tersebut belum Nampak, dalam kesempatan yang sama Budi Warga seniman dan budayawan kutai menambahkan dalam RIPPDA yang disusun oleh tim adanya lembaga kesenian budaya yang akan menaungi para seniman, dan untuk pembinaan  kesenian di Kutai Kartanegara

Dibagian akhir diskusi Kepala Dinas Kebudayan Dan Pariwisata kab. Kukar  mengatakan ada 4 hal yang menjadi amanat RIPPARNAS (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional) yaitu 1. pembangunan Destinasi objek, 2.Atraksi,3. Pemasaran Periwisata, 4 Pembagunan kelembagaan pariwisata, sehingga RIPARDA  yang disusun tidak jauh berbeda dari  dari konsep RIPPARNAS diatas , hanya objek wisata yang strategis dan potensial saja yang dimasukan dalam RIPPDA sebagai contoh dalam RIPPARNAS hanya 16 kawasan strategis yang masuk dari 33 provinsi, sehingga Riparda yang terbentuk bisa menjadi patokan Pemda  dalam pengembangan Pariwisata,

RUMAH DARI KULIT KAYU, JADI PERHATIAN PENGUNJUNG EXPO FESTIVAL KEMILAU SENI BUDAYA ETAM 2014


Pada hari Rabu 12/11/2014 pukul 20.00 Wakil Guburnur Kaltim H.M Mukmin Faisal membuka Expo Festival Kemilau IX tahun 2014 ditandai dengan pengguntingan Pita di dampingi Kadis Budpar Kaltim H.M. Aswin serta Kepala Daerah dari Kabupaten Kota se Kaltim, setelah itu dilanjutkan mengunjungi Stand-Stand Pameran di Arena Expo.






Pada Kesempatan itu para rombongan Wagub langsung menghampiri Stand dari Dinas kebudayaan Dan Pariwisata Kukar, para rombongan langsung disambut oleh Kabid Pemasaran Disbudpar Kukar, Drs. Witontro, dan Kasi Promosi Wisata Drs. Heri, wagub beserta rombongan sangat menikmati dan betah dengan suasana stand dari Disbudpar yang mengambil konsep Rumah kutai tempo dulu yang terbuat dari kulit Kayu, ditambah lagi para tamu di suguhi Kue (jajak) khas Kutai berupa rebusan ubi, jagung, bolu, dan jajak Cincin, wagub pun menyantap satu persatu kue yang disuguhkan sesekali wagub melihat dan bertanya tentang rumah ini, cukup lama wagub beserta rombongan berada di Rumah Kutai tempo dulu ini , hingga pihak Panitia mengingatkan bahwa masih banyak stand expo yang akan ditinjau. Kepala Disbudpar Kaltim H.M Aswin sangat mengapresiasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar yang menghadirkan rumah Kutai tempo dulu di Expo ini



Keberadaan Kampung Kutai tempo dulu di Expo Kemilau tahun ini menyedot perhatian para pengunjung expo tidak sedikit dari  pengunjung yang mengabadikan dengan kamera ponsel, maklum stand Disbudpar Kukar tampil beda dengan yang lain, para pengunjung di sambut ramah oleh para Teruna dan Dara Kukar 2014, dan dipersilahkan mencicipi kue  khas kutai. Salah satu pengunjung yang bernama ibu Aisyah yang semasa kecil bermukim di wilayah pedalaman sungai Mahakam  mengatakan bahwa bangunan rumah dari kulit kayu mengingatkan ia pada masa behuma (sawah) yang mana pondok huma nya terbuat dari kulit kayu,






Semantara itu Kasi Promosi Wisata Disbudpar Kukar Drs. Heri mengatakan bahwa  stand Pameran disbudpar kukar mengambil Konsep rumah kutai tempo dulu yang sesuai dengan tema pada Expo Kemilau tahun ini yaitu  Expo Seni Budaya,  pada momen ini disbudpar kukar mempromosikan objek-objek wisata yang ada dikukar, melalui brosur, pamflet yang di bagikan kepada pengunjung


TIM PENILAI PANJI-PANJI KEBERHASILAN PEMBANGUNAN BIDANG KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KUNJUNGI KUKAR

Tim penilai Panji-Panji keberhasilan Pembangunan Bidang Kebudayaan dan Pariwisata  Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai melakukan penilaian di Kukar. Senin 10 November 2014,  tim terdiri  dari para akademisi dan swasta di antaranya Prof. Dr. Suharno. SE., MM, Ak. Guru Besar Fakultas Ekonomi Unmul, Sudarsono. SE Kasi Niaga / Jasa BPS Provinsi Kaltim, Ashari dari Disbudpar Kaltim, dan sebagai ketua Tim Drs.H.M Zulkipli. MA selaku Sekretaris Jenderal PHRI Kaltim



Kegiatan Tim di Kabupaten Kutai Kartanegara diawali dengan mendengarkan presentasi Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP tentang  pengembangan Pariwisata dan Kebudayaan Kukar Tahun 2014, menanggapi pemaparan tersebut tim menanyakan beberapa hal, namun secara umum tim puas atas penjelasan yang begitu lengkap dan detail



Ditempat   yang sama  Ketua Tim Penilai Drs.H.M Zulkipli. MA mengatakan bahwa Kabupaten / Kota dapat melengkapi data tentang kendala dan hambatan dalam mengembangkan industri Pariwisata dan Kebudayaan. Selain itu memberikan saran kepada pemerintah daerah dalam mengembangkan pariwisata hendaknya memperhatikan manajemen waktu dengan baik atau informasi yang benar dilapangan kepada wisatawan. Juri lain yaitu Sudarsono. SE menyarankan dalam mengembangkan Pariwisata jangan hanya memprioritaskan sisi pembangunan saja, tapi juga yang harus diperhatikan sisi pemeliharaan, dan pembangunan dunia pariwisata harus berdampak atau bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Semantara itu menurut Prof. Dr. Suharno. SE, MM Kepariwisataan ini menurutnya harus mencakup berbagai hal, baik dari sisi keunikan maupun akses yang mudah, aman, dan yang terpenting adalah sejauh mana peran masyarakat dalam pariwisata serta yang terpenting menurutnya adalah adanya manfaat Ekonomi bagi masyarakat sekitar.



Setelah itu dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa objek wisata yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara, antara lain Planetarium Jagad Raya  Tenggarong dan sungai Kedang Rantau Cagar Alam Muara Kaman. Didampingi Kepala  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar, Dra. Sri Wahyuni. MPP dan Kasi Pengelolaan Destinasi Wisata Aji Ali Husni. AB. SE., M.Si. Tim langsung mengunjungi Planetarium Jagad Raya dan melihat pertunjukan Film 3 dimensi tanpa kaca mata dalam kunjungan ini tim begitu antusias melihat perkembangan Planetarium Jagad Raya yang pertama di Kalimantan ini.

Setelah mengunjungi Planetarium Tim penilai melanjutkan kunjungan ke Kecamatan Muara Kaman bersama Kadis Budpar Kukar Dra. Sri Wahyuni, dan Kasi Data Dan Informasi Drs. Yanto Haryanto. M.Si untuk melihat secara langsung Habitat Pesut Mahakam, Burung Enggang, Bekantan dan Flora serta Fauna di kawasan cagar alam Muara kaman

Ditemui di sela-sela penilaian, Ashari dari Disbudpar Provinsi Kaltim  mengatakan bahwa Disbudpar Provinsi Kaltim sebagai pelaksana program kegiatan penilaian akan memberikan penghargaan kepada Kabupaten / Kota yang telah melaksanakan pembangunan dibidang Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2014 yaitu sebagai pemenang dan penerima Panji-Panji Keberhasilan Pembangunan Bidang Kebudayaan dan Pariwisata untuk kategori kabupaten / Kota. Dalam melakukan penilaian keberhasilan pembangunan akan melibatkan para Akademisi dan Swasta, yaitu penilaian dilakukan secara menyuluruh baik wisata maupun budaya. pungkasnya



PENJURIAN DAN PENENTUAN PEMENANG LOMBA PEDULI DAN KREATIF SAPTA PESONA 2014 (Pemanfaatan Daur Ulang Sampah Menjadi Barang Berguna)

 Dinas Kebudayaan Dan Parwisata Kab. Kutai Kartanegara, kembali menggelar Lomba Peduli Dan Kreatif Sapta Pesona 2014 ( Pemanfaatan Daur Ulang Sampah Menjadi Barang Berguna) lomba ini merupakan rangkaian acara dalam rangka memeriahkan hari jadi Kota Tenggarong yang ke 232 dan mensukseskan Kukar Sehat 2015. Tujuan dilaksanakannya lomba ini adalah agar masyarakat lebih Kreatif dalam mengolah sampah yang bisa dipakai dan di daur ulang, sehingga bisa dijadikan produk-produk yang bisa digunakan dan bernilai ekonomis.



Setelah melewati beberapa tahapan dari pendaftaran dan pengumpulan hasil karya, kemarin pada senin 3/11/2014 bertempat di ruang serba guna lantai 3 gedung B, dilaksanakan penjurian dan penentuan pemenang Lomba, adapun jumlah peserta yang mengikuti lomba ini sebanyak 55  peserta yang terdiri dari beberapa Katagori yaitu Tingkat SD sebanyak 3 Peserta, Tingkat SLTP 21 peserta, Tingkat SLTA 21 peserta, dan Tingkat Umum dan Mahasiswa 10 peserta.



Untuk menilai lomba ini Panitia Pelaksana menghadirkan Dewan juri yang terdiri dari 5 orang yang berasal dari Dinas pendidikan, Badan Lingkungan Hidup Daerah, Dinas Perindustrian perdagangan dan Koperasi, Forum Kabupaten Sehat dan Dinas kebudayaan Dan Pariwisata, aspek yang dinilai dalam lomba ini adalah Jenis Bahan Baku, Kuantitas Bahan Baku, Metode Pembuatan, Manfaat, Kreatifitas, Kerumitan, Biaya, Ergonomi



Setelah dewan juri melakukan Penilaian akhirnya terpilihlah juara untuk masing-masing katagori, untuk pemenang tingkat SD Juara I, Hanifah  Nama Karya Tempat Permen, Juara II, Siwa Salsabila Nama Karya Pot Bunga. Juara III Salsa Nama Karya Taplak Meja. Pemenang tingkat SLTP. Juara I Minawati dan Iqbal Nama Karya Keranjang Minuman, Juara II Nur Alifiya Taisha Nama karya Vas Bungan, Juara III Adillah Tshabiitah. S nama karya Vas Bunga. Pemenang Tingkat SLTA Juara I Alda Agustina nama karya Tas Tangan Kresek, Juara II Devi Lianawati nama karya tempat tisu daur ulang ku,  Juara III Eskul Kriya Cemerlang nama karya Bingkai Foto Tempat Pensil. Juara Tingkat Umum dan Mahasiswa. Juara I Heny Triana nama karya Burung Merak, Juara II Nia Regianya Setyawati nama karya Kap Lampu. Juara III Ropingi. S.Pd nama karya Tugu Sapta Pesona. Untuk masing pemenang lomba akan diberikan Tropy, Sertifikat dan Uang Pembinaan.

ULANG TAHUN SULTAN YANG KE – 90

 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar pada Jum’at, 31/10/2014 menggelar “ Kaseh Selamat” atau perayaan Ulang tahun ke 90 Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Haji Aji Muhammad Salehoeddin II, yang dilaksanakan di kampong Koetai.

 Perayaan Ulang tahun ke 90 Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Haji Aji Muhammad Salehoeddin II merupakan syukuran setelah dilaksanakannya Festival Kota Raja (FKR III) guna memeriahkan hari jadi Kota Tenggarong yang 232 yang telah berjalan lancar dan sukses, dan hal ini tidak lepas dari doa restu dari Sultan, hal ini dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP.

 Semantara itu Sekretaris Daerah Drs. Edi Damansyah yang hadir dalam acara itu mengucapkan selamat Ulang tahun yang ke 90 kepada Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Haji Aji Muhammad Salehoeddin II, dikatakan bahwa  keberadaan Sultan telah banyak memberikan nasihat dan Bimbingan dalam hal melaksanakan tugas sebagai pemerintah untuk melayani masyarakat serta Nasihat dalam kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga.

 Sultan sangat menyukai keberadaan Kampung Kutai ini, bahkan beliau pernah dua hari berturut datang kesini untuk sekedar menikmati suasana kampung Kutai. Selain hal itu kegiatan ini juga merupakan kejutan bagi sultan, karena sebelumnya beliau belum mengetahui bahwa acara syukuran yang dilkaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata sekaligus merupakan acara Kaseh Selamat, jadi beliau sangat terkesan ungkap Dedi, yang merupakan ajudan Sultan Haji Aji Muhammad Salehoeddin II

Acara tersebut selain dihadiri beberapa kepala bagian dilingkungan Sekretariat Daerah Kukar, juga dihadiri Pimpinan Bankaltim dan BRI Tenggarong sekaligus mengucapkan selamat Ulang Tahun kepada Sultan

DIALOG BUDAYA MASYARAKAT KUTAI

 Bertempat di area Festival Kampung Kutai, pada Senin  malam 13/10/2014  digelar acara dialog Budaya dengan menghadirkan tokoh budayawan dan Seniman dari Kota Raja Tenggarong, dialog ini membahas tentang Seni Budaya yang ada di Kutai Kartanegara, dan hal ini berkaian dengan Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong yang ke 232, ada pun narasumber yang dihadirkan adalah Sekretaris Kedaton Kutai Kartanegara HAP Gondo Prawiro, Erhamsyah Sadi, Adi Kuswara, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP yang juga sebagai Moderator pada diskusi ini.

 Ketika ditanya tentang Festival Kampung Kutai, HAP Gondo Prawiro mengatakan Diera globalisasi yang serba modern, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Dan Pemda Kukar masih ingat dengan Kampung Kutai, sebab miniatur Kampung Kutai ini sangat menarik dan mengingakan tentang kehidupan Kampung Kutai jaman dulu, dan kedepanya mungkin perlu untuk berdiskusi dengan arsitek kampung kutai, sebab bentuk-bentuk rumah kutai ada beberapa bentuk, menurut nya karena ini kampung kutai jaman dulu sebaiknya ada kegiatan seperti orang membuat / masak lemang, ngawah ( masak nasi di tempat kawah  besar) yang dilakukan secara bersama yang dilakukan oleh para pria. Karena ini merupakan budaya, dan budaya menghasilkan misalnya makanan, seperti jajak cincin dan lainnya, dan kalau perlu ada pohon buah bolok yang sering dinyanyikan namun tidak pernah melihat bentuk pohon dan buahnya yang terkenal itu.

 Begitu pun dengan Narasumber yang lain mengapresiasi keberadaan  dengan adanya kampung kutai ini, menurut seniman Erhamsyah Sadi (caca) ia kagum dengan desain kampung kutai jaman dahulu, namun karena ini baru awal ada beberapa hal yang diperhatikan, seperti rumah daun, dindingnya menggunakan dinding kajang, dan kedepanya, agar bisa menghadirkan kampung kutai sebenarnya, karena ini kampung kutai maka budaya dan adat istiadat kutai juga harus ada didalamnnya

Semantara itu menurut seniman yang juga budayawan kutai Adi Kuswara mengatakan Perkampungan kutai ini cukup bagus, ada 2 pondok pehumaan dan rumah rantauan Perkampungan kutai merupakan gambaran perkampungan masa lalu, dan ini sebagai upaya pelestarian budaya, supaya anak cucu kita tahu tentang rumah-rumah kutai tempo dulu. Dan menghimbau kepada para seniman agar bersama-sama membina dan mengembangkan seni dan Budaya Kutai.

 Dalam kesempatan itu sekretaris kedaton menampik bahwa ada anggapan  orang kutai itu “Pembayut” (Pemalas), dan hal itu tidak benar ini dibuktikan  pada abad ke II sudah berdiri kerajaan di tanah kutai yang merupakan kerajaan tertua di Indonesia, menurut dia mana mungkin orang pembayut bisa membangun sebuah kerajaan, adanya kota Balikpapan, samarinda, tenggarong dan kota bangun itu semua dibangun oleh orang kutai, jadi tidak benar bahwa orang Kutai Itu pembayut (Pemalas) dan orang pendatang merasa hebat, mungkin kata pembayut sebagai pemacu supaya orang kutai lebih maju lagi, pungkasnya

Semantara itu Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP mengatakan  rumah-rumah yang ada di kampung Kutai ini hanya bersifat semantara dan dalam jangka panjang, nantinya akan ada Perkampungan Kutai yang sebenarnya, dengan kehidupan dan adat istiadat Kutai didalamnya, menanggapi tentang Pembayut, Dra. Sri Wahyuni. MPP menmbahkan bahwa dari 10 Kabupaten / Kota di Kaltim 8 kota diantaranya merupakan eks Wilayah Kesultanan Kutai, itu mengambarkan betapa besarnya wilayah Kutai sehingga tidak benar bila orang Kutai dikatakan Pembayut,untuk itu jangan mau di katakan pembayut dan mari tunjuk kan kalau orang kutai bisa menjaga dan memelihara Kejayaan.

Penutupan Kampong Koetai Dan Pentas Seni





Minggu malam tanggal 19 Oktober 2014, Festival Kampong Kutai dan Festival Seni Nusantara dalam rangka Hari Jadi Kota Tenggarong ke-232  Tahun 2014 resmi ditutup oleh Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara Dra. Hj. Yuni Astuti, MM., acara yang ini telah berlangsung selama sepekan yang diisi dengan kegiatan khas kutai dari pagi sampai dengan malam hari, penutupan kampong koetai ini juga dihadiri ketua panitia penyelnggara dan tokoh masyarakat , seniman, dan budayawan, acara ini dirangkai dengan penampilan kelompok seni dan paguyuban yang ada di Tenggarong.





 Dimulai dengan penampilan sanggar Kutai Lestari yang menampilkan  tari Singkil Mayang yang merupakan tari untuk upacara bependian atau mandi – mandi, kemudian menari Jepen Cirup untuk upacara menanam padi dan menyanyikan beberapa lagu tingkilan dengan judul Ulang Tahun Tenggarong. Paguyuban Sunda menampilkan Seni Bela Diri Pencak Silat yang merupakan bagian seni bela diri dari Jawa Barat di iringi dengan hentakan gendang, terompet dan gong, terlihat seseorang yang sangat cekatan menampilkan seni bela diri tersebut diatas pentas tak hanya ini  Kelompok tiak belulaq dari kelompok Dayak Benuaq menampilkan tari penghormatan para tamu .Dalam Sambutannya Hj. Yuni Astuti selaku Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwiata merasakan senang dan bahagia  berkumpul dalam sepekan dalam kegiatan Pentas Seni Nusantara dalam rangka Festival Kampong Kutai yang telah terlaksana dengan tertib,lancar aman dan baik. Festival Kota Tenggarong yang ke-III telah melaksanakan berbagai macam kegiatan  yaitu Pemilihan Teruna Dara 2014, Festival Seni Nusantara , Festival Kampong Kutai, Tenggarong Kutai Carnival dan lampion ini semua untuk memeriahkan HUT Kota Tenggarong.













Tujuan Festival Kampong Kutai adalah untuk mengingat atau mengenang kehidupan nenek moyang etam dahulu dimana setiap hari sida embok dengan busu menyediakan makanan dengan masakan ala Kutai , dari ujung keujung rumah yang dibuat dari kulit kayu berhatapkan daun kajang dan disandingkan perubahan bahan pembuatan rumah yang lebih modern. “ mari kita lestarikan dan memperkenalkan keanak cucu dan generasi muda pada saat ini. Siapa lagi kalau bukan kita untuk melestarikannya”.Tenggarong merupakan Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara yang merupakan kerajaan tertua diindonesia, Tenggarong dikenal dengan Kota Raja oleh karena itu kita  tetap menjaga ketertiban, keramahan, kebersihan, keindahan dan keamanan Kota Tenggarong sebagai kota wisata tempat kunjungan wisatawan. Beliau juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih setinggi – tingginya kepada Bank Kaltim, Panitia Penyelenggara , masyarakat dan seluruh pihak yang telah mendukung sehingga dapat berjalan dengan baik dan lancar. Setelah itu acara dilanjutkan dengan penampilan dari Paguyuban Banyuwangi yang menampilkan seni tari yang berjudul Penggawa Panii Belambangan.



Sultan Menikmati Suasana Di Kampong Koetai





Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara yang menyelenggarakan Festival Kampong Koetai mendapatkankan kunjungan dari Sultan Kutai Kartanegara HAM Salehoeddin II, beliau mengunjungi arena Sepekan Kampong Kutai Tempo Dulu, sekaligus menikmati gambaran suasana pemukiman masyarakat Kutai asli. beliau mengatakan "Sudah dua hari berturut - turut saya kesini, karena saya suka dan menikmati suasana seperti ini," saat Sultan Kutai ke-21 tersebut berada di salah satu bangunan berdinding nipah di Kampong Koetai tersebut.



Saat berada salah satu rumah berdinding dan beratap nipah tersebut Sultan Kutai Kartanegara HAM Salehoeddin II diterima langsung oleh Kepala Dinas dan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP., dan Dra. Hj. Yuni Astuti. semua tamu yang hadir mencicipi salah satu masakan khas Kutai yang telah di masak secara tradisional yaitu Bubur Jalo. 

Sultan Kutai Kartanegara HAM Salehoeddin II sangat mengapresiasi kegiatan Sepekan Kampong Kutai Tempo Dulu ini, menurut beliau kegiatan tersebut sangat tepat untuk melestarikan adat dan tradisi masyarakat, agar generasi saat ini bisa melihat dan melestarikannya, kemudian juga bagus untuk daya tarik wisata dan kegiatan itu bisa menunjukkan dan mengingatkan kembali suasana di perkampungan masyarakat Kutai puluhan tahun lalu. "Dulu dilingkungan istana kami juga punya pondok seperti ini untuk bersantai, sekaligus menikmati suasana kampong, beliau berarap bangunan yang ada di arena Sepekan Kampong Kutai Tempo Dulu itu tidak di bongkar.






Dra. Sri Wahyuni. MPP. mengatakan mengenai rumah yang ada karena letaknya di jalur hijau ditepi sungai mahakam, maka bangunan  Kampong Kutai tersebut tidak dibuat permanen dan akan di bongkar usai kegiatan dan "Insyaallah kami akan memindahkan atau membuat bangunan serupa yang permanen rencananya di areal Museum Kayu,". Kehidupan masyrakat asli Kutai yang ditampilkan pada Sepekan Kampong Kutai Tempo Dulu, sebagai kegitan Festival Kota Raja (FKR) dalam rangka memeriahkan hari jadi Tenggarong ke- 232. Kegiatan yang akan dilaksanakan pada 13 - 19 Oktober 2014 mengambil lokasi di areal parkir Skate Park Timbau, Tenggarong.

Dra. Sri Wahyuni. MPP. menambahkan Terdapat 9 bangunan rumah yang disiapkan, terdiri dari 2 bangunan kulit kayu, 4 berbahan daun nipah, dan 4 berbahan papan kayu. Tiga jenis bangunan tersebut menggambarkan tahapan perkembangan arsitektur bangunan asli rakyat Kutai tempo dulu. Pada kegiatan Sepekan Kampong Kutai tersebut akan disimulasikan kehidupan sehari-hari penduduk asli Kutai, yaitu ada yang berprofesi sebagai petani dan nelayan. Kemudian ada juga yang berjualan kue-kue dan panganan tradisional khas Kutai, disini ditampilkan juga simulasi pembuatan gula merah dan alat-alat tangkap nelayan tradisional.


Malam Ramah Tamah RAKERNAS ASITA Bersama Bupati Rita Widyasari. S.Sos. MM.


Kehadiran tamu undangan dari Rakernas Ke III Association of the Indonesian Tour & Travel Agencies (ASITA) disambut pejabat strukural Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam acara  Ramah Tamah Bupati Kutai Kartanegara dihibur oleh  Band Orkes Kedaton asal Tenggarong yang menyanyikan lagu- lagu bernuansa dansa. Rombongan Rapat Kerja Nasional Association of the Indonesian Tour & Travel Agencies (ASITA) yang ke- III dari 19 Dewan Pelaksana Daerah ASITA hadir berdatangan dan langsung menempati meja yang telah disiapkan oleh panitia.

Dalam sambutan tertulis Bupati Kutai kartanegara yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Drs. Edi Damansyah, M.Si., memaparkan visi dan misi serta kebijakan mengenai Kepariwisataan Daerah, perbaikan akses transportasi menuju  Destinasi Wisata serta memperbaiki jalur transportasi Darat, Air maupun Udara sehingga keterbatasan untuk menjangkau disetiap Kecamatan dapat berjalan dengan lancar baik itu hak Pemerintah Daerah Maupun Jalan yang di pelihara oleh negara untuk terus didorong pembangunannya. Bupati juga mengharapkan dengan diselenggarakannya Rapat Kerja Nasional Asosiasi Travel Agent ini dapat membantu dan mendatangkan wisatawan lokal maupun asing untuk berwisata di Tenggarong Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur dengan mempromosikan daerah kerajaan Hindu Tertua di Indonesia.

Dilain sambutan Ketua ASITA Indonesia Asnawi Bahar mengatakan “Kami pilih Kalimantan Timur dan khususnya Kutai Kartanegara adalah sebuah misi agar destinasi yang ada di Indonesia lebih dikenal, agar tidak hanya destinasi yang sudah terkenal saja yang diangkat,”. Bersiap siaga menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, Association of the Indonesian Tour & Travel Agencies (ASITA), Menurut Asnawi, industri pariwisata merupakan sektor industri yang memiliki sumber daya manusia paling siap menghadapi MEA 2015. Sebab, industri pariwisata memiliki banyak sertifikasi kerjasama dengan pemerintah dan memiliki LSU yang telah disahkan oleh pemerintah. Nantinya, dalam rapat ini akan dibahas susunan rancangan program pengembangan pariwisata yang akan direkomendasikan kepada presiden terpilih Joko Widodo.

UPACARA ADAT KUTAI, NAIK AYUN


 Bertempat di Kampong Koetai  Pada hari Sabtu 18/10/2014 berlangsung prosesi Naik Ayun yang dihadiri oleh Pejabat struktural dilingkungan Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara dan para Peserta  Rakernas Asita III, serta para penonton yang memadati halaman Parkir Kampung kutai yang ingin menyaksikan secara langsung prosesi Naik Ayun.


 Acara Naik ayun merupakan upacara adat menaikan untuk pertama kalinya seorang anak yang baru lahir yang berumur 40 hari ( kurang lebih 2 (dua ) Bulan)  kedalam ayun. Naik ayun sendiri bermakna pemberian doa dan restu agar anak memperoleh berkah, Sebelum upacara naik ayun di mulai, maka di dahului dengan pemberian nama atau Tasmiyah yang didahuui dengan Pembacaan Ayat suci Al-Qur’an. Ketika seorang anak yang lahir pada bulan Syafar maka sebelum dilaksanakan acara naik ayun maka wajib didahului dengan acara betimbang (menimbang anak) yakni anak terlebih dahulu ditimbang diatas dacing (alat timbangan) secara berturut-turut dengan kitab suci Al-qur’an, segelas air, buah-buahan serta sayur-sayuran.


 Setelah pemberian nama (Tasmiyah) selesai dilaksanakan, maka selanjutnya adalah menaikkan anak ke ayun dan Pemotongan rambut, yang diiringi dengan pembacaan berzanji (puji-pujian ke pada Rasulullah SAW), anak di gendong oleh seorang wanita “tetuha” keluarga yang berdiri diatas tilam kasturi dan secara bergilir laki-laki sesepuh keluarga atau pemuka masyarakat yang hadir bergantian memasukan anak ke dalam ayun seraya di tempung tawari dan ditaburi beras kuning.

 Setiap kali anak selesai dimasukan kedalam ayunan maka selembar kain dikeluarkan dalam ayunan, ini dilakukan sebanyak 5 (lima) kali berturut-turut rambut yang sudah dipotong dimasukan ke dalam buah kelapa gading, setelah itu dilanjutkan dengan acara mengedarkan ayam putih dan sebatang lilin yang menyala mengitari ayun dari sebelah kanan ke kiri sebanyak 3 kali, lolong ayam di lukai dan dioles kedua alis anak yang disebut becerak darah, selanjutnya lilin dimatikan dan jelaga pada sumber lilin di oleskan di dahi anak yang disebut becerak lilin.

 Setelah itu dilanjutkan dengan acara Tumbang Apam dan Nasi Rasul, yaitu anak yang naik ayun di gendong ibunya yang didampingi ayah serta saudaranya, yang berdiri diatas kain atau tajong yang berlapis, lalu Nasi Rasul dan Lilin yang menyala diangkat setinggi kepala,Nasi rasul dicicipi oleh anak dan kedua orang tuanya, semantara acara berlangsung diselingi dengan Selawat ke pada nabi Muhammad SAW, yang dibarengi dengan behambur beras kuning dan uang logam.

Sebagai akhir acara ibu yang menggendong bayinya didudukan diatas tilam kasturi, anak dicicipi pisang, bertus dan Nasi Rasul, kemudian anak di “Pelas” dengan acara diinjakkan kakinya pada besi dan Batu (Penunggu Ayun) kemudian segumpal tanah dan digenggamkan emas dan Perak, kemudian ibu dan anak di tempung tawari, dicecapi air bunga dan kepada ibu diisyaratkan mematikan lilin, sebagai Penutup oleh ibu dan Sanro (orang memimpin upacara) ditarik “ketikai lepas” sebagai ungkapan rasa syukur bahwa hajat untuk pelaksanaan naik ayun sudah selesai dengan selamat