Foto 1

Foto 2

Kirab Budaya

Kirab Budaya

Mendirikan Ayu

Seremoni Pembukaan Erau Adat Kutai And International Folk Arts Festival 2016

Foto 3

Closing

Tarian Dewa Erau

Bukit Bangkiray

Statistik

Hit hari ini : 253
Total Hits : 740,383
Pengunjung Hari Ini : 82
Pengunjung Online : 3
Total pengunjung : 163,277

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 40 Next > Last >>

Rapat Paripurna Istimewa DPRD Dalam Rangka HUT Tenggarong


Dalam rangkaian hari jadi Kota Tenggarong yang ke 234 bertempat di DPRD Kutai Kartanegara Rabu (28/9) dilaksanakan Rapat Paripurna Istimewa dengan acara mendengarkan Pidato Bupati Kutai Kartanegara, yang dibacakan Wakil Bupati Kukar Edi Damansyah menyampaikan bahwa, Kota Tenggarong diusianya yang sudah menapak ke 234 semakin berkembang dengan hasil pembangunannya yang dirasakan bersama.





Dikatakannya, peringatan hari jadi Tenggarong setiap tanggal 28 September itu, adalah momentum yang sangat penting untuk introspeksi dan evaluasi serta untuk melakukan perencanaan ke depan yang lebih baik, dan kita semua harus bersinergi di bawah visi yang sama melalui Gerakan Pembangunan Rakyat Sejahtera (Gerbang Raja).








Disampaikannnya, berbagai prestasi dan keberhasilan pembangunan periode yang lalu patut disyukuri, karena sebagian besar telah melampaui apa yang direncanakan atau di atas target. Menurutnya, Gerbang Raja telah membawa Kukar kearah berbagai bentuk prestasi dan apresiasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. "Semoga keberhasilan itu akan terus mendorong kita memperoleh prestasi yang lebih baik pada masa yang akan datang. Kami percaya semua yang sudah dicapai selama ini adalah hasil kerja keras dari semua pihak, yang harus disyukuri bersama sebagai anugerah yang diberikan Allah SWT," ujarnya.









Kedepan, dikatakannya masih  banyak  yang  harus dilakukan seluruh jajaran birokrasi pemerintah daerah untuk bekerja lebih keras lagi, karena pelaksanaan pembangunan masih ada pencapaian yang belum optimal. Untuk maksud tersebut,  Pemkab berharap dukungan dan kerjasama seluruh anggota DPRD serta berbagai komponen lainnya, untuk melaksanakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kukar 2016 - 2021, sebagaimana telah ditetapkan berdasarkan PERDA No. 03 Tahun 2016.




 





Bupati sangat sependapat tentang pentingnya konsistensi dan komitmen bersama dari segenap pihak, termasuk dari Dewan yang terhormat, untuk tetap mendukung dan melaksanakan RPJMD Kukar 2016 – 2021, untuk terwujudnya Kukar yang maju, mandiri, sejahtera dan berkeadilan sebagaimana yang kita cita-citakan bersama. "Saya menyampaikan terima kasih atas segala perhatian yang diberikan DPRD dalam upaya kesempurnaan RPJMD Kukar 2016 - 2021," ujarnya. Rapat paripurna yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD Kukar Guntur tersebut, dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Sekda Kukar H Marli beserta segenap Kepala SKPD Kukar, serta undangan lainnya




Ziarah Makam Raja-Raja Kutai, Awali HUT Kota Tenggarong


 Setiap tanggal 28 September diperingati sebagi hari jadi kota Tenggarong yang tahun ini menginjak usia yang ke 234 tahun, untuk mengenang jasa para pendiri kota Tenggarong, Pemkab melalui Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kukar, Rabu (28/09) menggelar ziarah makam raja-raja kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, ziarah diawali ke makam Pendiri Kota Tenggarong yaitu Sultan Kutai yang ke 15 Aji Muhammad Muslihuddin yang lebih dikenal dengan sebutan Aji Imbut





 


Kegiatan ziarah di makam Aji Imbut yang berada di kompleks Museum Mulawarman ini diikuti oleh  Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura HAM Salehoeddin II, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura HAP Adipati Praboe Anoem Sorya Adiningrat beserta kerabat, Wakil Bupati Kukar Edi Damansyah bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kukar diantaranya Kapolres Kukar AKBP Fadillah Zulkarnaen, Kajari Kukar Kasmin, PN Tenggarong Makmur dan Wakil Ketua DPRD Guntur,  Sekda Kukar Marli serta  Kepala SKPD di lingkungan Pemkab Kukar.







Bupati Kukar dalam sambutan tertulisnya yang disampaikan Edi Damansyah  mengatakan Sejarah kota Tengggarong dimulai ketika Aji Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September 1782. Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan dianggap telah kehilangan tuahnya. Nama

Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti Rumah Raja, lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini.







Menginjak usianya yang telah dua abad lebih ini, kota Tenggarong semakin berbenah dalam setiap aspek pembangunannya. Hal ini merupakan kerja keras warganya yang ingin agar kota ini nyaman dan aman untuk dihuni. Kedepan Pemkab Kukar akan menjadikan Tenggarong sebagai kota yang dilengkapi sarana dan prasarana kota yang memadai. Selain itu, kota ini juga akan dikembangkan menjadi pusat budaya, pendidikan, ekonomi dan investasi yang penting di masa depan.





"Untuk mendukung hal itu kini telah dilakukan pembangunan berbagai fasilitas seperti diantaranya pusat pendidikan dari perguruan tinggi hingga Sekolah Unggulan, Rumah Sakit dan fasilitas infrastruktur lainnya," ujarnya. Lebih lanjut dikatakan Wabup Kukar, Ziarah ke makam yang dilakukan pada hari ini merupakan bagian dari sunnah Nabi Muhammad SAW. Dengan berziarah, kita akan selalu mengingat mati. Sehingga dengan selalu mengingat mati, kita jangan pernah melakukan hal-hal yang tidak sesuai aturan. Ziarah ke makam leluhur dimaksudkan untuk mengambil hikmah dari keteladanan yang telah diberikan. Karena banyak yang harus kita teladani dari para pendahulu ini.





Oleh sebab itu tidak ada salahnya jika kegiatan semacam ini perlu terus kita laksanakan dan kita pelihara. Pada dasarnya manusia selalu diperingatkan untuk senantiasa mampu menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Persatuan dan gotong royong adalah syarat bagi kita untuk menjadikan Kutai Kartanegara tetap bermartabat di Kalimantan Timur, bermartabat di mata Indonesia,". Dalam kesempatan itu juga dibacakan sejarah berdirinya Kota Tenggarong yang dibacakan Camat Tenggarong Mulyadi








Erau Juara Pertama Di Kategori Festival Budaya Terpopuler


Festival  adat budaya Erau  Kutai Kartanegara (Kukar) yang telah menjadi agenda kalender nasional, mendapat apresiasi dari para voter atau pemilih sebagai salah satu event atau destinasi wisata yang memiliki daya tarik dan diminati, hasil kerjasama Ayojalanjalan.com  dan  Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (RI).  Hal ini dibuktikan dengan terpilihnya Festival Budaya Erau sebagai pemenang pertama  katagori Festival Budaya Terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2016 di Kementerian Pariwisata RI, Jumat (16/9) malam lalu yang penyerahan penghargaannya diberikan oleh Menteri Pariwisata RI Arief Yahya kepada  Bupati Kukar Rita Widyasari.







Festival Erau menyingkirkan 9 nominator katagori festival budaya terpopuler salah satunya Jember Fashion  Carnival (JFC) yang menjadi pemenang kedua dan festival Teluk Jailolo sebagai peringkat ketiga. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Anugerah Pesona Indonesia (API) 2016 hasil kerjasama antara ayojalanjalan.com dengan Kementerian Pariwisata menjaring voter atau pemilih melalui media sosial.  Dari hasil data pemungutan suara yang telah direkapitulasi, terdapat 53.097 suara dari seluruh kategori yang memilih.







Anugerah Pesona Indonesia (API) merupakan rangkaian kegiatan tahunan yang diselenggarakan dalam upaya membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap pariwisata Indonesia serta mendorong peran serta berbagai pihak terutama pemerintah daerah untuk lebih berupaya mempromosikan pariwisata di daerahnya masing-masing.







Sementara itu, Bupati Kukar Rita Widyasari merasa bangga dan sangat senang dengan penghargaan yang diperoleh tersebut.   Rita mengungkapkan, awalnya ia tidak menyangka Erau menjadi pemenang, karena dalam katagori tersebut ada JFC yang sudah sangat terkenal dan 8 nominator lainnya yang kesemuanya merupakan festival - festival budaya yang sudah tidak asing lagi di Indonesia.  "Sangat bangga dan tak menduga bisa menang, karena disitu ada JFC yang sudah sangat terkenal, kita aja banyak belajar dari JFC," ujar Rita.






Dikatakan Rita,  menangnya Erau sebagai peringkat pertama tersebut diharapkan dapat mendorong Pemkab Kukar untuk lebih meningkatkan lagi pelaksanaan kegiatan festival erau ditahun - tahun mendatang.  Selain itu juga sebagai motivasi untuk terus menggali potensi - potensi wisata yang ada di Kukar, seperti wisata pulau kumala dan wisata lainnya.  "Keberhasilan ini didapatkan karena banyaknya pengunjung dan masyarakat yang selalu antusias untuk menyaksikan erau dan  ini juga mendapat pengakuan dari Kementerian Pariwisata dan para voter sehingga erau mendapatkan peringkat satu pada API 2016," kata Rita.

Lebih lanjut Rita mengungkapkan API ini merupakan acara yang sangat bergengsi  karena banyak obyek - obyek wisata di daerah di Indonesia ini  yang belum banyak tergali yang akhirnya dapat diketahui melalui API ini, yaitu melalui salah satu kategori yaitu surga tersembunyi yang juga mendapatkan apresiasi dari Kementerian Pariwisata.







Rita mengharapkan kedepan tidak hanya festival Erau saja yang bisa masuk dalam Anugerah Pesona Indonesia, namun obyek - obyek wisata yang lain bisa menjadi pemenang dalam katagori - katagori yang diperebutkan.  "Saya berharap tidak hanya erau aja, namun yang lain juga bisa, seperti  kuliner, wisata alam dan juga mungkin ada surga tersembunyi yang ada di Kukar yang belum kita gali," harap Rita






Merebahkan Ayu



Merebahkan Tiang Ayu merupakan prosesi sakral terakhir yang menandai berakhirnya perhelatan Erau Adat Kutai Pelas Benua 2016. Pada prosesi ini, pusaka Sangkoh Piatu (Tiang Ayu) yang didirikan di tengah Ruang Stinggil Keraton kembali direbahkan pada posisinya semula, yang berlangsung  Senin 29/8 yang dipimpin langsung oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Haji Aji Muhammad Salehuddin II dan Kerabat Kesultanan  bersama camat Tenggarong Mulyadi.






Hadir pada prosesi tersebut Wabup Kukar Edi Damansyah,  Ketua DPRD Kukar Salehuddin, Dandim 0906/Tgr Letkol Ari Pramana Sakti, dan Kabag Humas Protokol Setkab Kukar Dafip Haryanto Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HAP Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat,  serta para kerabat kesultanan Kutai.










Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dan tampak para undangan tampak hikmat mengikuti  nya dalam sambutan nya Sultan Kutai Kartanegara yang diwakili Pangeran Ario Adzuar Poeger mengatakan bahwa dengan direbahkan Tiang Ayu maka berakhir pula seluruh rangkaian acara adat Erau Kutai yang dimulai dari besawai sampai merebahkan tiang ayu ini, dan ucapan terimakasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara atas dukungan, dan kepada semua yang terlibat dalam acara ritual adat seperti para Dewa, Belian, Pangkon, serta para pengawal, pungkasnya.






Setelah prosesi Merebahkan Ayu, seluruh Kerabat Kesultanan, Para undangan, Belian, Dewa, Pangkon, dan para abdi tampak bersalaman untuk berpamitan dengan Sultan HAM Salehuddin II dan Putra Mahkota.










Untuk diketahui, menurut sinopsis dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Ayu adalah senjata raja Kutai Kartanegara pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti yang disebut juga Sangkoh Piatu. Pada Ayu yang menyerupai tombak tersebut diikatkan Tali Juwita dan Kain Cinde dan pada puncaknya dihiasi janur kuning, daun sirih, serta buah pinang yang terbungkus kain kuning.










Rebah Ayu merupakan lambang kerahayuan, yang bermakna sebagai harapan semua masyarakat Kutai hidup sejahtera, makmur, bahagia, rukun, dan damai atas rida Tuhan Yang Maha Esa












Closing Ceremony EIFAF 2016


Seluruh tim delegasi Partisipan EIFAF 2016 serta para undangan menghadiri acara penutupan  Erau Adat kutai dan International Folk Arts Festival  dalam rangkain acara tersebut seluruh delegasi menunjukan performance didepan para undangan dan bahkan group dari Indonesia tampil dua group yaitu jepen dan belian sentiu dan ini adalah penampilan terakhir dari group kesenian mancanegara maupun dari  Indonesia.






 


Dalam kesempatan ini Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari mengapresiasi seluruh panitia yang telah sukses menyelenggarakan Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) 2016, acara yang berlangsung meriah di Gedung Putri Karang Melenu (PKM) Tenggarong Seberang, Minggu (28/8).






”Terimakasih atas dukungan dan kerja keras semua panitia yang telah sukses menyelenggarakan EIFAF, terkhusus pihak kesultanan Kutai Ing Martadipura yang telah memberikan masukan dan pemikiran, mudah-mudahan ke depannya akan lebih baik lagi,” kata Rita.

Tidak hanya itu, Rita juga menilai pagelaran Erau tahun ini sangat luar biasa. “Saya bahagia sekali bisa mengikuti penutupan Erau, mudah-mudahan tahun depan kita tidak defisit dan bisa menambah banyak lagi negara-negara yang datang ke Kutai Kartanegara. Mari kita bergaul dengan baik dan menghormati budaya bangsa lain,” ujarnya.



 





Ditambahkan Rita, festival budaya ini harus terus dilestarikan sebagai kecintaan kepada warisan leluhur, sekaligus menjadi wadah apresiasi para pecinta seni serta sebagai hiburan bagi masyarakat yang menyaksikannya secara langsung.

“Budaya itu tidak mengenal politik, budaya itu hanya mengenal kegembiraan, kebahagiaan dan juga persaudaraan sehingga siapapun yang menonton dan mencintai seni budaya pasti memiliki pesona dan menyampaikan kedamaian di daerah dan mencintai warisan leluhur,” ujar Rita.


 





Hadir pada acara malam closing ceremony tersebut Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kukar, Wakil Bupati Kukar Edi Damansyah, Plt Sekda H Marli, kepala SKPD di lingkungan Pemkab Kukar.


 





Di akhir acara, Bupati Kukar Rita Widyasari menyerahkan piagam penghargaan kepada seluruh delegasi peserta EIFAF, dilanjutkan dengan menari tarian jepen.


 



 


Ngulur Naga Erau 2016









Erau Adat Kutai And International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2016, telah berlangsung selama sepekan di Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara, di hadiri Sultan Kutai H. Adji Mohamad Salehoeddin II, Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat, Kerabat Kesultanan Ing Martadipura dan Jajaran Pemkab Kutai Kartanegara, Kasdam, Kejaksaan Tinggi Kaltim, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari,P.Hd, Wakil Bupati Drs. Edi Damansyah,M.Si, Ketua DPRD Kutai Kartanegara, Kapolres Kutai Kartanegara, Dandim 0609 Tenggarong, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni, MPP., dan Pimpinan serta tim kesenian 10 negara anggota International al Council of Organizations of folklore Festivals and Folk Art ( CIOFF ).






Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari,P.Hd., menutup secara resmi Erau Adat Kutai And International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2016, Prosesi Puncak Kemeriahan Erau Adat Kutai and International Folklore And Art Festival ( EIFAF ) di tandai dengan prosesi mengulur naga. Prosesi ini di gelar di halaman Keraton Kesultanan Ing Martdipura, Replika Naga akan menyusuri sungai mahakam dan berakhir di Kutai lama, Anggana.




Dua ekor naga yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kepala terbuat dari kayu yang di ukir mirip kepala naga dan di hiasi sisik warna warni dan diatas kepala terpasang ketopong ( mahkota ), di bagian leher terdapat kalung yang dihiasi kain berumbai warna warni. Bagian leher yang berkalung di sammbungkan kebagian badan yang terbuat dari rotan dan bambu, dan di bungkus dengan kain kuning. Pada kain kuning ini disusun sisik - sisik ular besar. Badannya seakan - akan seekor naga yang siap berjalan kearah tujuannya, bagian ekor terdiri terbuat dari kayu yang telah diukir menyerupai seekor naga.






Selama tujuh hari tujuh malam dua ekor naga ini telah di semayamkan di bagian serambi kanan keratin untuk naga laki, dan di bagian bawah sekitar dada di taruh / di tempatkan masing - masing penduduk lengkap dengan isinya di hadapan serambi kiri kanan tempat naga bersemayam terdapat titian di sebut rangga titi tempat naga di turunkan yang di hampari kain kuning untuk menuju sungai, sebelum naga di turunkan dari persemayamannya ada prosesi persembahan oleh dewa belian memberi jamuan dan besawai bahwa naga akan di turunkan. Selesai ritual oleh dewa belian 17 orang laki - laki berpakaian lengkap ( celana panjang batik, baju cina lengan panjang putih, sarung diikatkan di pinggang dan di kepala diikatkan potongan kain batik di sebut pesapu ). Mulai bergerak mengangkat kedua naga tersebut bersamaan dan mulai menuruni titian menuju sungai, sedangkan dewa belian berjalan di bagian muka sebagaian muka sebagai kepala jalan sebagai kepala jalan sambil membawa perapen / persepan.







Saat perjalanan naga menuju ke sungai di hantar oleh empat orang pangkon laki dan empat orang pangkon bini dan seorang membawa molo / guci untuk untuk mengambil air tuli yang di apit oleh dewa belian laki bini yang membawa perapen / persepan. Sedangkan di kiri dan kanan dua naga di apit oleh prajurit yang berpakaian lengkap dan membawa tombak. Sesampainya di tepi sungai ( pelabuhan ) dewa belian melakukan memang dan dua ekor naga di naikkan keatas kapal ( perahu motor ) dengan posisi menghadap kehaluan / depan kapal. Kapal dan pengiring naga bertolak ke ulu sungai menuju kepala benua sebagaimana titik awal prosesi menjamu benua dan berputar - putar sebanyak tiga kali baru menuruni sungai ke hilir. Dalam perjalanan tepatnya di pamerangan desa jembayan loa kulu, perjalanan kapal di tampatkan, alunan gamelan di bunyikan dan dewa belian be mamang untuk pemberitahuan kepada sekalian penghuni / penduduk / masyarakat gaib di sekitar pamerangan bahwa naga sedang di turunkan menuju tepian batu kutai lama, anggana. Selepas wilayah pamerangan, kapal membawa naga melaju kembali hingga di tepian aji samarinda seberang, di tepian aji ini di sambut dengan acara ritual tokoh - tokoh suku bugis, kapal melambat dan dewa belian bemamang sambil mengalunkan gamelan, juga sebagai pemberitahuan bahwa prosesi naga sedang di turunkan di kutai lama, sesampainya di kutai lama dewa belian bemamang dan alunan gamelan di mainkan, kapal berputar di tepian batu kutai lama, di Tepaian Batu ritual penyambutan di lakukan oleh para tokoh - tokoh masyarakat kutai Lama dan para pengiring naga sambil menurunkan / melaboh dua ekor naga di tengah masyarakat Kutai Lama.






Sebelum naga tenggelam, bagian kepala naga tepatnya di daerah kalung naga harus di sembelih / di potong, begitupun di bagian ekor di potong. Bagian kepala dan ekor naga yang telah di potong di bawa kembali ke Tenggarong untuk di semayamkan hingga acara ngulur naga yang akan datang. Saat prosesi ini air tuli di ambil untuk belimbur. Badan naga yang telah terpotong, menjadi perebutan masyarakat yang menghadiri prosesi ini dengan mengambil sisik - sisiknya dengan berbagai macam tujuan yang bersifat mistis. Ada yang berperahu dan berenang mendekati badan naga yang siap di sisiki oleh para pengunjung, secara perlahan, kerangka badan naga tenggelam di tutup gelombang / riak - riak air menghantarkannya ke dasar sungai. Kapal pembawa naga kembali ke tenggarong dan di semua kampong/ desa yang di lewati terjadi acara belimbur massal sebagai unsur kehidupan.




Belimbur bermakna penyucian diri dari pengaruh jahat sehingga orang orang yang di limbur kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah, serta lingkungan dan sekitarnya juga bersih dari pengaruh jahat.


Tampilan Terakhir Pentas Seni






Tampilanan terakhir pada sabtu tanggal 27 Agustus 2016 yang dimulai pada pukul 19.30 Wita. Pentas seni yang berlokasi di Taman Ulin Tenggarong ini mampu menyedot perhatian penonton yang datang menyaksikan pertunjukan pentas seni  tersebut. Tampilan yang disuguhkan pada malam itu dari delegasi Indonesia ditampilkan dari Kecamatan Tabang dan dari group kesenian Handil Borneo Etam dari Kecamatan Muara Jawa, sedangkan dari delegasi folklore yaitu dari Negara Urainian, dan Negara Taiwan A.




Tampilan pertama disuguhkan dari tuan rumah Indonesia yaitu dari Kecamatan Tabang, kemudian dari Negara Ukrainian yang menampilkan tarian dan nyanyian , yanyian yang dinyanyikan oleh Negara Ukrainian dengan tiga (3) bahasa yaitu Bahasa Ukrainian, Bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, serta perwakilan dari Ukrainian Nona Larisa dengan fasihnya bebahasa Kutai, dia menyebutkan “saya gawal dengan orang kutai” tepuk tangan penonton pun riuh dengan ucapan Nona Larissa tadi.



  


Selanjutnya tampilan dari tuan rumah lagi yaitu dari Handil Borneo Etam yang menampilakn tari jepen pesisir, tari ini menceritakan kegiatan gadis – gadis pesisir yang menjalani keseharian di pinggiran sungai Mahakam etam seperti mencuci dan bermain .




Tak kalah juga penampilan dari NegaraTaiwan yang menampilkan 3 tarian sekaligus, tarian pertama bertema tarian bunga yang bertebaran di Negara Taiwan, tarian berikutnya bertema tarian seorang putri yang turun dari langit, dan tarian terakhir dari Taiwan ini adalah tarian kegembiraan masyarakat Taiwan dalam menyambut tahun baru cina.


Upacara Adat Ngamen



Group Kesenian dari Uyai Tiga Tampil di Amin Biok Pulau Kumala pada hari Sabtu  tanggal 27 Agustus  pukul 01.00 Wita dengan membawakan Persembahan Upaca Adat Ngamen yang artinya Membuka Lahan Baru untuk Desa Suku Dayak Kenyah. Upacara Adat ini biasanya dilakukan pada saat suku dayak kenyah yang ingin berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Tujuan dari Upacara Adat ini dilaksanakan yaitu agar desa yang baru ditempati tersebut makmur dan sebagai ritual untuk mengusir dan melindungi desa dari roh jahat yang ingin menggangu desa mereka tersebut.




Upacara adat ini mampu menyedot pengunjung yang datang menonton dan membuat penonton terpukau melihat penampilan mereka, walau pun cuaca yang cukup panas tidak menyurutkan minat penonton untuk menyaksikan penampilan acara adat Ngamen yang artinya “membuka lahan baru tuk desa mereka”.

Tampilan acara adat ini adalah rangkaian dari acara Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival Tahun 2016 yang dilaksanakan di Tenggarong Kutai Kartanegara.



Polandia Menari



Group Kesenian Asal Negara Polandia  hadir dalam Pelaksanaan  Pesta Adat Erau dan Internasional Folk Art Festifal (EIFAF) Tahun ini. Group Kesenian yang berdiri sejak 71 tahun yang lalu ini merupakan satu dari tiga group tertua di Polandia, bertempat di Lapangan Basket Turapan Sungai Mahakam Tenggarong pada hari Jum’at tanggal 26 pada pukul 19.30. Group Kesenian asal Polandia tampil memukau dengan mempersembahkan tarian Tradisi yang ada di Szamotuly. Group ini terdiri dari anak-anak dan orang dewasa yang berusia 6 – 72 Tahun. Group ini menyampaikan tariannya dengan bahasa halus dan santun yang didalamnya memasukan ritual nyayian, tarian dan irama.




Polandia juga terkenal dengan tarian yang mempunyai ciri khas Spontanitas, dinamika, langkah yang cepat dan juga kebebasan dalam bergerak dan sangat riang, Bagian yang sangat diperlukan dalam tarian ini adalah busana yang penuh warna tarian ini mempertontonkan keindahan.




Selain Polandia tampil Juga Group Kesenian dari Samarinda Indonesia, yang menampilkan tarian Karnia Anak Dayak Warisan Budaya Leluhur, Taiwan mempersembahkan tarian The Beautiful Orshid (anggrek yang Indah), The Haste Universe (ketergesaan alam semesta), Pleasures (kesenangan) di akhir persembahannya taiwan membawakan tarian Back to my lovely country (kembali kenegara saya indah). Lithuania tampil membawakan tarian khas berupa Kas Man Sopa, Perluti Ry Tato, Duosiv Pertul, Indonesia dari Tenggarong Kutai Kartanegara tampil dengan Tari Jepen Bunga Perangai. Pentas Seni Lapangan Basket selalu ramai oleh penonton yang ingin menyaksikan aksi seni para para seninamdalam dan luar Negeri.


Sanggar Tari Tonyoi Dayak Benuaq






Tampilan dari tuan rumah sendiri adalah dari Sanggar Tari Tonyoi Dayak Benuaq dan Sanggar Tari Serai Wangi Tenggarong. Tampilan seni ini adalah rangkaian dari acara Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival Tahun 2016 yang dilaksanakan di Panggung Seni Aji Imbut Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara pada hari Jum’at tanggal 26 Agustus 2016 pukul 19.30. Selain dari sanggar tari Tonyoi dan Sanggar Tari Serai Wangi tampil juga dari Negara delegasi diantaranya dari Canada (Ukrainian), Negara Bulgaria dan Negara Rusia.




Penampilan pertama di suguhkan dari sanggar tari tonyoi yang berjudul tari Gantar. Tari gantar sendiri  merupakan jenis tarian pergaulan antara muda mudi yang berasal dari Suku Dayak Benuaq  Kalimantan Timur. Tarian ini melambangkan kegembiraan dan juga keramah-tamahan suku Dayak  dalam menyambut tamu yang datang berkunjung, baik sebagai wisatawan, investor, atau para tamu yang dihormati.




Tari Gantar ini dahulunya hanya ditarikan pada saat upacara adat saja, menurut versi cerita yang lain bahwa tari gantar merupakan tarian yang dilaksanakan pada saat upacara pesta tanam  padi Properti tari sebuah tongkat panjang tersebut adalah kayu yang digunakan untuk melubangi tanah pertanian dan bambu pendek adalah tabung benih padi yang siap ditaburkan pada lubang tersebut. Gerakan kaki dalam tari ini menggambarkan cara menutup lubang tanah tersebut. Muda-mudi dengan suka cita menarikan tari tersebut dengan harapan panen kelak akan berlimpah ruah hasilnya.