Benner Naga

Fashion Street

Bukit Bangkiray

TOPENG KEMINDU

Lapion

Statistik

Hit hari ini : 116
Total Hits : 463,746
Pengunjung Hari Ini : 31
Pengunjung Online : 2
Total pengunjung : 112,054

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 28 Next > Last >>

Lomba Foto Sparkling Erau 2015 Masuki Tahap Pemilihan Foto Favorit.


Lomba Foto Sparkling Erau 2015 yang dilaksanakan  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara telah memasuki tahapan pemilihan Foto Favorit dari tanggal 13 Juli sampai dengan 13 Agustus 2015. Untuk Polling dan dukungan foto favorit peserta cukup dengan menyatakan tanda suka ( jempol ) pada foto nominasi, dengan membuka Facebook Visiting Kutai Kartanegara.  Sambutan dan antusias masyarakat pada Lomba Foto kali ini cukup tinggi, 123  peserta dengan jumlah 528  foto yang diterima Panitia, Fotografer Nasional Ray Bahtiar Drajad” berpendapat  bahwa pelaksanaan lomba foto tahun ini progresnya lebih baik dari tahun sebelumnya hal ini terlihat dari jumlah email dan foto yang masuk  serta kualitas foto peserta yang semakin baik. Sehingga juri telah memilih sebanyak 76 foto Nominasi yang lebih banyak dari tahun sebelumnya berjumlah 30 foto nominasi. Selanjutnya dari foto nominasi ini akan dilombakan untuk pemilihan foto favorit dan pemilihan foto juara lainnya. untuk diketahui dari kiriman email dan foto yang masuk pada panitia, peserta lomba Foto Sparkling Erau  2015 diikuti dari dalam dan luar Kalimantan Timur

Sampai dengan hari Rabu  tanggal 29 Juli 2015, dari 76 foto nominasi yang sudah memberikan tanda suka atau jempol sebanyak 4.045 orang, dari  foto  yang paling disukai mendapatkan 315 tanda suka, Masih ada waktu sampai tanggal 13 Agustus 2015 bagi  peserta yang fotonya telah masuk nominasi untuk merebut juara favorit lomba foto Sparkling Erau  2015, dengan cara menggalang dukungan sebanyak – banyaknya dari masyarakat. Dukungan terhadap foto nominasi ini, ternyata tidak hanya didukung oleh masyarakat dan pecinta photografi di Kalimantan Timur dan Indonesia tetapi mendapat Apresiasi dari luar negeri yaitu termasuk para peserta Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) tahun 2015.

Lomba Foto Sparkling Erau 2015  akan memperebutkan  total hadiah 29.500.000 yang terdiri dari 2 (dua) kategori yaitu kategori Erau dan On The Spot Kirab Budaya International, tropi dan piagam  penghargaan. Penjurian dilakukan oleh fotografer professional yaitu Ray Bahtiar Drajad yang juga pendiri Kamera Lubang Jarum Indonesia, Bank Kaltim Cabang Tenggarong serta Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, Dra. Sri Wahyuni. MPP., mengatakan bahwa “ Penyelenggaraan Lomba Foto  Sparkling Erau 2015 diawali dengan workshop Fotografi dengan tema “ kita kembangkan kreatifitas karya fotografi dalam rangka mengenalkan budaya etam” yang dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 2015, kemudian tujuan dari lomba foto ini  adalah bentuk dari kepedulian dan pembinaan industri kreatif ( Bidang industri video, film  dan fotografi ) yang dilakukan Pemerintah. Selain menjadi ajang kreatifitas bagi pecinta dan komunitas fotografi juga melalui lomba foto diharapkan dapat memberikan informasi daya tarik wisata budaya kepada wisatawan dan lebih mengenalkan atau memperluas publikasi Potensi Wisata Budaya  dengan Event Erau Adat Kutai International Folk Art Festival ( EIFAF ) serta  untuk lebih mendorong partisipasi dan menumbuhkan minat para komunitas maupun masyarakat dalam memajukan bidang fotografi di Kabupaten Kutai Kartanegara ’’.


Merebahkan Ayu 2015





Kemeriahan Erau International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2015, yang berlangsung selama sepekan di Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara, dan resmi di tutup Wakil Gubernur Kalimantan Timur H. Mukmin Faisyal. HP. MH. dan berlangsung di beranda Keraton Kesultanan Ing Martadipura atau Museum Mulawarman Tenggarong. dan pada keesokan harinya di laksanakan Ritual merebahkan ayu sebagai puncak akhir dari rangkaian kegiatan acara Erau Adat Pelas Benua dan International Folk Art Festival (EIFAF) 2015 yang digelar dikeraton (Museum Mulawarman) pada pagi hari.




Prosesi merebahkan Ayu dilakukan oleh empat (4) orang kerabat Keraton dan pejabat, diantaranya wakil Bupati Kutai Kartanegara H.M Ghufron Yusuf, dan Kepala Pengadilan Negri (PN) Tenggarong, serta dihadiri seluruh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Dalam prosesi upacara adat merebahkan Ayu, mentri Sekretaris Keraton (Museum Mulawarman) HAP Gondo Prawiro bertugas menyambut ujung Ayu/Kepala Ayu yang disaksikan Sultan Kutai Kartanegara H.Adji Moehammad Salehoeddin II, dan Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat, serta kerabat Keraton lainnya.




Pangkon Luar yang semula bertugas di bagian luar telah bergabung masuk ke dalam istana dan duduk bersila di sebelah pangkon dalam. Sultan dan kerabat duduk berjejer menghadap ke tiang ayu yang di kelilingi oleh dewa dan belian, di atas jalik ada tambak karang, tilam, bantal kuning dan hamparan tapak liman. Sesaat kemudian empat orang kerabat berdiri menghampiri tiang tiang ayu dan memegang sambil menggoyang sebanyak tiga kali, seakan - akan merebahkan sebatang pohon yang kokoh tertanam di tanah dan langsung rebah di atas tilam / kasur dan bantal kuning / sebagaimana tidur dan beristirahatnya seorang petinggi yang di layani dengan rasa kasih saying. Setelah Ayu direbahkan dan dilanjutkan dengan ritual Tepung Tawar oleh pawang perempuan atau yang disebut Dewa bini, ritual ini dilakukan sambil memercikan air ke Ayu yang telah dibaringkan dari bagian kepala / puncak menurun ke bawah ( bagian / renbak / pangkal ) sebanyak tiga kali sambil besawai. Kemudian dewa bini besawai lagi sambil membawa peralatan tepong tawar berjalan duduk hormat dan sembah kehadapan sultan untuk melaksanakan tepong tawar di bagian punggung tangan kanan dan kepala, baru turun ke lutut kiri dan kanan, juga betis kiri dan kanan. Kemudian Sultan di persilahkan mengambil air kembang / bunga tepong tawar untuk di oleskan ke bagian mata kiri dan kanan dan menyapu / menyeka bagian muka dan atas kepala. Selesai sultan di teopong tawari, di lanjutkan ke putra mahkota dan kerabat sebagai pelaksana erau dan acara ritual dan tradisi selesai dan di tutup dengan bersilaturahmi sekalian hadirin. pertanda bahwa acara Erau Adat Pelas Benua dan Erau International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2015 sudah selesai atau berakhir dan dilanjutkan pula dengan pembacaan do'a selamat yang dipimpin oleh seorang kerabat Keraton sebagai tanda syukur kepada Allah S.W.T bahwa acara Erau Adat Pelas Benua dan Erau International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2015 Festival berlangsung sukses.




Selanjutnya Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura H.Adji Moehammad Salehoedin II, dan Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat, serta kerabat Keraton lainnya mulai berpamitan, petugas adat, Belian dan Dewa hingga pasukan Kesultanan menyalami Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura H. Adji Moehammad Salehoedin II.


Mengulur Naga Erau 2015





Erau International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2015, telah berlangsung selama sepekan di Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara, di hadiri Sultan Kutai H. Adji Mohamad Salehoeddin II, Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat, Kerabat Kesultanan Ing Martadipura dan Jajaran Pemkab Kutai Kartanegara, Wakil Gubernur Kalimantan Timur  H. Mukmin Faisyal. HP. MH., Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari,P.Hd, Mantan Menpora Roy Suryo, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni, MPP., dan Pimpinan serta tim kesenian 13 negara anggota International al Council of Organizations of folklore Festivals and Folk Art ( CIOFF ).

Wakil Gubernur Kalimantan Timur H. Mukmin Faisyal. HP. MH., menutup secara resmi Erau International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2015, Prosesi Puncak Kemeriahan Erau Pelas Benua dan Erau International Folklore And Art Festival ( EIFAF ) di tandai dengan prosesi mengulur naga. Prosesi ini di gelar di halaman Keraton Kesultanan Ing Martdipura, Replika Naga akan menyusuri sungai mahakam dan berakhir di Kutai lama, Anggana.

 Dua ekor naga yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kepala terbuat dari kayu yang di ukir mirip kepala naga dan di hiasi sisik warna warni dan diatas kepala terpasang ketopong ( mahkota ), di bagian leher terdapat kalung yang dihiasi kain berumbai warna warni. Bagian leher yang berkalung di sammbungkan kebagian badan yang terbuat dari rotan dan bambu, dan di bungkus dengan kain kuning. Pada kain kuning ini disusun sisik - sisik ular besar. Badannya seakan - akan seekor naga yang siap berjalan kearah tujuannya, bagian ekor terdiri terbuat dari kayu yang telah diukir menyerupai seekor naga.




Selama tujuh hari tujuh malam dua ekor naga ini telah di semayamkan di bagian serambi kanan keratin untuk naga laki, dan di bagian bawah sekitar dada di taruh / di tempatkan masing - masing penduduk lengkap dengan isinya di hadapan serambi kiri kanan tempat naga bersemayam terdapat titian di sebut rangga titi tempat naga di turunkan yang di hampari kain kuning untuk menuju sungai, sebelum naga di turunkan dari persemayamannya ada prosesi persembahan oleh dewa belian memberi jamuan dan besawai bahwa naga akan di turunkan. Selesai ritual oleh dewa belian 17 orang laki - laki berpakaian lengkap ( celana panjang batik, baju cina lengan panjang putih, sarung diikatkan di pinggang dan di kepala diikatkan potongan kain batik di sebut pesapu ). Mulai bergerak mengangkat kedua naga tersebut bersamaan dan mulai menuruni titian menuju sungai, sedangkan dewa belian berjalan di bagian muka sebagaian muka sebagai kepala jalan sebagai kelpala jalan sambil membawa perapen / persepan.

Saat perjalanan naga menuju ke sungai di hantar oleh empat orang pangkon laki dan empat orang pangkon bini dan seorang membawa molo / guci untuk untuk mengambil air tuli yang di apit oleh dewa belian laki bini yang membawa perapen / persepan. Sedangkan di kiri dan kanan dua naga di apit oleh prajurit yang berpakaian lengkap dan membawa tombak. Sesampainya di tepi sungai ( pelabuhan ) dewa belian melakukan memang dan dua ekor naga di naikkan keatas kapal ( perahu motor ) dengan posisi menghadap kehaluan / depan kapal. Kapal dan pengiring naga bertolak ke ulu sungai menuju kepala benua sebagaimana titik awal prosesi menjamu benua dan berputar - putar sebanyak tiga kali baru menuruni sungai ke hilir. Dalam perjalanan tepatnya di pamerangan desa jembayan loa kulu, perjalanan kapal di tampatkan, alunan gamelan di bunyikan dan dewa belian be mamang untuk pemberitahuan kepada sekalian penghuni / penduduk / masyarakat gaib di sekitar pamerangan bahwa naga sedang di turunkan menuju tepian batu kutai lama, anggana. Selepas wilayah pamerangan, kapal membawa naga melaju kembali hingga di tepian aji samarinda seberang, di tepian aji ini di sambut dengan acara ritual tokoh - tokoh suku bugis, kapal melambat dan dewa belian bemamang sambil mengalunkan gamelan, juga sebagai pemberitahuan bahwa prosesi naga sedang di turunkan di kutai lama, sesampainya di kutai lama dewa belian bemamang dan alunan gamelan di mainkan, kapal berputar di tepian batu kutai lama, di Tepaian Batu ritual penyambutan di lakukan oleh para tokoh - tokoh masyarakat kutai Lama dan para pengiring naga sambil menurunkan / melaboh dua ekor naga di tengah masyarakat Kutai Lama.

Sebelum naga tenggelam, bagian kepala naga tepatnya di daerah kalung naga harus di sembelih / di potong, begitupun di bagian ekor di potong. Bagian kepala dan ekor naga yang telah di potong di bawa kembali ke Tenggarong untuk di semayamkan hingga acara ngulur naga yang akan datang. Saat prosesi ini air tuli di ambil untuk belimbur. Badan naga yang telah terpotong, menjadi perebutan masyarakat yang menghadiri prosesi ini dengan mengambil sisik - sisiknya dengan berbagai macam tujuan yang bersifat mistis. Ada yang berperahu dan berenang mendekati badan naga yang siap di sisiki oleh para pengunjung, secara perlahan, kerangka badan naga tenggelam di tutup gelombang / riak - riak air menghantarkannya ke dasar sungai. Kapal pembawa naga kembali ke tenggarong dan di semua kampong/ desa yang di lewati terjadi acara belimbur massal sebagai unsur kehidupan.

Belimbur bermakna penyucian diri dari pengaruh jahat sehingga orang orang yang di limbur kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah, serta lingkungan dan sekitarnya juga bersih dari pengaruh jahat.


Penutupan Erau International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2015



 Erau International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2015, telah berlangsung selama sepekan di Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara, dan resmi di tutup pada hari minggu tanggal 16 Juni 2015. Acara Penutupan ini berlangsung di beranda Keraton Kesultanan Ing Martadipura atau Museum Mulawarman Tenggarong. Penutupan ini di hadiri Sultan Kutai H. Adji Mohamad Salehoeddin II, Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat, Kerabat Kesultanan Ing Martadipura dan Jajaran Pemkab Kutai Kartanegara, Wakil Gubernur Kalimantan Timur H. Mukmin Faisyal. HP. MH., Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, S.Sos. MM., Mantan Menpora Roy Suryo, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni, MPP., dan Pimpinan serta tim kesenian 13 negara anggota International al Council of Organizations of folklore Festivals and Folk Art ( CIOFF ).





 


 Wakil Gubernur Kalimantan Timur H. Mukmin Faisyal. HP. MH., menutup secara resmi Erau International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2015 dan menyampaikan Terimakasih atas pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, para seniman, dan masyarakat Kutai Kartanegara atas terlaksananya pesta adat seni dan budaya Erau, terimakasih atas kesungguhan yang telah menjaga, serta memelihara warisan budaya leluhur dan masih bisa kita saksikan. Erau merupakan peristiwa budaya yang menjadi momentum untuk mendukung tahun kunjungan wisata Kalimantan Timur 2015, tentu hal tersebut untuk memajukan pariwisata Kutai kartanegaradan Kalimantan Timur.


Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, S.Sos. MM.,mengatakan bahwa Erau bukan hanya sekedar ungkapan rasa syukur dan mempererat persatuan, tapi sebagai upaya pelestarian dan pengembangan adat istiadat. " Erau adalah salah satu event yang memiliki cara untuk mengembangkan pariwisata Kutai Kartanegara, di hadapan ribuan pengunjung yang memadati halaman Museum Mulawarman. berpartisipasinya anggota CIOFF, selain menyemarakkan Erau, juga memperkaya khasanah berkesenian, serta menjalin persahabatan di karnakan para anggota CIOFF yang akan kembali kenegaranya masing - masing, dan akan menyampaikan Erau dan Kutai Kartanegara ke negaranya masing - masing. kami ingin Kutai Kartanegara di lihat dunia dan untuk meningkatkan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara.


Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, S.Sos. MM., meminta kepada Mantan Menpora Roy Suryo agar memberikan sepatah duapatah kata mengenai Erau, karna ini yang ke dua kalinya beliau hadir dan mengikuti prosesi adat Kesultanan Kutai kartanegar Ing Martadipura. Roy Suryo yang hadir berpesan agar pemerintah dan masyarakat menjaga warisan budaya Erau ini.






Green Kumala & Cultural Visit


 penghijauan yang di dalamnya terdapat aksi penanaman pohon bersama Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. S.Sos. MM, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP, seluruh anggota delegasi 13 Negara CIOFF, dan Perwakilan Bankaltim Tenggarong, serta seluruh tamu undangan perwakilan dari SKPD Kutai Kartanegara. Dalam kesempatannya Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. S.Sos. MM., mengatakan Erau dan International Folklore and Art Festival ( EIFAF ) bukan hanya sekedargelaran senidan budaya saja, tetapi juga berisi kegiatan cinta lingkungan dengan penanaman pohon khas Kutai, menurut beliau kegiatan Green Kumala ini sekaligus upaya budidaya dan melestarikan serta memperkenalkan buah - buah asli Kutai. kita memiliki buah khas Kutai diantaranya Lai, Durian, dan sebagainya, ini perlu di perkenalkan dan di lestarikan. Penanaman bibit buah ini juga menjadi kenang - kenangan bagi partisipan Erau dari 13 negara ini, karna bisa saja mereka suatu saat mereka kembali danmemetik buah hasil tanamannya. Beliau juga berencana menjadikan Pulau Kumala sebagai Agro wisata atau wisata khus buah - buahan dan beliau yakin pulau Kumala kedepannya akan menjadi tujuan wisata andalan di Kutai Kartanegara.






 Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP., menyampaikan bahwa kegiatan Green Kumala dan Cultural Visit ini di pasilitasi oleh Bankaltim Tenggarong, dengan menyiapkan buah - buahan yang akan di tanam sebanyak 500 pohon, yang terdiri dari 300 bibit dari Bankaltim dan 200 dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara. Setelah penanaman pohon acara Green Kumala ini juga di rangkai dengan kegiatan kunjungan budaya delegasi kesenian 13 Negara partisipan EIFAF ke lamin adat suku Dayak Kenyah yang ada di Pulau Kumala. para peserta yang hadir terlihat sanagat antusias dalam mengikuti kegiatan Green Kumala ini, apalagi ketika delegasi kesenian mancanegara mencoba berbagai macam tradisi suku asli Kutai Kartanegara, diantaranya tarian - tarian, permainan tradisional, hingga kuliner khas Kutai.  


Street Performance






Dalam rangka memerihkan Erau Adat Kutai and International Folk Arts Festival Tahun 2015 salahsatunya adalah Street Performance yang menampilkan keseniandari Negara – Negara peserta EIFAF 2015 dan tidak Ketinggalan penampilan dari tuan rumah sendiri. Penampilan dari 14 Negara ini dimulai pada hari Senin tanggal 08 sampai dengan Sabtu tanggal 13 Juni 2015 pukul 16.00 sampai dengan pukul 18.00 Wita yang berlokasi di Pedestrian bawah jembtan.





 





Setiap sore hari ratusan masyarakat Tenggarong ramai berbondong – bondong datang ke pedestrian bawah jembatan Kutai Kartanegara untuk menyaksikan penampilan serta atraksi dan kesenian  dari 14 Negara yang terdiri dari Estoni, Poland, Turkey, Germany, South Korea, Malaysia, Slovenia, Egypt, Rusia, Latvia, Hawai-Usa, Hungary, Italy dan Indonesia. Para peserta tampil bergantian dari tanggal 8 – 13 Juni 2015, bahkan bukan saja dari tampilan mancanegara yang ikut memeriahkan namun dari kesenian lokal indonesia juga ikut serta dalam penampilan Street PerFormance. 





Penampilan dari masing – masing Negara dimulai dari Senin tanggal 08 Juni 2015 oleh Negara Soulth Korea, Malaysia, Poland dan Indonesia dari kesenian Ngelaway dan Uyuy Tiga, pada Selasatanggal 09 Juni 2015 yaitu Negara Slovenia Hungary, dan Rusia serta dari Indonesia grup kesenian Karya Budi,  padaRabutanggal 10 yaitu SMA II, SamanTaqaq , SD 028 , Latvia dan Italy, Jum’at tanggal 12 yang tampilpada street performance LSBK (Kumala), Germany,Turkeydan Egypt danpadahariSabtutanggal 13 yaituSekarKedaton, BungaMekar, Hawai-USA,dan Estonia. 






Street Performance Of Local And International Folklore


Dalam rangka memerihkan Erau Adat Kutai and International Folk Arts Festival Tahun 2015 salah satunya adalah Street Performance yang menampilkan kesenian dari Negara – Negara peserta EIFAF 2015. Penampilan dari 14 Negara ini dimulai pada hari Senin tanggal 08 Juni 2015 pukul 16.00 sampai dengan selesai yang berlokasi di Pedestrian bawah jembtan tepatnya dihalaman Kantor Bupati Kutai kartanegara.




Penampilan pertama  disuguhkan dari Negara South Korea yang penampilan mereka sangat memukau penonton yang memang rindu akan hiburan.

Penampilan dari tuan rumah sendiri yaitu dari kelompok kesenian Ngelawai yang menampilkan tari gantar dari dayak benuaq. Dan dari Uyay Tiga dengan tarian Burung Enggang dari Dayak Kenyah, tarian burung enggang ini menggambarkan persahabatan atau bisa juga diartikan perpindahan dayak kenyah dari suatu daerah ke daerah lainnya.








Selanjutnya pertunjukkan dari Negara Malaysia menampilkan empat (4) jenis tarian dan satu (1) lagu yang kesemuanya mampu menghipnotis penonton. Dan penampilan terakhir ditutup oleh Negara Polandia yang menampilkan tarian yang menggambarkan pertemuan muda mudi pada acara pernikahan dan merekapun saling jatuh cinta.





Beseprah Atau Makan Bersama


 Untuk kesekian kalinya budaya Beseprah di laksanakan dan perkenalkan kepada dunia melalui delegasi duta seni 13 Negara peserta Erau Adat International Folk Art Festival 2015. acar beseprah ini di laksanakan di kawasan jalan Monumen Timur ( Depan Kedaton Kesultanan Kutai) hingga jalan Mulawarman depan hotel Grand Elty Lesong Batu, di sepanjang jalan ini di hamparkan kain putih dan di sajikan aneka macam hidangan khas Kutai. acara ini hanya ada di Kutai Kartanegara, kegiatan makan beseprah atau makan bersama sambil duduk bersila berhadap - hadapan yang berpusat di depan Kedaton Kutai Kartanegara, di hadiri ribuan masyarakat Tenggarong, perwakilan delegasi kesenian 13 Negara peserta Erau Adat International Folk Art Festival ( EIFAF ), perwakilan seluruh SKPD Kutai Kartanegara, perbankan, BUMN / BUMD, pihak swasta di lingkungan Kutai Kartanegara dan Pihak Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. para tamu undangan ini sekaligus menyiapkan makanan khas Kutai yang akan di makan bersama seluruh masyarakat dan tamu undangan dari 13  negara peserta Erau Adat International Folk Art Festival ( EIFAF ).



 Acara diawali pembacaan doa yang dipimpin oleh Kementrian Agama Kutai Kartanegara, serta di lanjutkan dengan sambutan oleh Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, S. Sos. MM  mengatakan bahwa makan beseprah merupakan tradisi cara makan Kutai dengan menjunjung adab dan rasa kebersamaan. bahwa sejak jaman dahulu Sultan Kutai terkenal merakyat, yaitu melihat langsung keadaan rakyatnya dan kadang kerap di akhiri dengan duduk makan bersama atau Beseprah. jadi selain memelihara tradisi juga untuk mempererat silaturahmi dan meleburkan strata dalam sebuah kebersamaan, kebersamaan merupakan kunci untuk mencapai masyarakat sejahtera dan berkeadilan.



 Disela kesempatannya Putra Mahkota Aji Pangeran Prabu Anoem Surya Adiningrat mengatakan Beseprah yaitu cara makan dengan duduk bersila, makan dengan tangan kanan, di lakukan secara bersama dan berhadap - hadapan, cara makan seperti ini sejak dulu telah dilakukan dalam sebuah keluarga maupun bersama masyarakat. Adapun kuliner khas Kutai yang telah di sajikan untuk di makan bersama diantaranya gence ruan, nasi kuning, nasi kebuli, kue serabai, putu labu, basong, bebongkok, tumpi, nasi pundut, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan tepat pukul 09.00 wita, kentongan yang telah disiapkan panitia, di bunyikan oleh Bupati Kutai kartanegara Rita Widyasari, bersama seluruh perwakilan anggota delegasi kesenian CIOFF dan Putra Mahkota Aji Pangeran Prabu Anoem Surya Adiningrat. penanda bahwa beseprah telah di mulai dan semua yang hadir langsung menyantap dan menikamati makanan yang telah tersaji di hamparan kain putih. 


Prosesi Adat Beluluh





Dalam Prosesi Adat Erau terdapat didalamnya Ritual Merangin yang digelar tiga (3) malam berturut-turut setiap malamnya sebelum acara Erau dimulai dan juga dilaksanakan dalam pelaksanaan Erau setiap malam kecuali malam Jum`at. Upacara adat Merangin ini dimulai sejak pukul 20.00 wita, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura juga sudah menggelar Upacara Ritual "Beluluh", pada sore hari minggu 7 Juni 2015 di keraton Kutai Kartanegara.


Hadir dalam Upacara Ritual Beluluh, yaitu Sultan Kutai Kartanegara H. Aji Muhammad Salehuddin II, Aji Pangeran Adipati Prabu Anom Surya Adiningrat, Wakil Bupati Kukar HM. Ghufron Yusuf, beserta seluruh kerabat kesultanan ing martadipura, Dalam Upacara Ritual Beluluh yang dilakukan seorang Belian terhadap raja/sultan/putera mahkota yang berperan mengucapkan doa memohon kepada yang maha kuasa guna membersihkan diri dari unsur-unsur jahat, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, maka akan diluluhkan di atas buluh/bambu dan sebagai pertanda dimulainya pelaksanaan Erau. Upacara Ritual Beluluh dilaksanakan pada permulaan sebelum Erau yang dilakukan setiap sore hari selama Erau berlangsung.





Upacara Ritual Beluluh sendiri terdira dari Beluluh Sultan, Beluluh Aji Begorok, dan Beluluh Aji Rangga Titi. Upacara diawali oleh Sultan / Raja / Putra Mahkota duduk sejenak di tilam Kasturi kemudian bangkit menuju Balai atau tempat duduk mirip kursi setinggi tiga tingkat yang dibuat dari bambu kuning bertiang 41 buah yang berada diatas tambak karang melalui Molo / guci kuningan yang berhias bunga / mayang kelapa dan mayang pinang yang terdapat di sebelah kiri dan kananan. Sesampainya di depan balai Sultan menaiki balai dan duduk di tingkat ketiga persis di bawah hiasan daun beringin dan di belakangnya terdapat Balai Persembahan, sedangkan sebelah kiri dan kanan di pagari oleh Pangkon Dalam 7 bini dan 7 laki dan belian serta di setiap sudut terdapat Penduduk.





Demong mengatur dewa laki meaksanakan Memang dan Dewa Bini menghidupkan prapen. Sultan di tutupi Kirab Tuhing diatas kepala di bawah daun beringin oleh dua orang pembantu di sebelah kanan dan dua orang di sebelah kiri. Kirab Tuhing di balik sebanyak tiga kali dan di jatuhkan beras kuning kebelakan. Sejenak kemudian Dewa Laki dan Dewa Bini bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Sultan untuk memberi Tepong Tawar dengan air cindera mata dan air kembang di bagian telapak tangan kanan, kiri, lutut,kanan dan kiri dan betis kanan dan kiri dan di sekakan kemuka. Setelah itu baru turun dari balai untuk di sapukan mencari salah seorang petinggiu setempat guna melaksanakan Ketikai Lepas, Sultan berdoa bersama sambil beristirahat, pembantu dewa bergeser berjalan duduk sambil membawa air bunga dalam wadah untuk tepong tawar sekalian yang hadir dan dalam prosesi ini di ruangan di mainkan music gamelan salaseh ataw marandowo.


Setelah sultan menjalani beluluh, giliran Putra Mahkota Kesultanan Kutai HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat menjalani ritual Beluluh. Apabila sultan telah melakukan Beluluh, maka Sultan tidak boleh menginjakan tanah atau Betuhing sampai berakhirnya perayaan erau yang ditandai dengan belimbur.





Pembukaan Erau Adat Kutai And International Folk Arts Festival 2015


Pelaksanaan pembukaan Erau Adat Kutai International Folk Art Festival ( EIFAF ) berlangsung dengan meriah di stadion Rondong Demang Tenggarong. acara pembukaan ini di hadiri oleh Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak, Bupati Kutai Karta Negara Rita Widyasari, Deputi Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemendikbudpar RI, Esty Resko Astuti, Kapolda dan Kapolres Kutai Kartanegara, Dandim 0609 Tenggarong, Putra Mahkota Kesultanan Ing Martadipura, Ketua BPK RI DR. Hari Azhar Azis MA, walikota Bontang, Adhi darma, seluruh Peserta CIOFF ( International Council Of Organizations of Folklore Festivas and Folk Arts ).




Acara di awali dengan parade Marching band Gita persada Mulawarman Tenggarong dan di susul 13 negara anggota CIOFF yaitu Estonia, Turkey, Latvia, Slovenia, Germany, Polandia, Italy, Haway- USA, South Korea, Hungary, Malaysia, Russia, dan Egypt serta Indonesia. selain berparade, para delegasi menampilkan tarian - tarian raktyat dari negaranya masing - masing, serta dari Indonesia di wakili sanggar tari dan kelompok seni kesenian kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Panajam Paser Utara, serta Perwakilan Anjungan Kaltim di TMII. setelah parade peserta deelegasi CIOFF, para penonton dan tamu undangan disuguhi dengan tampilan para penari keraton Kutai yang membawakan dua buah tarian yaitu tari persembahan dan tari topeng kemindu.




Erau Adat Kutai International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2015 di buka langsung oleh Deputi Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemendikbudpar RI, Esty Resko Astuti. dalam sambutannya beliau membacakan sambutan tertulis Mentri Pariwisata RI, berharap bahwa pelaksanaan Erau yang di laksanakan Kutai Kartanegara untuk tahun - tahun mendatang pesertanya bisa di tingkatkan lagi dari 13 negara menjadi 20 negara. selanjutnya Gubernur Kalimantan Timur mengatakan dalam sambutannya Erau adalah peristiwa sakral sekaligus momentum yang sangat berharga untuk menyukseskan tahun kunjungan wisata Kalimantan Timur 2015 ( Kaltim Visit Years 2015 ). tahun ini Erau mengangkat tema 3 Tahun Erau International Folk Art Festival ( EIFAF ) dan mengharapkan menjadi langkah maju dan kreatif bagi penyelenggara Erau yang patut kita afresiasi, karna itu masyarakat dapat menyambut antusias berbagai event yang di gelar pada Erau adat Kutai tahun ini dan mari kita jadikan Erau momentum yang sangat berharga bagi kebangkitan dan kemajuan pariwisata serta untuk kesejateraan rakyat Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur.




Dalam Kesempatannya Bupati kutai Kartanegara Rita Widyasari. S.Sos. MM, menyampaikan pemerintah dalam pelaksanaan Erau selalu bekerjasama dengan CIOFF yang bertujuan agar Erau lebih di kenal oleh kancah International, dan beliau mengharapkan agar masyarakat Kutai kartanegara dapat menjadi tuan rumah yang baik dan dengan pelaksanaan Erau tiap tahun ekonomi masyarakat bisa meningkat dan sejahtera.

acara di lanjutkan dengan menyalakan tujuh buah api brong ( Obor Besar ) yang diantanya di lakukan oleh Deputi Kemendikbudpar, Gubernur Kaltim, Putra mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Kapolda Kaltim dan Pangdam IV Mulawarman.

Ribuan masyarakat dan para tamu yang hadir kembali di suguhkan tari masal yang bertajuk "Borneo In Harmony", yang melibatkan sekitar 350 penari yang diiri dengan musik "Interculture" dari gerbang etam orcestra yang membuat kagum seluruh tamu undangan dan sebagai penutup pada acara pembukaan Erau 2015.