Benner Naga

Fashion Street

Bukit Bangkiray

Seni

Lapion

Statistik

Hit hari ini : 220
Total Hits : 315,203
Pengunjung Hari Ini : 58
Pengunjung Online : 2
Total pengunjung : 74,238

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 24 Next > Last >>

UPACARA ADAT KUTAI, NAIK AYUN


Bertempat di Kampong Koetai  Pada hari Sabtu 18/10/2014 berlangsung prosesi Naik Ayun yang dihadiri oleh Pejabat struktural dilingkungan Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara dan para Peserta  Rakernas Asita III, serta para penonton yang memadati halaman Parkir Kampung kutai yang ingin menyaksikan secara langsung prosesi Naik Ayun.




Acara Naik ayun merupakan upacara adat menaikan untuk pertama kalinya seorang anak yang baru lahir yang berumur 40 hari ( kurang lebih 2 (dua ) Bulan)  kedalam ayun. Naik ayun sendiri bermakna pemberian doa dan restu agar anak memperoleh berkah, Sebelum upacara naik ayun di mulai, maka di dahului dengan pemberian nama atau Tasmiyah yang didahuui dengan Pembacaan Ayat suci Al-Qur’an. Ketika seorang anak yang lahir pada bulan Syafar maka sebelum dilaksanakan acara naik ayun maka wajib didahului dengan acara betimbang (menimbang anak) yakni anak terlebih dahulu ditimbang diatas dacing (alat timbangan) secara berturut-turut dengan kitab suci Al-qur’an, segelas air, buah-buahan serta sayur-sayuran.





Setelah pemberian nama (Tasmiyah) selesai dilaksanakan, maka selanjutnya adalah menaikkan anak ke ayun dan Pemotongan rambut, yang diiringi dengan pembacaan berzanji (puji-pujian ke pada Rasulullah SAW), anak di gendong oleh seorang wanita “tetuha” keluarga yang berdiri diatas tilam kasturi dan secara bergilir laki-laki sesepuh keluarga atau pemuka masyarakat yang hadir bergantian memasukan anak ke dalam ayun seraya di tempung tawari dan ditaburi beras kuning.

Setiap kali anak selesai dimasukan kedalam ayunan maka selembar kain dikeluarkan dalam ayunan, ini dilakukan sebanyak 5 (lima) kali berturut-turut rambut yang sudah dipotong dimasukan ke dalam buah kelapa gading, setelah itu dilanjutkan dengan acara mengedarkan ayam putih dan sebatang lilin yang menyala mengitari ayun dari sebelah kanan ke kiri sebanyak 3 kali, lolong ayam di lukai dan dioles kedua alis anak yang disebut becerak darah, selanjutnya lilin dimatikan dan jelaga pada sumber lilin di oleskan di dahi anak yang disebut becerak lilin.

Setelah itu dilanjutkan dengan acara Tumbang Apam dan Nasi Rasul, yaitu anak yang naik ayun di gendong ibunya yang didampingi ayah serta saudaranya, yang berdiri diatas kain atau tajong yang berlapis, lalu Nasi Rasul dan Lilin yang menyala diangkat setinggi kepala,Nasi rasul dicicipi oleh anak dan kedua orang tuanya, semantara acara berlangsung diselingi dengan Selawat ke pada nabi Muhammad SAW, yang dibarengi dengan behambur beras kuning dan uang logam.

Sebagai akhir acara ibu yang menggendong bayinya didudukan diatas tilam kasturi, anak dicicipi pisang, bertus dan Nasi Rasul, kemudian anak di “Pelas” dengan acara diinjakkan kakinya pada besi dan Batu (Penunggu Ayun) kemudian segumpal tanah dan digenggamkan emas dan Perak, kemudian ibu dan anak di tempung tawari, dicecapi air bunga dan kepada ibu diisyaratkan mematikan lilin, sebagai Penutup oleh ibu dan Sanro (orang memimpin upacara) ditarik “ketikai lepas” sebagai ungkapan rasa syukur bahwa hajat untuk pelaksanaan naik ayun sudah selesai dengan selamat



CITY TOUR PESERTA RAKERNAS ASITA DI TENGGARONG



Hari terakhir pelaksanaan Rakernas ASITA III 2014 di Tenggarong, Kutai Kartanegara, diisi oleh para peserta Rakernas dengan melaksanakan City Tour di Kota Raja Tenggarong.








Sebagaimana telah diketahui bahwa Rakernas ASITA telah berlangsung sejak tanggal 16 Oktober 2014 dan berakhir Tanggal 18 Oktober 2014, hari berakhirnya Rakernas ini bertepatan dengan perhelatan event besar di Tenggarong yaitu Tenggarong Kutai Carnival dan Pelepasan 10.000 lampion yang akan memecahkan rekor MURI.






City Tour yang dilaksanakan oleh para peserta Rakernas ASITA ini didampingi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan mengunjungi Planetarium Jagad Raya Tenggarong, Museum Mulawarman serta Festival Kampong Kutai. setelah City Tour ke tiga tersebut peserta Rakernas langsung menuju area Show Time Tenggarong Kutai Carnival (TKC) yang berlangsung di pedestrian depan Kantor Bupati Kutai Kartanegara. Para peserta Rakernas ASITA bersama para tamu undangan dengan antusias menyaksikan event tahunan yang menjadi ikon dari Festival Kota Raja yang diselenggarakan setiap tahun.






Pada malam harinya peserta rakernas kembali mengikuti salah satu event besar yang juga dilaksanakan setiap tahun di Tenggarong yaitu pesta langit malam atau pelepasan 10000 lampion yang tahun ini memecahkan rekor sebagai pelepasan lampion terbanyak se Indonesia.



SHOW TIME TENGGARONG KUTAI CARNIVAL 2014


The Nature Of Borneo menjadi tema pelaksanaan Tenggarong Kutai Carnival (TKC) ke III tahun ini. Diikuti 131 talent, dari 131 talent tersebut, 40 orang adalah talent anak - anak. Tenggarong Kutai Carnival 2014 mengusung 3 sub tema, yakni Mangrove (pohon bakau), Purun (anyaman tikar), dan Enggang (burung khas Kalimantan).






Tenggarong Kutai Carnival 2014 ini juga dimeriahkan oleh Marching Band dan Talent dari Jember Fashion Carnaval (JFC). Show Time TKC diawali dengan penampilan khusus dari para talent Tenggarong Kutai Carnival yang mengenakan kostum carnival tahun 2012 dan 2013.
Tenggarong Kutai Carnival 2014 ini salah satu rangkaian acara dari Festival Kota Raja dalam rangka memeriahkan hari jadi Kota Tenggarong ke 232.







Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata, Sri Wahyuni mengatakan, TKC ini bertujuan untuk menggerakkan potensi kreatifitas masyarkat khususnya, dari segi kostum yang bersumer dari nilai budaya dan alam kukar. Tentu juga dari salah satu bentuk promosi wisata Kutai Kartanegara.







Bupati Kutai Kartanegara, Hj. Rita Widyasari, yang membuka sekaligus menyaksikan kegiatan tersebut memberikan apresiasi kepada para talent yang makin berkembang, baik dari segi kreatifitas pembuatan kostum maupun penampilan. Walaupun, menurutnya beberapa talent belum menunjukkan kemampuan secara total, khususnya talent anak - anak. Rita pun berharap kedepannya TKC terus berkembang dan maju dengan mempertahankan ciri khas kostum yang berasal dari budaya dan kekayaan alam Kukar.






Pembukaan Dan Welcome Dinner RAKERNAS ASITA 2014





Pembukaan Rapat Kerja Nasional III Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) dilaksanakan di halaman Kantor Bupati Kutai Kartanegara pada hari Jumat (17/10). Acara ini dihadiri oleh Ketua DPP Asita H Asnawi Bahar dan Ketua DPD Kaltim H
Eddy Yusuf Assainar serta staf ahli Bupati Kutai Kartanegara bidang
Hukum dan Politik serta jajaran FKPD Kukar. Rakernas III Asita di
Tenggarong dilaksanakan selama tiga hari sejak 16-18 Oktober diikuti
200 peserta dari DPD Asita seluruh Indonesia. 






Sambutan tertulis Gubernur Kaltim yang direncanakan akan membuka Rakernas ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kaltim HM Aswin. Dalam sambutan itu disampaikan bahwa Biro-biro dan agen-agen perjalanan wisata harus turut ambil bagian serta berperan lebih besar di setiap event kepariwisataan. Gubernur menegaskan membuka kesempatan bersama agar potensi wisata digarap dan dikelola secara profesional dengan kemampuan maksimal.

Kendala dan hambatan terkait infrastruktur  terutama sarana dan prasarana penunjang (jalan/jembatan/pelabuhan/transportasi, perhotelan, rumah makan dan restoran maupun bidang SDM terus diatasi dengan dilakukan pembangunan sektor infrastruktur. Permasalahan di sektor pariwisata harus dapat diatasi melalui program dan kegiatan yang dilaksanakan secara sinergis dari para pihak (stakeholders) di jajaran pemerintah maupun swasta dengan dukungan masyarakat,” Sektor kebudayaan dan pariwisata menurut Gubernur terus dikembangkan karena Kaltim memiliki banyak potensi seperti peninggalan sejarah, keanekaragaman adat-istiadat dan budaya masyarakat yang didukung dengan keindahan panorama alam yang sangat menakjubkan.




Pembangunan sektor kepariwisataan sangat penting perlu dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu dan berkelanjutan dengan tujuan tetap memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai seni, adat-istiadat, budaya dan agama dalam masyarakat Kaltim yang multikultur. Dalam visi Kaltim Maju 2018 disebutkan sektor kebudayaan dan pariwisata dikembangkan dan diarahkan pada pengelolaan kekayaan budaya dan sejarah serta mengembangkan potensi pariwisata sebagai sumber devisa. Melalui  Tahun Kunjungan Wisata (Visit Kaltim Years 2014) kunjungan wisatawan akan terus ditingkatkan dengan kesiapan obyek wisata, pengelolaan usaha jasa, sarana dan prasarana pariwisata serta penunjang lainnya.





Gladi Resik Tenggarong Kutai Carnival (TKC) 2014



Sehari sebelum pelaksanaan Show Time TKC 2014. Para Talent TKC bersama instruktur dari Jember Fashion Carnival (JFC) melaksanakan Gladi Bersih yang dilaksanakan di area show time, pedestrian di depan Kantor Bupati Kutai Kartanegara (17/10. Sebelum melaksanakan gladi terlebih dahulu para talent melakukan blocking untuk pengenalan area runway mereka nantinya.






Kegiatan gladi ini dipimpin oleh Ketua TKC Ibu Nur Fajri dan Ketua AKARI Win Gunawan dibantu oleh para talent senior TKC yang lain. Instruktur dari Jember Fashion Carnival juga melakukan blocking untuk pengenalan runway yang baru pertama kalinya dilaksanakan di pedestrian depan kantor Bupati Kutai Kartanegara. Dua tahun sebelumnya opening show time TKC dilaksanakan di Halaman Kantor Bupati Kutai Kartanegara.






Presiden JFC, Dinand Fariz turut hadir dalam gladi resik ini dan ikut mengarahkan para talent TKC maupun JFC dalam melakukan latihan demi untuk mensukseskan kegiatan Show Time esok hari.






Tahun ini Tenggarong Kutai Carnival 2014 mengusung 3 sub tema, yakni Mangrove (pohon bakau), Purun (anyaman tikar), dan Enggang (burung khas Kalimantan).




PAGELARAN SENI MAMANDA “JANGAN NODAI PERJUANGAN KAMI”

Di Kerajaan Panji Berseri muncul lah sosok Pemimpin Perang yang gagah berani yang bernama Angga Sakti, dan selalu bertekad memberikan Perdamaian dan Kesatuan di dalam Kerajaan dan Raja Pun Senang dengan perjuangannya.

Pada suatu hari ketika Angga Sakti berjalan dari desa ke desa, tak disangka ia bertemu dengan orang yang sedang berkelahi, dan Angga Sakti pun cepat mengambil langkah dengan mendamaikan mereka antara kedua belah pihak.

Lalu Angga Sakti pun mengusulkan agar masalah ini diselesaikan dihadapan paduka Raja yang mulia, dan mereka pun sepekat menghadap Paduka Raja, akhirnya setelah mendengarkan dengan seksama pihak-pihak yang bersengketa, paduka Raja memutuskan bahwa masalah ini hanya salah paham dan minta kepada kedua belah pihak untuk berdamai dan saling memaafkan, keputusan sang Raja diterima kedua belah pihak dan mereka pun berdamai.

Paduka Raja merasa senang dan memberikan tanda Jasa kepada Angga Sakti, Ketampanan dan Kesaktian yang dimiliki Angga Sakti membuat Putri Raja yang bernama Putri Mayang Sari jatuh hati kepadanya, begitupun dengan Angga Sakti mengagumi kecantikan Putri Mayang Sari, akhirnya  Putri Mayang Sari memberanikan diri untuk menyampaikan maksud hatinya ke Permaisuri untuk disampaikan ke Paduka Raja, dan akhirnya Paduka Raja menyetujui hubungan mereka dan mengumumkan ke seluruh Negeri Kerajaan Panji Berseri.

Kisah Kerajaan Panji berseri diatas merupakan pementasan mamanda atau teater Tradisional khas Kutai yang dipentaskan oleh kelompok Mamanda Panji Berseri dengan judul Jangan Nodai Perjuangan Kami, pementasan ini untuk menyemarakan Festival Kampong Koetai dalam rangka HUT kota tenggarong yang ke 232 tahun yang digelar pada Jum’at 17/10/2014.

Menurut Derfi Kennedi yang juga sutradara dalam pementasan ini, kelompok Mamanda Panji berseri didukung oleh 20 pemain yang terdiri dari 16 pemain lakon, 3 pemain musik, sebab selama pertunjukan alunan musik yang khas yang terdiri dari Gong, gendang dan biola menyertainya, dan 1 orang Juru rias dan Pementasan ini juga di dukung penuh oleh Yayasan Total Indonesia

PELEPASAN 10.000 LAMPION CATAT REKOR MURI


Dalam memperingati Hari Ulang Tahun kota Tenggarong yang ke 232 tahun, sebagai acara Puncak dan Pemungkas  Pesta lampion  digelar dan  sukses pecahkan rekor MURI, pada Sabtu (18/10/2014) malam.





Sebanyak 10.000 lampu lampion dilepas ke udara tepatnya didepan Kantor Bupati Kutai Kartanegara   Langit malam itu di kota Raja, Tenggarong dipenuhi cahaya lampion dan menjadi daya tarik bagi masyarakat. Bupati Kukar Hj Rita Widyasari bersama Sekkab Kukar Edi Damansyah dan unsur FKPD setempat secara simbolis melepas lampion bersama-sama menandai pembukaan festival lampion.





Pelepasan lampion disusul pula seluruh komunitas yangmemadati halaman Kantor Bupati. Kegiatan pelepasan lampion diikuti sebanyak 8.531 orang dari berbagai komunitas yang ambil bagian dari sejarah pencapaian rekor MURI.



 






Pelepasan puluhan ribu lampion itu sekaligus untuk memecahkan rekor MURI yang sebelumnya juga diraih Kota Tenggarong dengan menerbangkan 5.300 lampionpada tahun 2013. Langit Tenggarong malam itu terlihat sangat indah dan menawan karena dihiasi warna-warni lampion yang diterbangkan dari halaman kantor Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), tepat pada pukul 19.30 WITA.






Lampion-lampion tersebut diterbangkan secara bersamaan oleh berbagai elemen masyarakat dan komunitas yang ada di Tenggarong , serta paguyuban seni, mahasiswa  dan Pelajar






Festival Lampion yang didukung oleh Bank Kaltim cabang Tenggarong tersebut, merupakan bagian dari kegiatan Festival Kota Raja (FKR) yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kutai Kartanegara (Kukar).






Bupati Kukar, Rita Widyasari mengaku sangat gembira dengan pelaksanaan pesta lampion tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada Bank Kalitim yang telah mendukung kegiatan ini, serta juga kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang telah mempersiapkannya dengan baik.





SEMINAR KESENIAN TARSUL.

Bertempat di Aula Kedaton Kutai kartanegara, pada kamis 16/10/2014 berlangsung seminar tentang adat istiadat Kutai, dan Budaya Tarsul, yang menghadirkan  narasumber dari kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura H Adji Azuar Poeger, seniman Kutai Budi Warga, Adi Kuswara  dan Akademisi Unikarta  Awang Rifani sebagai mederator. Pada sesi pertama seminar mengupas tentang adat istiadat Kutai yang di paparkan oleh H Adji Azuar Poeger, dan pada sesi kedua di bahas tentang Kesenian Tarsul yang di paparkan oleh seniman Kutai yaitu Budi Warga atau yang sering di panggil D Marangan, berikut penjelasannya

Tarsul Adalah Salah Satu Sastera Tutur Yang Terdapat Di Kabupaten Kutai Kartanegara Secara Umum Tarsul Merupakan Seni yang Mengedepankan Kemampuan Mengolah Sya'ir Berupa Pantun a a a a Atau a b a b. Namun Seni Tarsul Dipertunjukan Dengan Irama Tertentu Yang Dalam Perkembangan Dapat Diiringi Dengan Alat Musik Berupa Gambus Dan Ketipung

Seni tarsul dibedakan atas tema yang dilantunkan, sampai saat ini sya'ir dari seni tarsul terus berkembang sesuai dengan pergeseran nilai budaya keterkinian. Secara tradisi tarsul biasa dilantunkan saat acara perkawinan ( saat melamar, ngantar tanda, akad nikah, sampai acara resepsi ), khataman al-quran, khitanan, moral ( nasihat ).                            

Bentuk sya'ir tarsul merupakan karya sastera pantun seperti yang disebutkan diatas, dan pada umumnya terdiri dari empat baris atau dalam satu kuplet. Pada jamannya tarsul selalu disajikan setiap ada hajatan seperti acara perkawinan, khatam al-quran, khitanan sambut tamu.... Juga akan mendiami rumah baru.                                                     

Biasanya sebelum melakanankan pertunjukan tarsul, seniman tarsul mempersiapkan syair tarsul sesuai dengan permintaan. pelaksanaan seni tarsul ini sebaiknya dilakukan oleh dua orang ( laki-laki dan perempuan ) di awali dengan pertasulan laki-laki kemudian desambut dengan petarsul perempuan secara bergantian. posisi petarsul fleksibel saja tidak ada tempat khusus.

Pakaian Petarsul

pakaian bagi seorang petarsul sebenarnya biasa saja, karena tarsul memang salah satu seni sastra tutur masarakat kutai. namun ketika tarsul merupakan bagian acara resmi, memang diperlukan kostum resmi agar tarsul memang salah satu cabang seni yang memiliki ciri khas tertentu. pada jaman dulu pakaian resmi petarsul pria antara lain : bagian kepala memakai kopiah. berbaju kurung atau beskap, celana panjang khas melayu, kemudian memakai kain sarung dilipat dua yang melingkari pinggang sampai kebatas lutut.

untuk petarsul wanita bagian kepala rambut digelung di atas agak dilingkari tegak ke atas kepala menyerupai stupa dan agak miring ke belakang kepala, kostum yang digunakan bisa berupa kebaya kutai  ( baju cina ) dengan selendang di bahu, atau beskap yang disebut dengan ta;wo

ada beberapa hal yang harus dipenuhi seorang petarsul, selain suara khas dan merdu, seorang petarsul juga harus mampu menciptakan syair tarsul sesuai tema acara, tarsul bukan hanya semacam hiburan, tetapi tarsul lebih mempunyai kekuatan dalam membangun semangat serta mewujudkan sikap dan tekad untuk mencapai tujuan si pemesan. untuk mencapai target tentunya si petarsul harus memiliki wawasan yang luas serta beradaptasi dengan dinamika perubahan jaman. itulah kunci seorang petarsul.

nah, ketika tarsul menjadi sebuah lomba, ada dua hal yang perlu diperhatikan peserta lomba, pertama adalah kemampuan untuk mengolah vokal, sehingga iramanya mampu menyentuh para pendengar, yang kedua adalah kemampuan mengolah sya'ir, karena harus sesuai dengan tema yang ditentukan. tentunya perlu petarsul yang mampu mengamati kenyataan kehidupan sehari-hari yang terjadi dalam masarakat, baik masalah sosial, politik, ekonomi, teknologi, moral dan budaya serta hal-hal lainya.

secara tugas tarsul berfungsi sebagai media yang cukup segnifikan dalam mnyalurkan nilai-nilai sosial, agama, adat istiadat, dan yang lebih menarik adalah sebagai media yang efektif untuk control sosial.

Festival Sepekan Kampung Koetai “ Ilustrasi Kehidupan Orang Kutai Jaman Dahulu”

Untuk menarik kunjungan penonton di festival Kampong Kutai pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten kutai kartanegara  menyuguhkan  simulasi  kehidupan masyarakat Kutai pada jaman dahulu, dengan menempatkan orang – orang  sebagai  masyarakat asli kutai yang mendiami rumah tersebut,berbagai macam kegiatan yang dilakukan disetiap rumah tersebut.

Dengan memakai pakaian khas kutai masyarakat kampong kutai terlihat beraktivistas didalam maupun dihalaman rumah, adanya yang memasak didapur , menimba air  disungai, bermain olah raga tradisional, menumbuk beras buat pupur dingin, dan kegiatan lainnya.

Simulasi kampong kutai ini berlangsung selama satu minggu penuh dengan dirangkai kegiatan festival seni nusantara dimana grup atau paguyuban yang ada di kutai kartanegara dapat menampilkan keseniannya masing – masing. Dimulai pukul 15.00 wita kemudian dilanjutkan pada malam hari pukul 20.00 wita sampai selesai.

Kunjungan Kadis Budpar Prov. Kaltim Saat Festival Kampong Kutai


 Setelah menghadiri pembukaan pameran manik – manik di museum mulawarman tenggarong HM. Aswin selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur mengunjungi Festival Kampong Kutai yang berada di halaman parkir Skate park Tenggrong.  Setibanya di kampong kutai beliau langsung turun dari mobil dan langsung melihat – lihat dan mengabadikan dengan kamera pribadinya rumah khas kutai yang di suguhkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong yang ke-232.




 Setelah selesai melihat rumah khas kutai HM. Aswin disuguhi makanan khas Kutai antara lain Pija, nasi bekepor, gangan keladi, pirik cabek ikan dan lain – lain, tanpa basa basi langsung menyantap makanan tersebut yang kelihatannya sangat enak dimakan dan mengingatkan beliau akan jaman dahulu sewaktu muda. Setelah itu beliau juga disuguhi makanan hubi rebus, hubi bakar, pisang bakar yang di campur dengan gula merah. Canda tawa mewarnai kunjungan beliau yang merupakan ciri khas kutai.

HM. Aswin mengatakan “ sangat mengapresiasi event Kampong Kutai ini karena selain dapat melestarikan budaya daerah juga dapat memberikan wisata alam khas kutai jaman dahulu”. Tak lupa juga beliau sampaikan semoga rumah khas kutai ini akan di pasang juga pada saat kegiatan Kemilau Seni Nusantara yang di selenggarakan di Samarinda.