Foto 1

Foto 2

Kirab Budaya

Kirab Budaya

Mendirikan Ayu

Seremoni Pembukaan Erau Adat Kutai And International Folk Arts Festival 2016

Foto 3

Closing

Tarian Dewa Erau

Bukit Bangkiray

Statistik

Hit hari ini : 689
Total Hits : 933,848
Pengunjung Hari Ini : 163
Pengunjung Online : 2
Total pengunjung : 210,218

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Semarak Pentas Seni EIFAF 2017


Hari kedua pentas seni Erau Adat Kutai dan 5th International Folk Arts Festival (EIFAF) 2017 menampilkan enam group tari di Panggung utama Lapangan Basket Timbau  yaitu Shinjupen, Bulgaria, Thailand, Slowakia, Kulon Progo dan china Taipei sedang di panggung kedua, Stadion Rondong Demang menampilkan jumlah group yang sama yaitu  Gubang, Korea Selatan, Gunung Kidul, India, Jepang dan Kutai Barat.








Pentas Seni ini mendapat sambutan antusias penonton terbukti dengan tetap antusiasnya penonton yang menyaksikan meskipun tidak kebagian tempat duduk yang memang disediakan sangat terbatas.

Salah satu group yang tampil adalah Group seni dari Jepang menghadirkan Zi Pang yaitu drum Jepang yang terkenal “Taiko”. Pemain-pemain solo yang telah dikumpulkan secara resmi dan dikoordinir oleh Hiroyuki Hayashida seorang pemain solo drum Jepang. Kali ini Hiroyuki Hayasida berkolaborasi dengan Bunta Santo seorang pemain seruling Jepang “yokobue” yang memiliki semangat penuh dari Samurai.





Group seni lain yang tampil adalah dari Cina yang menampilkan empat tari, salah satu diantaranya adalah bercerita tentang Festival Lentera. Tarian ini adalah tarian yang paling dinanti kedatangannya pada saat festival lentera terutama para remaja. Biasanya tarian ini dirayakan di sekitar kuil, dimana di sana terdapat banyak orang yang menyaksikan kemeriahannya. Warna merah yang pada pakaian mereka meambangkan keberuntungan.





Pada setiap sesi penampilan group tari, masing-masing group bertukar cindera mata dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara.




Street Performance Pertama EIFAF 2017


Dalam rangka Erau Adat Kutai & 5Th International Folk Arts Festival Tahun 2017 yang dilaksanakan mulai tanggal 22 sampai dengan 30 Juni 2017, salah satu rangkaian acaranya yaitu Street Ferformance yang acaranya dilangsungkan mulai tanggal 24 sampai dengan 29 Juli 2017,  di Pulau Kumala Tenggarong setiap harinya pada jam 16.10 WITA.





Hadir pada acara Street Ferformance pada tanggal 24 Juli 2017, yaitu Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, Presiden CIOFF Said Achmat beserta para pengunjung yang antusias ingin menyaksikan Street Ferformance.





Tampil pertama kali pada acara Street Ferformance adalah kelompok seni Sanggar Tari SMU 1, tampilan kedua dari peserta Folklore yaitu Negara Polandia yang menampilkan tarian yang berjudul tarian daerah Krakow dan tarian daerah Beskid. Tarian daerah Krakow adalah tarian yang paling dikenal di Negara Polandia. Puncak popularitas tarian daerah Krakow diperkirakan abad XIX dan XX. Tarian ini sanagt ceria dan lincah dengan banyak hentakan kaki, sorak sorai dan banyak perubahan arah. Sedangkan tarian daerah Beskit berasal dari pegunungan Polandia dibagian Selatan Polandia.






Gaya tarian ini sangat terhubung dengan kehidupan sehari – hari mereka. Tarian ini menceritakan orang yang berkumpul di muka perapian pada malam hari dan menari bersama untuk bersenang – senang dan bergembira setelah seharian bekerja. Yang laki – laki memamerkan kemampuan merak kepada para wanitanya dengan saling melompat kesatu dengan lainnya, tampilan terakhir yaitu dari  Sanggar Seni Pokan Takaq yang menampilkan tarian yang berjudul Tari Belian Sentiu. Tarian ini menggambarkan pengobatan tradisional dari suku dayak Benuaq, dari zaman dahulu sampai sekarang pengobatan tradisional ini masi digukanan untuk mengobati penyakit – penyakit orang yang di kampung.


Pembukaan Festival Kuliner Dalam Rangka Erau Adat Kutai Dan 5th International Folk Arts Festival (EIFAF) 2017


Salah satu perhelatan pesta rakyat terbesar di Indonesia yaitu EIFAF yang diselenggarakan di Kabupaten Kutai Kartanegara menghadirkan berbagai macam acara untuk meramaikan EIFAF 2017. Salah satu rangkaian acara tersebut  adalah Festival Kuliner. Event ini sangat tepat dilaksanakan pada momen Erau dimana setiap mata tertuju pada perayaan akbar ini, dengan demikian diharapkan masyarakat akan semakin mengerti bahwa kuliner lokalpun bias ditampilkan sebagai sajian yang nikmat pada perayaan besar.





Pembukaan Festival Kuliner ini diadakan pada hari Senin, 24 Juli 2017 bertempat di sebelah gedung bulutangkis Stadion Rondong Demang. Kegiatan ini dihadiri oleh Assisten III Bidang Umum drh, Suriansyah Haji Mawi, Direktur Bank Kaltim, Staf Dinas Pariwisata beserta undangan.Festival Kuliner ini diadakan dengan maksud untuk melestarikan makanan khas Kutai Kartanegara yang semakin hari semakin langka keberadaannya. Selain itu tujuan festival Kuliner ini juga dimaksudkan untuk mengenalkan kepada wisatawan dan mengajak msyarakat untuk semakin mencintai kuliner local.





Pada Akhir kesempatan Suriansyah Haji Mawi berharap agar dibentuk suatu wadah yang dapat menyatukan orang-orang yang mampu mengolah kuliner khas asli Kutai ini. Selain itu Suriansyah Haji Mawi juga berharap adanya pembinaan agar kemampuan mengolah kuliner khas Kutai dapat diturunkan, ditularkan dan disebarkan kepada orang lain khususnya generasi muda .






 


Bepelas Malam Pertama


Selesai Merangin oleh dewa dan Belian langsung menuju keraton/Istana dan berputar-putar 7 kali di area bepelas kemudian duduk bersila berjajar, Dewa sebelah kanan dan Belian sebelah kiri dengan dipimpin oleh PAWANG menghaturkan sembah hormat.







Tampilan Tari Selendang oleh dewa diiringi oleh alunan gamelan sambil mengelilingi area Bepelas  sebanyak satu kali, dan Pemangkon Dalam menyalakan lilin di empat sudut.

Tampilan Tari Kipas diiringi oleh alunan gemelan dengan satu kali putaran, sedangkan tampilan ketiga tari JUNG NJULUK oleh Dewa diiringi alunan gamelan juga dengan satu kali putaran dan menghatur hormat kepada hadirin .PAWANG.







DEWA Melakukan MEMANG di belakang TIANG AYU diiringi alunan Suara Seruling, MEMANG ini di tujukan untuk mengundang DEWA KARANG dan Pangeran SRI GANJUR guna menjaga “ POHON AYU “ dari gangguan roh-roh jaht dalam acara bepelas Sultan.

Acara Bepelas yang dilaksanakan setiap malam selama Erau Adat Kutai Internasional Fokl Arts Festival

Untuk Bepelas malam pertama  dihadiri langsung oleh Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II, Putra Mahkota, Sekretaris Daerah Ir.H.Marli, M.Si, Ketua DPRD Kab Kukar , kerabat kesultanan serta partisipan dari Korea selatan para undangan lainnya.










Pagelaran Pentas Seni


Pentas Seni Pertunjukan di Area Pameran Stadion Rondong Demang di Malam Pertama Setelah Pembukaan Erau Adat Kutai Internasional Folk Atrs Festival ( AIFAF ) 2017 menampilkan Kelompok Seni Seraong kemudian di tampilan berikutnya Kelompok Seni Internasional China Taipe yang membawakan tarian berjudul Picture Of Nymphs tarian ini menceritakan tentang seorang gadis cantik menawan bagaikan seorang peri, Red Lantern tarian ini di bawakan pada saat festival Lentera dan Chopstick Dence tarian yang dipertunjukan pada saat Festival. Paser  dan Slovakia di tutup dengan penampilan Seni Internasional dari Polandia yang mebawakan Tarian Daerah Krakow adalah Tarian yang paling dikenal di Polandia. Puncak popularitas tarian daerah Krakow diperkirakan antara abad XIXdan XX, wilayah itu sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu Daerah Krakow Barat dan Daerah Krakow Timur. Tarian ini sangat ceria dan lincah dengan banyak hentakan kaki, sorak sorai dan perubahan arah. Tarian krakow juga merupakkan salah satu dari lima tarian Nasional Polandia. Kostum Polandia terhubung dengan status pernikahan. Oleh karna itu, wanita dan pria muda mengenakan kostum yang berbeda, lebih berwarna dan kaya berbeda dengan pria dan wanita yang telah menikah. Kostum wilayah krakow sangat menonjol dari rompi bersulam, puluhan manik-manik, bulu burung merak dan sabuk yang dihiasi. Di Krakow Instrument paling populer adalah Biola, Sangkla, Akordeon, Klarinet dan Bass.

Kemudian dilanjutkan dengan tarian Daerah Beskid yang berasal dari pegunungan Polandia di bagian selatan Polandia. Gaya mereka sangat terhubung dengan rutinitas hidup sehari-hari. Orang-orang yang tinggal di sana kebanyakan penggiring Domba. Pada masa ini orang berkumpul di dekat perapian pada malam hari dan menari bersama untuk beristirahat dan bersenang-senang setelah hari kerja yang panjang. Pria memamerkan kemapuan fisik mereka untuk mengesankan wanita dengan saling meloncat ke satu dan lainnya, mereka melakukan banyak aksi atau bahkan melakukan kompentisi dalam melompat dan angkat beban. Kostum pendaki gunung polandia lebih sederhana daripada Kostum Tarin Nasional Polandia.Karena Berdasarkan faktanya bahwa penggiring  domba menggunakan kostum menyukai yang terbuat dari wol dan kulit domba. Instrumen yang paling populer di polandia Selatan adalah Biola, Bass, Clarinet dan Trompet.

Di Pentas Seni Lapangan Basket ada Penampilan dari Bangen Tawai, Jepang, Thailand, Yogyakarta Kota Jogja sebagai Pusat Kebudayaan dan Kesenian menjadikan segala bentuk seni tradisi dapat hidup dan berkembang. India  tampil dengan 3 tarian di awali dengan tari Dewa Krisna, Dewa yang Sangat Penyayang. Tarian Tradisional Dharampur di tutup dengan tarian Garba merupakan tarian rakyat gujarat yang dirayakan di nauratri, sebuah perayaan yang berlangsung selama sembilan malam. Sementara Bulgaria tampil di akhir pertunjukan dengan 2 tarian dan 2 Narator, salah satunya Tarian Gossip Ladies adalah tarian rakyat yang lucu bercerita tentang empat wanita dari sebuah desa di Bulgaria Utara. Para Wanita itu berdiskusi, mengkritik dan mengejek tindakan dan perbuatan tetangga mereka. Pertunjukan ini mendapat Sambutan meriah dari penonton yang Menyaksikan Pentas Seni Erau Adat Kutai Internasional Folk Arts Festival ( EIFAF ) 2017



 








Pembukaan EIFAF 2017


Seremonial Pembukaan Festival Kesenian rakyat Internasional ke 5 dalam rangka Erau Adat Kutai 2017 yang mengusung Tema “Melalui Erau Adat Kutai dan Internasional Folk art Festival Kita Lestarikan Budaya Daerah dalam Rangka Pergaulan Budaya antar Bangsa guna mendukung kemajuan Pemerintah Daerah dan Nasional telah  berlangsung  Minggu 23 Juli 2017  bertempat di Stadion Rondong Demang Tenggarong dan di buka oleh Menteri Hukum dan Ham RI bapak Yasonna H laoly. Dihadiri oleh Sekjen Asean Mr. Le Luong Minh, para Duta Besar yaitu Republik Seychelles Nico Barito, Afganistan, Austria, Bosnia Hersegovina, Cili, Egif, Irak, Korea Demokratik People Republik, Libia, Maroko, Serbia, Turki, Vanama, Sri Langka, USA, Kazastan dan Myarmar. Presiden CIOFF  Indonesia Said Rachmat, Direktur Jaringan Kota Pusaka Indonesia, Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Kaltim, Pangdam 6 Mulawarman, Ketua BPK Provinsi Kaltim, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Kukar, Bupati Kutai Timur,  Wakil Bupati Kutai Kartanegara, Ketua / anggota DPRD Provinsi Kaltim, Ketua / anggota DPRD  Kab Kukar, Kepala OPD Provinsi Kaltim, Kepala OPD Kab kutai Kartanegara  Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Para Raja dan Sultan Kerajaan Nusantara Indonesia yang hadir yaitu, Puteri Anom Tabanan, Keraton Kawitan Amarta Bumi Kesultanan Bulungan, Bangsawan Tarumanegara Pakua Keraton Belige Madura, Keraton Paser Belengkong, dan Kedaton agung dipuncak Nurlampung,  Pemerintah Kota Yogyakarta, Kabupaten Paser, Sleman, Bantul, Gunung Kidul,  Kulon Progo Malang dan Bone, tokoh masyarakat, Bankaltim, 3 perusahaan sponsorship, dan  Official serta  seluruh peserta partisipan CIOFF.

Acara Pembukaan Festival EIFAF 2017, yaitu dimulai dengan Tradisi Tepong Tawar oleh Kesultanan Kutai Kartanegara untuk tamu maupun pejabat pemerintah sebelum  memasuki  Stadion Rondong Demang,  Parade 9 negara peserta Festival Kesenian Rakyat Internasional, Tampilan Musik Gerbang Etam Mini Orchhestra dengan composer Ahmad Fauzi dengan  16 personil menyanyikan lagu Kalimantan dan Begenjoh, Dilanjutkan Persembahan Tari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yaitu Tari Puteri Karang Melenu dengan 20 penari  yang didukung oleh 15 pemusik,  Kemudian menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Pembacaan Doa oleh Bapak H Ali S.Ag. M.Pd, Dilanjutkan Sambutan Rita Widyasari Bupati Kutai Kartanegara, Sambutan Nico Barito Perwakilan Duta Besar, Sambutan Profesor Awang Faroek Ishak Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, dan Sambutan Yasonna H Laoly Menteri Hukum dan Ham RI sekaligus secara resmi membuka Festival Kesenian Rakyat Internasional ke 5 Dalam rangka Erau Kutai 2017, Menyalakan tujuh buah  brong ( Obor Besar ), serta di akhiri penampilan tari kolosal yaitu Persembahan tarian Masal “Bena Budaya Etam”.

Parade 9 negara peserta EIFAF 2017,  diawali penampilan Marching Band Gita persada Mulawarman SMA Negeri  1 Tenggarong  yang dipimpin oleh Arum Jati Mulatsih M.Pd, diketuai Rizki Ramadhan dan  dilatih oleh Telabang organizer serta didukung 50 personil.  Menampilkan Lagu Viva La Vida, Nasi Bekepor dan Aku Bernyanyi. Dilanjutkan oleh pembawa bendera Merah putih, bendera CIOFF dan bendera Panji Kutai Kartanegara, Kemudian penampilan pertama dari Delegasi Bulgaria, nama kelompok Ensemble Folklkoria, Direktor Evelina Pavlova dengan jumlah delegasi 27 orang yang membawa tarian Shopluk. Penampilan kedua dari Delegasi China Taipei, nama kelompok Joy Dance Culture and Art Group, Direktor wei Chi – yen dengan jumlah delegasi 25 orang yang membawa tarian Red Cantean. Penampilan ketiga dari Delegasi India, nama kelompok Han Om Culture Academy,  Direktor Shah Rajesh Ramanial dengan jumlah delegasi           25 orang yang membawa tarian Krishna Lila. . Penampilan keempat dari Delegasi Jepang , nama kelompok Zi Pang and STJ,  Direktor  Hiroyuki Hayashida dengan jumlah delegasi 13  orang yang membawa tarian Permainan tradisional Drum “Taiko” yang diiringi Suling Bambu”Yokobue”. Penampilan kelima dari Delegasi Korea Selatan, nama kelompok Yoon Minsook Dance Company,  Direktor  Yun Min Sook dengan jumlah delegasi 16  orang yang membawa tarian Taepyung – Mu (Peace Dance). Penampilan keenam dari Delegasi Polandia, nama kelompok Wilko Polanie,  Direktor  Piotr Kuika dengan jumlah delegasi 25  orang yang membawa tarian dari wilayah Pegunungan Beskid di Kawasan Selatan. Penampilan ketujuh dari Delegasi Slovakia, nama kelompok Elena Kubalova,  Direktor  Elena Kubainya dengan jumlah delegasi 24  orang yang membawa tarian Trencin Dolinecka. Penampilan kedelapan dari Delegasi Thailand, nama kelompok Nakhon Ratchasima rajabhat Unvercity,  Direktor   Watcharakiattisak Wilawan dengan jumlah delegasi 26  orang yang membawa tarianDrum Tom Tom.

Dalam sambutannya Rita Widyasari, mengatakan “…Penghelatan budaya merupakan penyejuk / dahaga bagi masyarakat, baik itu seniman, pelaku industri pariwisata dan turut juga niat baik memajukan sektor pariwisata di Kukar terkhusus ekonomi kreatif yang ada di daerah ini dan cita cita kami dalam memberikan rasa bahagia bagi masyarakat itu adalah tugas kami karena pariwisata merupakan juga tonggak di Visi dan Misi kami di Gerbang Raja. Bahwa Pariwisata kedepan harus menjadi salah satu sektor utama penyumbang Devisa bagi Daerah”.  Kemudian Yasonna H laoly Menteri Hukum dan Ham RI, dalam sambutannya “..Kebahagiaan tersendiri bagi saya dapat hadir di tengah tengah masyarakat Kukar dan dapat menyaksikan gelar budaya yang begitu terasa kental di daerah ini. Hal lain yang membanggakan Pemkab Kukar begitu bersungguh sungguh untuk melestarikan dan memajukan seni budaya nya tidak hanya dalam skala nasional tapi juga dalam skala internasional. Pada kesempatan ini saya mengucapkan selamat kepada Bupati Kukar, karena festival budaya ini merupakan festival Budaya Terpopuler di tanah air pada Anugerah Pesona Indonesia Tahun 2016”.




Mendirikan Ayu


Upacara adat “Mendirikan Ayu” digelar di Ruang Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura pada hari Minggu tanggal  23  Juli  2017  sekitar pukul  09.00 WITA. Upacara ini dipimpin oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II, yang dihadiri oleh Putra Mahkota Haji Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Surya Adiningrat, beserta kerabat kesultanan, Menteri Hukum dan Ham RI Bapak Yasona H Laoly, Duta Besar Republik Seycheiles Nico Barito, Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak, Pangdam 6 Mulawarman, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari , Wakil Bupati Kutai Kartanegara Edy Damansyah,  Ketua DPRD Kab Kutai Kartanegara, Sekretaris  Daerah Kab Kutai Kartanegara H.Marli, Kepala OPD Kab Kutai Kartanegara, dan para Raja dari berbagai daerah di tanah air serta undangan.






Erau di mulai dengan upacara adat Mendirikan Ayu  Sedangkan “Ayu” adalah sebuah tiang yang berbentuk tombak dan terbuat dari kayu ulin yang biasa disebut dengan nama “Sangkoh Piatu”. “Sangkoh Piatu” merupakan senjata Raja Kutai Pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti yang pada batangnya diikatkan Tali Juwita  yang menyimbolkan berbagai lapisan pada masyarakat dan Cinde yang menyimbolkan keluarga Sultan Kutai.. “Mendirikan Ayu” merupakan sebuah simbolisasi dari upaya untuk mencari atau mendirikan kerahayuan (keselamatan atau ketentraman).







Upacara adat “Mendirikan Ayu” dimulai dengan menyiapkan peralatan upacara, yaitu sebidang Jalik yang dihamparkan dan diatasnya  dihiasi Tambak Karang bermotif naga biasa dan naga kurap, serta seluang mas berwarna-warni. Pada Tambak Karang ini terdapat  empat ekor naga yang masing-masing menghadap ke empat sudut luar dan di bagian tengah bermotif taman, sedangkan bagian lainnya terisi dengan seluang mas.

Empat kepala naga yang menghadap ke sudut luar masing – masing bertaringkan “Pisang Ambon”, dengan  mulut terbuka sedang menggigit “Kemala” yang disimbulkan dengan sebutir telur ayam kampong serta terdapat lilin besar, lilin kecil, peduduk, piring sebagai alas baju salinan dan jambak dari daun kelapa muda (Janur).

Di atas Tambak Karang dihamparkan  kasur berwarna kuning dan di atas kasur kuning ini dihamparkan kain kuning motif merah yang disebut Tapak Liman. dan di atas Tapak Liman ini diletakan Gong Raden Galuh yang dibungkus kain kuning berdekatan dengan Batu tija’an. Di atas Gong Raden Galuh inilah berdiri Sangkoh Piatu atau “Tiang Ayu”. Pada Bagian bawah belakang tersedia Perapen (Persepan) yang dilengkapi dengan lampu tembok, suman dan tepung tawar. Sebelah kanan  Tiang ayu terdapat Balai / Tiang persembahan yang berisi satu buah peduduk dan pakaian persalinan sultan dan jabangan mayang nyiur, sedangkan sebelah kiri terdapat jabangan mayang pinang dan guci / molo tertutup berisi Air Kutai Lama.







Dewa Belian menempatkan diri di sisi kiri dan kanan Tambak karang duduk bersila. Lapisan kiri kanan untuk undangan, kerabat dan di bagian belakang sisi kanan keluar di isi oleh Pangkon Dalam dan Pemukul Gamelan, sedangkan sisi kiri keluar di isi juga oleh Pangkon Dalam. Para pejabat / petinggi dan Putra Sultan duduk bersila di bagian depan dan di tengah-tengah terdapat Kursi Sultan.

Prosesi  “Mendirikan Ayu”, perapen dinyalakan dengan aroma wangi dan alunan suara gamelan di dengarkan sambil menunggu sultan di tempat acara. Sultan dengan mengenakan pakaian kebesaran menuju Tiang Ayu, para hadirin semua berdiri member penghormatan dan kehidmatan. Dewa belian melakukan Sawai dan Tiang Ayu didirikan. Setelah itu, hadirin duduk kembali dan sultan duduk di kursi  singgasana yang telah disediakan.







 

Dalam upacara adat Mendirikan Ayu ini, dilakukan juga pengukuhan dan penyerahan gelar kesultanan yaitu kepada Menteri Hukum dan Ham RI bapak Yasona H Loaly dengan gelar Pangeran Anoem  Suranegara.  Acara  ditutup dengan doa dan .menyalakan brong di depan Museum Mulawarman oleh Putra Mahkota Haji Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Surya Adiningrat.



Ritual Adat Ngatur Dahar


Ritual upacara mengatur dahar yang dilakukan kerabat kesultanan Kutai  Kartanegara sebelum pesta Erau di mulai. Upacara ini pada intinya adalah menyajikan makanan ringan berupa jajanan terdiri 41 jenis. Bertujuan selain  ungkapan rasa syukur  kepada Tuhan yang maha esa juga  mengajak  tokoh warga dan tokoh alam gaib agar selama Erau berlangsung  tidak sungkan untuk  menikmati hidangan setiap hari yang disajikan Sultan dan kerabatnya  di Keraton. Upacara ini juga bisa dilakukan di luar Erau terutama untuk  mengawali  hajatan   yang skalanya lebih besar seperti pesta kemeriahan perkawinan raja atau putra mahkota.

Dalam pelaksanaan Erau Adat Kutai 2017 upacara mengatur dahar ini  digelar  di ruang pertemuan keluarga Keraton Sultan Tenggarong pada Sabtu malam (2/7)  sebelum Erau dimulai. Dalam pelaksanaan   dilakukan setelah makan malam dengan menyajikan  sejumlah kue khas daerah. Seperti wajik  warna-warni,  pais, lempar dan lemang. Buah buahan sepert pisang juga disajikan, bahkan bahan makanan masih mentah seperti biji kacang hijau dan  pipilan jagung yang sudah dipecah disajikan.  Tersedia pula ikan gabus   dan ayam panggang namun sayur  dan nasi tidak tampak di hidangkan pada upacara ini.




Pawang upacara Mengatur Dahar mengatakan  upacara ini masih tetap dilestarikan karena banyak segi positif ketimbang aspek negatifnya. Sebab  semua mahluk tuhan   pasti senang dan suka  jika    menikmati hidangan. Terlebih yang menyajikan adalah Sultan dan kerbatnya. Dengan suasana senang dan suka cita tentu akan berbuah rasa damai dan tenteram. Turut hadir dalam acara mengatur dahar ini Sekretaris Daerah Ir. Marli. M.Si dan tokoh masyarakat serta kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara




Kirab Budaya Internasional 2017


Dalam rangka Erau Adat Kutai & 5Th International Folk Arts Festival Tahun 2017 yang dilaksanakan mulai tanggal 22 sampai dengan 30 Juni 2017, salah satu rangkaian acaranya yaitu kirab budaya yang dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 22 Juli 2017, acara dimulai dari jam 09.00 – 12.00 WITA.






Hadir pada acara kirab budaya Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari.P.Hd, Wakil Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah.,MM, Putra Sultan A.P.A.P.Praboe Anum Surya Adiningrat, Muspida Kabupaten Kutai Kartanegara, Sekretaris Dearah Kab. Kutai Kartanegara Ir. H. Marli.M.,Si, Ketua DPRD Kab. Kukar H. Salehuddin.S.Sos.,Sfill, seluruh  Kepala SKPD, Camat, dan Lurah di lingkungan Kab. Kutai Kartanegara. Kirab budaya ini juga disaksikan oleh seluruh masyarakat Kutai Kartanegara yang ingin menyaksikan kirab budaya Internasional secara langsung.




Kirab Budaya Internasional ini di ikuti oleh 29 paguyuban/sanggar seni lokal yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara dan 8 peserta Foklore. Acara kirab budaya mulai startnya di depan Gerbang Raja yang dibuka oleh  Sekda Kab Kutai Kartanegara Ir. H. Marli.M.,Si dan Kepala Dinas Pariwisata Kab. Kukar Ibu Dra. Sri Wahyuni.,MPP dan Presiden CIOFF Indonesia Said Rachmat. Finis Kirab Budaya Internasioal yaitu di panggung kehormatan di halaman Kedaton, tampilan di depan Kedaton di bagi perjenis, dan diawali oleh prajurut Keraton dan kesultanan memberikan tempong tawar kepada seluruh para undangan.




Kemudian tampilan Marcing Band, kelompok Paguyuban bersalang seling dengan peserta Fokloore, yang pertama dari sanggar tari Gubang Kutai Kartanegara Adecom dan Bunga Mekar. selanjutnya dari Group Negara Jepang, dari kelompok Benuaq Dance dan Group Jepen 2, lalu dari Negara India, kemudian tampil dari group kesenian Dayak Kenyah, lalu dari Negara Polandia, selanjutnya dari Group Jepen 1 dilanjutkan Negara Thailan, tampilan berikutnya dari kerukunan Dayak Modang dan Negara Slowakia, dilanjutkan Group Toraja, dari Negara China Taipei, selanjutnya dari kesenian local dan Negara Korea Selatan, tampilan berikutnya dari Group kesenian KKSU dilanjutkan Negara Bulgaria dan terakhir ditutup oleh kesenian local yaitu Ikatan Keluarga Munang Kukar, dari Group Kesenian Bali, Paguyuban Seni Jaranan (Mekar Asri), Paguyuban Bumi Kutai Kartanegara, Kesenian Gendang Bleg dan Kesenian Reok Ponorogo.






 


 





Upacara Adat Merangin


Dalam Prosesi Adat Erau terdapat didalamnya Ritual Merangin yang digelar tiga (3) malam berturut-turut setiap malamnya sebelum acara Erau dimulai dan juga dilaksanakan dalam pelaksanaan Erau setiap malam kecuali malam Jum`at. Upacara adat Merangin ini dimulai sejak pukul 20.00 wita dipusatkan dilapangan parkiran Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman). Bangunan tersebut terbuat dari kayu beratapkan daun nipah yang terletak disamping Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman) dengan melibatkan tujuh (7) orang Belian (sebutan untuk laki-laki ahli mantra dalam bahasa Kutai) dan tujuh (7) orang Dewa (sebutan untuk Perempuan).



Acara Merangin ini adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau, tujuannya adalah mengundang mahluk goib untuk ikut serta dalam kemeriahan Erau Adat Kutai and 5th International Folk Arts Festival 2017. Ritual Merangin malam pertama ini, gunanya untuk memberitahukan mahluk goib yang berada dilangit bahwa sebentar lagi Erau akan dilaksanakan.




Upacara adat Merangin ini diawali dengan pembacaan "Memang"(mantra) oleh salah satu dari tujuh (7) Belian Laki yang mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan. Sementara pimpinan Dewa ikut dalam lingkaran tersebut membakar kemenyan tampak sesekali menghamburkan beras kuning. Binyawan adalah alat utama dalam ritual Merangin berbentuk tiang tersebut dari bambu, dan dibalut janur kuning yang disusun dari bawah hingga keatas sebanyak tujuh (7) tingkat. Dibagian atas Binyawan terdapat replika kura-kura yang juga dibuat dari kayu.



Peralatan lainnya yaitu disisi pinggiran Keraton Belian terdapat dua ayunan yang terbuat dari kayu dengan rotan sebagai penggantungnya. Salah satu ayunan diukir dengan ornamen Buaya yang disebut Romba, sedangkan satu ayunan lagi disebut Ayun Dewa.

Bunyi tetabuhan gendang dan gong berirama terus menerus mengalun mengiringi ritual itu menambah suasana magis semakin terasa dalam upacara adat itu. Apalagi ketika tujuh (7) orang Belian mulai berputar mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan.



Ketika para Belian terus berlari keliling sambil sambil memegangi batang Binyawan, tiang Binyawan itu pun ikut berputar. Para Belian tampak sesekali menaiki Romba yang berputar makin lama semakin cepat. Sementara itu, para Dewa yang terdiri dari tujuh (7) orang wanita sesekali melemparkan beras kuning kearah para Belian yang terus berputar mengelilingi Romba dengan cepat.



Upacara adat Merangin diakhiri dengan tarian Dewa Bini yang juga ikut mengelilingi Romba namun berbeda dengan para Belian, tarian Dewa ini dibawakan secara lemah gemulai, yang merupakan rangkaian dari ritual adat Menjamu Benua yang telah dilakukan pada siang harinya, dengan tujuan memberitahukan kepada mahluk goib lainnya bahwa acara Erau akan digelar.