Banner 0

Beluluh Awal

Banner 2

Banner 3

Desa Budaya

Banner 5

Buka Erau

Banner 7

Banner 8

Benner9

Statistik

Hit hari ini : 178
Total Hits : 1,416,068
Pengunjung Hari Ini : 90
Pengunjung Online : 2
Total pengunjung : 372,589

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Ngulur Naga Erau 2019


 Bertempat di depan Keraton Kutai (Museum Mulawarman) Tenggarong Kutai Kartanegara Ing Martadipura, puncaknya dari kegiatan Erau Adat Kutai yang telah berlangsung selama sepekan, seluruh masyarakat, para Pejabat Pemkab Kutai Kartanegara, dan seluruh Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menyaksikan prosesi Ngulur Naga. Sebelumnya, replika Naga Laki yang ditempatkan di serambi kanan dan Naga Bini di serambi kiri keraton bersemayam selama tujuh hari tujuh malam, hingga akhirnya diturunkan melalui Rangga Titi.


 Sesaat sebelum Naga diulur, Wakil Gubernur Hadi Mulyadi dalam sambutannya berharap agar tradisi pesta adat Erau dapat terus diprtahankan dan di lestarikan, mudah – mudahan acara ini dapat memberikan manfaat bagi masyrakat Kalimantan Timur dan Indonesia. Usai sambutan, terlebih dahulu dibacakan riwayat naga, selanjutnya setelah ritual Besawai, kedua replika naga tersebut dibawa menuju dermaga depan Museum Mulawarman untuk dinaikkan keatas kapal. Menteri Pelestarian Nilai-nilai Budaya Adat, Kesultanan Kutai, H Adji Pangeran Haryo Kusumo (APHK) Poeger, mengatakan, kedua replika naga ini selanjutnya akan diulur atau dilarung di sungai Mahakam, Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana.


 "Sementara saat naga dalam perjalanan ke Kutai Lama, di keraton diadakan upacara Beumban dan Begorok untuk Sultan yang kali ini digantikan Putera Mahkota,". Setelah upacara Beumban dan Begorok dilaksanakan, tepat pukul 11.00 Wita, akan dilakukan upacara Rangga Titi di pelabuhan yang telah tersedia Balai, Putera Mahkota kemudian duduk di atas Balai menghadap ke Sungai Mahakam yang diapit oleh 7 orang Pangkon laki dan 7 orang Pangkon bini.


 "Setelah itu Air Tuli yang diambil dari sungai di Kutai Lama tiba dan dipercikan oleh Putera Mahkota kepada para hadirin, maka seluruh masyarakat di sekitar keraton dan lokasi-lokasi yang telah ditentukan melakukan ritual Belimbur atau saling menyiramkan air yang bermakna mensucikan diri,".

Pembacaan Berjanji Di Erau 2019


 Acara Bepelas yang terus dilaksanakan setiap malamnya selama Erau Adat Kutai, namun khusus malam Jum’at, acara bepelas ditiadakan dan digantikan dengan pembacaan Berzanzi, Bertempat di keraton Kutai Kartanegara, Kamis 12 September 2019, tepat pukul 20.30 Wite acara pembacaan berzanji dilaksanakan, acara ini dihadiri langsung oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI , kerabat kesultanan serta para undangan.


 Pembacaan Berjanzi ini di pimpin oleh Imam Jahidi dari kelompok Hadrah Al Fatah, yang beranggotakan 40 orang.


 Arti dari Berzanji ialah suatu doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran, khitanan, pernikahan dan maulid Nabi Muhammad saw. Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul.


 Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Acara pembacaan berjanzi diakhiri dengan  pembacaan doa, dan dilanjutkan dengan tari Rudat yang dibawakan 10 orang, tarian ini mirip dengan tariam saman dari Aceh, yang mana setiap gerakan tarian rudat adalah Zikir Kepada Allah SWT.

Meriahnya Panggung Kesenian Di Erau Adat Kutai


  Antusiasnya masyarakat menyaksikan panggung kesenian Erau di Kedaton dari tanggal 8 – 14 September 2019. Budaya khas lokal ditampilkan dipanggung, berbagai kesenian dan musik daerah dilantunkan di panggung.


 Kesenian yang ditampilkan berasal dari beberapa Kecamatan di Kutai Kartanegara, setiap delegasi dari Kecamatan-Kecamatan sangat mengapresiasi panggung kesenian ini karena memberi kesempatan kepada kesenian tiap Kecamatan untuk menampilkan kesenian mereka masing-masing. Begitu pula antusias masyarakat yang menyaksikan panggung kesenian di Kedaton ini, terlihat ramainya masyarakat dari awal hingga malam penutupan untuk menyaksikan kesenian-kesenian daerah khas Kecamatan-Kecamatan.


 Adapun Kecamatan yang tampil antara lain Kecamatan Tenggarong, Kecamatan Loa Janan, Kecamatan Muara Muntai, Kecamatan Muara Kaman, Kecamatan Kota Bangun, Kecamatan Kembang Janggut, Kecamatan Tabang, Kecamatan Samboja, Kecamatan Muara Badak, Kecamatan, Marangkayu, dan Kecamatan lain yang ikut serta dalam kesenian panggung di Kedaton.


 Tiap Kecamatan berharap event seperti ini terus dilaksanakan guna mengembangkan kesenian yang ada di Kecamatan-Kecamatan.

Olahraga Tradisional Dagongan Di Erau 2019


 Masih dalam menyemarakkan Erau Adat kutai, permainan tradisioanl dagongan turut di perlombakan selam beberapa hari di samping halaman parkir tempat wisata Pulau Kumala Tenggarong, olahraga tradisional dagongan berlangsung sangat seru karna setiap tim menurunkan para pemainnya atau atlitnya yang memang memiliki postur tubuh yang besar, agar dapat mengalahkan tim lawan dengan mudah.

 Dagongan adalah permainan olahraga tradisional yang mempergunakan bambu dengan ukuran tertentu sebagai alat mengadu kekuatan untuk  saling mendorong antara regu yang satu dengan regu yang lain. Permainan  Olahraga tradisional dagongan ini merupakan kebalikan dari permainan tarik tambang. Untuk tarik tambang dalam cara bermain dengan saling manarik, sedangkan untuk permainan dagongan, kedua regu saling mendorong sekuat tenaga untuk mencari kemenangan.

 Dagongan dimainkan secara beregu, baik putera maupun puteri. Jumlah anggota regu sebanyak 7 orang, terdiri dari 5 pemain dan 2 cadangan.  Kedua regu diwajibkan memakai kostum seragam dengan nomor dada/punggung dimulai dari angka 1 s.d 7. Sebagaimana permainan tradisional lainnya, Permainan olahraga tradisional dagongan ini dilakukan di arena berumput dan memiliki permukaan yang datar/rata. Area dagongan merupakan area petak persegi panjang yang mempunyai ukuran 2 meter X 18 meter. Garis tengah dibuat untuk membagi dua lapangan dengan sama panjang. Area serang dibatasi oleh garis pembatas  dengan jarak 2,5 meter dari garis tengah. Garis serang ini merupakan garis batas kaki pemain paling depan. Seluruh garis pembatas lapangan sebaiknya dibuat dari kapur saja.

 Bambu yang dipergunakan dalam permainan olahraga tradisional ini adalah menggunakan bamboo yang mempunyai ketebalan dan kekuatan yang dipersyaratkan. Tidak diperkenankan menggunakan bamboo dengan diameter yang terlalu kecil dan mudah patah, karena dapat membahayakan seluruh pemain. Bambu yang dipergunakan minimal berdiameter 12 cm – 18 cm dengan ukuran panjang 5 m – 8 m.

Lomba Dagongan sendiri dimainkan dengan sistem gugur dengan permainan dua kali main. Yang kalah didorong maka dianggap gugur dalam pertandingan tersebut.




Olahraga Tradisional Begasing Di Erau 2019


 Serunya Lomba Olahraga Tradisional dalam rangka meramaikan Erau Adat Kutai 2019, Berbagai lomba olahraga tradisional telah dimulai hari ini, diantaranya lomba begasing, belogo, dagongan, dan lain-lain.

 Lomba begasing yang memang memiliki banyak sekali peminatnya, terlihat dari berbagai komunitas mengikuti permainan ini, baik dari kecamatan – kecamatan yang dari kab Kukar maupun dari luar Kab Kukar, adapun yang di perlombakan kali ini ialah kategori berajaan.

 Permainan Bagasing ini tidak terpisahkan dari masyarakat Kutai karna menariknya permainan tradisional ini, sehingga dari anak – anak hingga dewasa, hingga orang tua beradu ketangkasan dalam memainkan gasing yang sudah ada sejak puluhan tahun silam. Antusias terhadap permainan olahraga tradisional ini sangatlah tinggi dan menjadi tontonan mengasikkan bagi masyarakat. Begasing merupakan permainan yang dilakukan menggunakan alat berupa gasing dan tali penarik, sebongkah kayu berbentuk lonjong (simetris radial) dengan diameter sekitar 10 hingga 15 centimeter, tinggi sebuah gasing 15 sampai 20 centimeter, salah satu ujung dibuat lancip dan memiliki permukaan yang licin.


 Pada ujungnya dipasang bahan logam sebagai poros putaran, biasanya menggunakan paku jenis kayu yang digunakan kayu benggris atau ulin. Sementara tali penarik berdiameter 0,5 centimeter dengan panjang 1 hingga 1,5 meter. Kemudian tali ini dililitkan ke gasing dengan bagian ujung tali dikaitkan ke jari sang pemain. Setelah itu dilemparkan ke bawah seperti membanting sesuatu, sehingga tali melilitnya membuat gasing berputar dan gasing dapat berputar. Masyarakat bisa menyaksikan langsung berbagai jenis gasing dan ikut bertanding di Erau, di sepanjang turapan atau tepatnya di samping halamn parkir penyebrangan pulau kumala. Para pemuda ini memang membentuk komunitas – komunitas di setiap kecamatannya masing – masing untuk hadir serta mempertahankan permainan tradisional yang nyaris punah. Terlihat antusias masyarakat melalui Komunitasnya masing - masing yang mengikuti Lomba Begasing ini dengan peserta untuk katagori Berajaan .




Tradisi Duduk Makan Bersama Beseprah


 Tepat berada di depan Keraton ( Museum Mulawaran ), sebagai rangkaian kegiatan perhelatan Pesta Adat Erau  dijalan Diponegoro, Kecamatan Tenggarong Rabu pagi, 11 September 2019. Tua, muda, Kerabat Kerajaan, hingga rakyat biasa berbondong - bondong datang untuk hadir serta menikmati hidangan yang telah disediakan oleh pihak Kesultanan dalam acara Beseprah. Salah satu kegiatan yang di tunggu – tungu oleh masyarakat Kutai Kartanegara, khusunya yang berada di kota Tenggarong, Karna pada hari ini berlangsung pada pagi hari acara Beseprah, Acara beseprah merupakan makan duduk bersama Raja Kutai Sultan Kutai XXI dengan gelar Sultan Adji Muhammad Arifin dengan warganya, dan hadir pula seluruh Pejabat Pemkab Kutai Kartanegara. Baik dari Pihak Kesultanan, Pejabat Pembkab Kutai Kartanegara dan seluruh masyarakat duduk bersila saling berhadap – hadapan untuk menikmati berbagai hidangan tradisional, khususnya makanan khas Kutai disajikan, seperti bongko, sarabai, putu ayu, singkong goreng, kue cincin, tumbi, bingka, nasi kuning dan nasi uduk.

 Dalam tradisi ini, tidak ada batasan sosial antara warga dan pejabat maupun pihak Kesultanan. Mereka makan bersama, menikmati hidangan tanpa membedakan jabatan. Tentu saja ini untuk mengakrabkan dan mendekatkan pejabat dengan rakyatnya. Sejak dulu diselenggarakan sultan yang berkuasa. Sebagai jamuan persembahan bagi rakyatnya. Simbol harapan dan doa yang dari sultan. Agar menjadi pemimpin yang selalu mengayomi. Acara itu juga keinginan sultan untuk membaur merasakan yang dirasakan rakyatnya.

 Pada era modern, momen tersebut jadi ajang makan bersama. Juga bertujuan mempererat silaturahmi. Menghilangkan segala strata sosial. Momen kebersamaan dengan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

 Bupati Kutai Kartanegara yang hadir Drs. Edi Damansyah. M.Si., mengimbau  seluruh masyarakat bersama - sama menyukseskan rangkaian kegiatan Erau 2019. "Mari kita tunjukkan jati diri masyarakat etam yang ramah tamah, penuh sopan santun, serta menjaga adat ketimuran,. Beliau menambahkan, sektor pariwisata di Kutai Kartanegara merupakan potensi unggulan pada masa depan. Maka, penting untuk menghadirkan rasa tentram dan aman bagi wisatawan. Pada event seperti inilah kesempatan memberi kesan baik tersebut. Terutama kepada para tamu mancanegara.




Upacara Bepelas Di Keraton (Museum Mulawarman) Dalam Rangka Upacara Adat Erau 2019.


 Ritual Bepelas didahului dengan ritual Merangin oleh Dewa dan Belian di Serapo Belian. Usai Merangin, Dewa dan Belian menuju ke keraton dan berputar sebanyak tujuh kali di area Bepelas, kemudian duduk bersila berjajar, Dewa di sebelah kanan dan Belian di sebelah kiri dengan dipimpin oleh Pawang menghaturkan sembah hormat. Ritual dilanjutkan dengan sajian Tari Selendang oleh Dewa dengan diiringi gamelan sambil mengelilingi area Bepelas sebanyak satu kali. Pada saat yang sama Pemangkon Dalam menyalakan lilin di empat sudut. Selanjutnya ditampilkan Tari Kipas dan Tari Jung Njuluk yang dibawakan oleh Dewa. Para penari mengelilingi area Bepelas sebanyak satu kali. Pawang Dewa melakukan Memang di belakang Tiang Ayu diiringi alunan seruling. Memang bertujuan untuk mengundang Dewa Karang dan Pangeran Sri Ganjur untuk menjaga Pohon Ayu dari gangguan roh-roh jahat selama ritual Bepelas berlangsung.


 Ritual berikutnya adalah penampilan Tari Memuja Panah dengan menggunakan anak panah yang ujungnya dibelah menjadi tujuh mata api. Penari berputar satu kali di area Bepelas, kemudian pada putaran kedua melepaskan busur ke empat penjuru untuk menghilangkan gangguan selama ritual Bepelas berlangsung. Pawang Dewa kembali melakukan Memang untuk mengundang Pangeran Sri Ganjur dengan iringan seruling dan dewa meletakkan empat buah ikat kepala dan empat buah gada yang ditempatkan pada dua buah baki. Bersamaan dengan itu, muncul empat orang laki-laki, dua di kiri dan dua di kanan, untuk menarikan Tari Ganjur. Penari memasangkan ikat kepala dan memegang gada sambil menari sekali putaran di keempat sudut ruangan dengan iringan irama Ganjur. Pada putaran kedua, tampil tujuh orang Dewa menari sambil membawa kipas dan diikuti oleh dua orang penari Ganjur untuk berputar sekali putaran. Pawang Dewa Laki dan Bini, Pangkon Laki dan Bini, peniup seruling, dan pembawa perapen bangkit dari duduknya dan menjemput Sultan di ruang salin busana kebesaran. Seruling terus menerus ditiupkan hingga terdengar sayup dan tak lama kemudian rombongan atau utusan ini kembali lagi ke area Bepelas bersama Sultan.


 Usai Tari Kanjar Bini dimainkan, Dewa menyerahkan sehelai Selendang Kuning kepada putra atau kerabat sebagai pemimpin atau kepala penari yang kemudian diikuti oleh kerabat untuk menarikan Tari Kanjar Buah Kamal. Pangkon Dalam Bini menyalakan lilin kecil di empat sudut sambil berdiri hingga tarian sebanyak dua putaran selesai dilakukan.Demong melaporkan kepada Sultan bahwa ritual Bepelas malam pertama telah selesai dilakukan. Sultan kemudian kembali ke tempat peristirahatan, sementara itu alunan gamelan penutup dibunyikan dan lilin dimatikan.   Bepelas dilaksanakan selama tujuh malam.


 Setiap malam dilakukan ledakan (suara dentuman meriam) sebanyak jumlah malam yang dilaksanakan. Malam pertama hingga keenam dilakukan ledakan sesuai dengan jumlah malam, sedangkan pada malam ke tujuh hanya dilakukan satu kali ledakan. Bepelas ini dilaksanakan pada pukul 20.00 sampai dengan selesai di Keraton Kukar atau Museum Mulawarman. Hadir dalam upacara Bepelas ini bergantian setiap malamnya, baik dari pejabat Pemkab Kukar maupun perwakilan dari kerabat sultan, camat tenggarong dan perwakilan peserta undangan yang hadir turut serta juga dalam tarian Kenjar Laki dan Kenjar Bini bergantian setelah prosesi bepelas tersebut berlangsung.

Beluluh Sultan


 Ada Prosesi Adat Beluluh yang dapat di saksikan masyarakat umum di teras atau di depat Keraton Kesultanan Kutai, Beluluh ini dilaksanakan setiap sore harinya, dan dilkasnakan langsung oleh Sultan Kutai. Beluluh biasanya dilaksanakan pada permulaan sebelum Erau yang dilakukan setiap sore hari selama Erau berlangsung Upacara Ritual Beluluh sendiri terdiri dari Beluluh Sultan, Beluluh Aji Begorok, dan Beluluh Aji Rangga Titi.

 Upacara diawali oleh Sultan / Raja / Putra Mahkota duduk sejenak di tilam Kasturi kemudian bangkit menuju Balai atau tempat duduk mirip kursi setinggi tiga tingkat yang dibuat dari bambu kuning bertiang 41 buah yang berada diatas tambak karang melalui Molo / guci kuningan yang berhias bunga / mayang kelapa dan mayang pinang yang terdapat di sebelah kiri dan kananan. Sesampainya di depan balai Sultan menaiki balai dan duduk di tingkat ketiga persis di bawah hiasan daun beringin dan di belakangnya terdapat Balai Persembahan, sedangkan sebelah kiri dan kanan di pagari oleh Pangkon Dalam 7 bini dan 7 laki dan belian serta di setiap sudut terdapat Penduduk.

 Demong mengatur dewa laki melaksanakan Memang dan Dewa Bini menghidupkan prapen. Sultan di tutupi Kirab Tuhing diatas kepala di bawah daun beringin oleh dua orang pembantu di sebelah kanan dan dua orang di sebelah kiri. Kirab Tuhing di balik sebanyak tiga kali dan di jatuhkan beras kuning kebelakang. Sejenak kemudian Dewa Laki dan Dewa Bini bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Sultan untuk memberi Tepong Tawar dengan air cindera mata dan air kembang di bagian telapak tangan kanan, kiri, lutut,kanan dan kiri dan betis kanan dan kiri dan di sekakan kemuka.

 Setelah itu baru turun dari balai untuk di sapukan mencari salah seorang petinggi setempat guna melaksanakan Ketikai Lepas, Sultan berdoa bersama sambil beristirahat, pembantu dewa bergeser berjalan duduk sambil membawa air bunga dalam wadah untuk tepong tawar sekalian yang hadir dan dalam prosesi ini di ruangan di mainkan musik gamelan salaseh atau marandowo


Pesta Adat Erau Resmi Dibuka 0leh Sultan Kutai Kartanegara


 Pesta Adat Erau telah dibuka secara resmi oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura H. Adji Muhammad Arifin dengan di iringi dentuman keras yang berada di depan Museum Mulawarman Tenggarong sebagai tanda pembukaan Erau 2019. Acara yang di awali dengan prosesi mendirikan Ayu, lalu berlanjut di teras keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang di hadir seluruh Pejabat baik dari Pemprov dan Pemkab, serta Kerabat Kesultanan.

 Ketua Panitia Erau, Awang Yakoub Luthman menyampaikan terima kasih telah dikembalikan marwah Erau pada Kesultanan Kutai, bahkan pelaksananya diserahkan kepada pihak kesultanan di mana selama bertahun-tahun menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Pemkab Kukar. "Seiring perkembangan konsep wisata destinasi Indonesia yang telah bertransformasi dari Erau dengan cara konservatif menjadi Erau yang lebih progresif dengan menampilkan budaya kemasan internasional adalah bukan hal yang salah dan kami tetap menjunjung tinggi dan mengapresiasi langkah Pemkab untuk hal tersebut,". Beliau juga menyampaikan terima kasih atas bantuan dari Pemprov dan Pemkab, termasuk bupati, sekda dan perangkat OPD yang memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya Erau Kesultanan Kutai 2019 dengan tema Eroh Berpijak Awal, Kerabat Tirakat, Kampung Tirakat, Rakyat Tirakat, Berharkat Beberkat. Ini menandakan adanya kepedulian terhadap adat dan erau ini adalah pesta rakyat.

Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah. MSi. mengatakan, Pesta Adat Erau ini masuk dalam kalender nasional dan menjadi ajang terpopuler yang sudah ditetapkan Kementerian Pariwisata. Menurut beliau ini kali pertama Erau dipisahkan dengan Tenggarong International Folk Art Festival (TIFAF) berkaitan dengan pelaksanaan Hari Jadi Kota Tenggarong. "Tahun ini atas kesepakatan kami bersama Yang Mulia Sultan dan kerabat sehingga pelaksanaan Erau ini kita pisah. Ini untuk menjaga tradisi dan eksistensi Kesultanan Kutai, kita memberikan dukungan sehingga tradisi adat budaya di tanah Kutai bisa kita jaga dengan baik.

 Berlanjut dengan penyampaian Gubernur Kaltim Dr. Ir. H. Isran Noor, M.Si. menyampaikan, Erau itu sangat penting sebagai upaya bagaimana melestarikan adat istiadat budaya yang ada di Kutai Kartanegara, Kaltim."Semua adat budaya di Indonesia sangat penting kalau mereka merayakan dan mengembangkan budaya itu. Terkait dipisahnya Pesta Adat Erau dengan Festival Seni Internasional, beliau mengatakan ini jadi bahan pertimbangan supaya nilai sakral dari tradisi leluhur tetap terjaga. Penyelenggaraan Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara merupakan peristiwa sakral yang harus tetap dijaga untuk melestarikan adat istiadat dan budaya sekaligus menjadi momentum untuk menyukseskan tahun kunjungan wisata Kaltim tahun 2019. “Orang Kutai sejak dulu tidak pernah menolak kedatangan budaya dari seluruh nusantara. Semuanya diterima dengan lapang dada. Dan itu budaya Kutai. Oleh sebabnya, Kaltim khususnya Kutai Kartanegara menjadi penyumbang dan kontributor persatuan dan kesatuan bangsa.

 Terakhir Acara juga dirangkai dengan menyalakan 7 buah brong/obor yang dilakukan oleh pejabat daerah di Kaltim yakni Gubernur Kaltim H. Isran Noor, Bupati Kukar Edi Damansyah, Walikota Samarinda H. Syaharie Ja’ang, Wakil Walikota Samarinda HM Barkati, Bupati Kutim Ismunandar serta pejabat lainnya.

Prosesi Mendirikan Tiang Ayu


 Pihak Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura memulai secara resmi pelaksanaan Erau dengan ritual adat mendirikan Ayu, yang berlangsung di Keraton atau Museum Mulawarman Tenggarong, pada pagi hari. Acara ini di Hadiri Gubernur Kaltim, serta Seluruh Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Erau pun di mulai dengan upacara adat Mendirikan Ayu, Sedangkan “Ayu” adalah sebuah tiang yang berbentuk tombak dan terbuat dari kayu ulin yang biasa disebut dengan nama “Sangkoh Piatu”. “Sangkoh Piatu” merupakan senjata Raja Kutai Pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti yang pada batangnya diikatkan Tali Juwita  yang menyimbolkan berbagai lapisan pada masyarakat dan Cinde yang menyimbolkan keluarga Sultan Kutai.






 “Mendirikan Ayu” merupakan sebuah simbolisasi dari upaya untuk mencari atau mendirikan kerahayuan (keselamatan atau ketentraman). Upacara adat “Mendirikan Ayu” dimulai dengan menyiapkan peralatan upacara, yaitu sebidang Jalik yang dihamparkan dan diatasnya  dihiasi Tambak Karang bermotif naga biasa dan naga kurap, serta seluang mas berwarna-warni. Pada Tambak Karang ini terdapat  empat ekor naga yang masing-masing menghadap ke empat sudut luar dan di bagian tengah bermotif taman, sedangkan bagian lainnya terisi dengan seluang mas. Empat kepala naga yang menghadap ke sudut luar masing – masing bertaringkan “Pisang Ambon”, dengan  mulut terbuka sedang menggigit “Kemala” yang disimbulkan dengan sebutir telur ayam kampong serta terdapat lilin besar, lilin kecil, peduduk, piring sebagai alas baju salinan dan jambak dari daun kelapa muda (Janur). 


 Di atas Tambak Karang dihamparkan  kasur berwarna kuning dan di atas kasur kuning ini dihamparkan kain kuning motif merah yang disebut Tapak Liman. dan di atas Tapak Liman ini diletakan Gong Raden Galuh yang dibungkus kain kuning berdekatan dengan Batu tija’an. Di atas Gong Raden Galuh inilah berdiri Sangkoh Piatu atau “Tiang Ayu”. Pada Bagian bawah belakang tersedia Perapen (Persepan) yang dilengkapi dengan lampu tembok, suman dan tepung tawar. Sebelah kanan  Tiang ayu terdapat Balai / Tiang persembahan yang berisi satu buah peduduk dan pakaian persalinan sultan dan jabangan mayang nyiur, sedangkan sebelah kiri terdapat jabangan mayang pinang dan guci / molo tertutup berisi Air Kutai Lama. Dewa Belian menempatkan diri di sisi kiri dan kanan Tambak karang duduk bersila. Lapisan kiri kanan untuk undangan, kerabat dan di bagian belakang sisi kanan keluar di isi oleh Pangkon Dalam dan Pemukul Gamelan, sedangkan sisi kiri keluar di isi juga oleh Pangkon Dalam. Para pejabat / petinggi dan Putra Sultan duduk bersila di bagian depan dan di tengah-tengah terdapat Kursi Sultan. Prosesi  “Mendirikan Ayu”, perapen dinyalakan dengan aroma wangi dan alunan suara gamelan di dengarkan sambil menunggu sultan di tempat acara. Sultan dengan mengenakan pakaian kebesaran menuju Tiang Ayu, para hadirin semua berdiri memberi penghormatan dan kehidmatan. Dewa belian melakukan Sawai dan Tiang Ayu didirikan. Setelah itu, hadirin duduk kembali dan sultan duduk di kursi  singgasana yang telah disediakan.






Even Tahunan

Even

Unduh Gratis