Banner 1

Banner 2

Banner 3

Banner 4

Banner 5

Banner 6

Banner 7

Banner 8

Bukit Bangkiray

Statistik

Hit hari ini : 311
Total Hits : 1,087,376
Pengunjung Hari Ini : 121
Pengunjung Online : 3
Total pengunjung : 253,075

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Cerau Nasi Bekepor Ramaikan Hari Budaya


Dalam rangka hari Budaya yang diperingati setiap tanggal 12 April, Fakultas Sospol Unikarta mengadakan Cerau Nasi Bekepor dan Nunu suman (bakar lemang) serta penampilan seni musik Tradisional dari para Komunitas seni diantara nya dari Lembaga Seni Budaya Kumala, Lembaga seni  Siswa SMPN 1 Tenggarong, hadir pada cara tersebut Staf Ahli Bupati Otoy Usman yang membuka acara secara resmi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar, Kepala Dinas Pariwisata, serta Rektor Unikarta, dan Para Dekan yang dilaksanakan dihalaman Unikarta. Dekan Fisipol Unikarta Awang Rifani yang merupakan penggagas acara Cerau Nasi Bekepor mengatakan acara ini didukung oleh Masyarakat Adat Bensamar, Masyarakat Adat Bengkuring, Sempekat Kereon Kutai, Keroan Etam Kutai, Komunitas Palem Indi Tenggarong, acara ini juga memperingati Disnatalis Unikarta yang ke 33, serta memperingati hari Juang Awang Long ke 173, dikatakannya kenapa memilih acara Nasi Bekepor yaitu cara memasak khas kutai yang sudah mulai dilupakan orang Kutai, bekepor sendiri adalah masak nasi didalam Periuk setelah air nya kering, periuk diturunkan disamping bara api, agar matang nya merata periuk tersebut diputar beberapa kali, dan memasak nya sendiri menggunakan kayu Bakar, selain itu ada juga Nunu Suman (bakar lemang) ia berharap agar acara ini berlangsung setiap tahun. Dalam sambutan nya Rektor Unikarta mengatakan ia menyambut baik acara budaya yang dikemas dalam acara Cerau Nasi Bekepor dan Nunu Suman, dan merupakan Budaya Lokal bisa dijual dalam bentuk wisata Kuliner. Semantara itu Staf Ahli Bupati Kukar Otoy Usman dalam sambutan nya mengatakan dalam kesempatan ini pemerintah Kabupaten kutai kartanegara mengapresiasi kegiatan ini yang secara tidak langsung membangun dan membangkit kan kembali Adat Budaya Kutai, dan ia berharap agar Festival Nasi Bekepor ini bisa berlangsung setiap tahun sebagai khasanah nilai tradisi Kutai, dan menjadikan sebuah Ikatan Solidaritas berdasarkan persamaan latar belakang. ditambahkannya Nasi Bekepor merupakan khasanah budaya yang harus dilestarikan mengingat budaya tersebut mulai terkikis dari Masyarakat Kutai, filosofinya adalah bagaimana kita mengembalikannya semangat betulungan sesama etam dalam membangun odah etam  dan semoga acara ini embrio tumbuh dan berkembangnya budaya Kutai.Acara dibuka secara resmi dengan ditandai dengan minum air Benda (nira)  dan menyalakan kayu bakar oleh Staf Ahli Bupati Kukar yang didampingi Rektor Unikarta, Kasi seni Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kasi Ekonomi Kreatif Berbasis Media dan Iptek DISPAR dan Dekan Fisipol Unikarta, acara dilanjutkan dengan makan Beseprah dengan menu Nasi Bekepor, para undangan juga dihibur Atraksi Beguntau yang merupakan olah raga bela diri Suku Kutai.


Festival Jembayan Kampong Tuha 2017


 Festival yang di laksanakan di Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara, yang telah di buka oleh Wakil Bupati Kutai Kartanegara, Bapak Drs. Edi Damansyah M.Si pada hari rabu tanggal 22 Maret 2017, acara Festival Jembayan Kampong Tuha ini akan berlangsung dari tanggal 22 maret 2017 s / d 26 Maret 2017.

 Festival Jembayan Kampong Tuha ini adalah Festival kampong yang ke lima di kab. Kutai Kartanegara, sebelumnya ada festival kampong handil, festival kampong Muara Kaman, festival Kampong Tani Sumber Sari, festival kampong Bukit Biru, yang semuanya dilaksanakan secara swadaya atau gotong royong. Hari Raya Kebudayaan Festival Kampong ini adalah sebagai gerbang untuk masuk dan memahami lebih jauh potensi - potensi yang ada di dalam kampong, baik yang berkaitan seni budaya, sejarah, alam , dan sebagainya.

Dalam hal ini Dinas pariwisata kabupaten Kutai Kartanegara ikut berperan serta dalam Festival Jembayan Kampong Tuha, dengan membuka stand Pameran dengan memperkenalkan pariwisata Kutai Kartanegara, serta Even – even yang akan berlangsung setiap tahunnya. Di ketahui bahwa Kutai kartanegara memiliki sebuah warisan berharga dan bernilai dalam proses perjalanan sejarahnya, semangat membangun Kabupaten Kutai Kartanegara dalam sektor Kepariwisataan tentu memberikan kontribusi yang berarti dalam kancah dunia kepariwisataan Indonesia dalam dalam level nasional maupun Internasional.


 Pemerintah juga memberikan apresiasi tinggi kepada japung nusantara yang telah membantu mendorong partisipasi aktif masyarakat Jembayan dalam membangun proses pembentukan dan pemberdayaan komunitas yang berbasis budaya di akar rumput, sehingga dapat memperkuat ketahanan budaya, ekonomi dan penguatan etentitas sebagai masyarakat yang memnjunjung keanekaragaman social budaya yang berpijak pada nilai silih asih, silih asah dan silih asuh di masyarakat.



LSBK MELAUNCHING 13 GERAK DASAR JEPEN.


Bertempat di halaman Planetarium Jagad Raya Tenggarong, pada har iSabtu 11 Maret 2017, Lembaga Seni dan Budaya Kumala melaksanakan Launching 13 Gerak Dasar Jepen yang dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar yang diwakili Kasi Pengembangan Kesenian daerah, Kepala Dinas Pariwisata, serta para seniman, Budayawana dan Para undangan lainnya, selain launching 13 Gerak Dasar Jepen, juga penyerahan piagam 13 ragam gerak dasar tari jepen, juga diisi dengan musik tingkilan, serta tari-tarian Jepen dan Dayak, seperti Tari Dayak Temengang Yag Kelesau, Tari Jepen Persembahan, Tari Jepen Persembahan, Tari Giring Ketaq Bawo, Tarijepen Begurau, Tari Bersama.

Menurut Ketua Panitia Pelaksana kegiatan Hendra Atmaja, Launching 13 Gerak Dasar jepen tidak terlepas dari support dari Sponsor serta media Patner yang turut serta mensukseskan kegiatan ini, ditambahkannya ini merupakan yang pertama yang dilaksanakan sejak berdirinya  LSBK, yang melibatkan para pelajar SD, sampai SMU serta Mahasiswa, yang ada di Tenggarong dengan masa latihan 3 bulan lamanya, dan selama melakukan latihan juga melakukan tes uji 13 gerak dasar Jepen, selama 2 hari, yang melibat dewan juri yang berkompeten dalam bidang seni tari, harapnya kedepan agar pihak terkait bisa memperhatikan secara proaktif group atau kelompok-kelompok kesenian yang ada di Kutai Kartanegara.

Ratusan pengunjung yang berasal dari berbagai komunitas serta masyarakat umum hadir memadati halaman parkir Planetarium Jagad Raya.13 ragam gerak dasar jepan tersebut ialah, Gerak Hormat (Pembuka), Jalan Jepen, Samba, Samba  Setengah, Samba Penuh, Gelombang, Ayun Anak, Langkah Belau, Langkah Ketam, Tendang Kuda, Tepok, Putar Gasing dan yang terakhir Tahtim, yang diperagakan oleh para pelajar dan Mahasiswa yang dipandu oleh Instruktur Tari LSBK.




Bupati Kukar : Tenggarong Siap Gelar Kongres Dunia CIOFF Ke 47


Pada Kongres Dunia CIOFF yang ke 46 yang berlangsung pada bulan oktober 2016 tahun lalu, yang berlangsung di Italy diputuskan Kota tenggarong sebagai Tuan Rumah penyelenggaraan International Council Of Organization of Folklore Festival and Folk arts yang akan digelar pada 20-29 Oktober 2017 mendatang, hal ini tidak terlepas dari peran Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara yang selama 4 tahun terus bekerjasama menggelar Erau dan International Folk Arts Festival dengan mengundang tim-tim Kesenian dari mancanegara yang merupakan anggota tetap CIOFF


.


Pada hari senin 6/3/2017 bertempat di Pendopo Etam,  Bupati Kutai Kartanegara Rita Widya Sari dalam jumpa Press mengatakan bahwa Kutai Kartanegara khususnya kota Tenggarong siap menjadi tuan rumah Kongres CIOFF ke 47, menurutnya ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi kita sebab untuk pertama kalinya kongres CIOFF dilaksanakan di Indonesia , dan kota Tenggarong sebagai tuan rumah nya, hadir juga dalam kesempatan itu Kepala Dinas Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP, Vice President CIOFF Norbert Mueller, Presiden CIOFF Indonesia Said Rachmat.





Menurut Bupati Kukar Rita widyasari, Akomodasi Hotel dan tiket ditanggung oleh peserta masing-masing. sedangkan Pemda hanya menyiapkan tempat dan menanggung Transportasi Peserta, ia berharap dengan diselenggarakannya Kongre CIOFF di Kota Tenggarong akan berdampak pada peninggkatan sektor Pariwisata dan mempromosikan wisata Kukar, sebab CIOFF beranggotakan 103 Negara sedangkan yang hadir  paling sedikit ada 40 negara, itu merupakan peluang untuk mendapatkan pendapatan Pariwisata Kutai Kartanegara.




Semantara itu menurut Vice President CIOFF Norbert Mueller, dirinya telah meninjau sejumlah tempat di Tenggarong yang akan menjadi tempat pelaksanaan Kongres CIOFF ke 47 menurutnya semua sudah bagus dan siap dan yakin bahwa pelaksananaan Kongres Dunia CIOFF akan berjalan Sukses, pungkasnya.







Peresmian Lamin Adat Ja’au Bangen Tawai


Serah terima dan peresmian Lamin Adat didesa Umaq Dian dilaksnakan  pada 3 Januari 2017 melalui upacara adat yang cukup meriah. Upacara adat peresmian lamin adat ini dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara (Kukar) Sri Wahyuni, pemangku adat wilayah, Kepala Desa Umaq Dian, perwakilan PT FSP Marsono, Vina, dan Diana, serta masyarakat dari 18 desa di Tabang dan Muspika setempat.




“Saya sangat mengapresiasi PT Bayan Resources Tbk, melalui anak perusahaannya PT Fajar Sakti Prima sebagai satu-satunya perusahaan di Kecamatan Tabang yang dalam kesibukannya masih tetap peduli dengan membangun lamin adat, sebagai upaya untuk melestarikan kearifan budaya lokal," ujar Kadisdpar Kukar Sri Wahyuni.

Dia berharap, perhatian perusahaan ke depan tidak berhenti sampai di sini saja. Melainkan terus berkelanjutan untuk mengembangkan dan melestarikan aset budaya dan terus melakukan pembinaan terhadap kesenian tradisonal setempat. "Sehingga Desa Umaq Dian khususnya dan Kecamatan Tabang pada umumnya menjadi objek wisata dan dikenal secara nasional maupun internasional,” lanjut mantan Kabag Humas dan Protokol Setkab Kukar ini.

Ucapan terima kasih kepada PT Bayan Resources Tbk dan PT FSP juga disampaikan oleh Pemangku Adat Wilayah Dr Edy Gunawan Areq Lung MA. “Saya ucapkan terima kasih atas upaya perusahaan dalam mewujudkan mimpi kami untuk memiliki lamin yang megah di Umaq Dian ini. Diharapkan semua perusahaan yang berada di Tabang dapat berpartisipasi dalam pembangunan Lamin Adat Besar yang akan kita jadikan sebagai sentral kebudayaan dan ajang informasi sejarah keberadaan suku Dayak,” harap Edy Gunawan.

Hal senada diungkapkan Jus Ingan, kepala Desa Umaq Dian. “Saya sangat mengapresiasi CSR dari PT Fajar Sakti Prima yang tanpa lelah selalu berkoordinasi dengan kami dan masyarakat, sehingga lamin adat ini dapat diwujudkan. Lamin ini akan menjadi kebanggaan masyarakat Umaq Dian yang akan dipakai sebagai ajang kegiatan positif serta menjadi tempat berkreasi dalam melestarikan dan mempromosikan budaya Dayak dan kearifan budaya lokal,” ucapnya.

Lamin adat dengan ukuran 16 x 24 meter persegi itu yang dibangun oleh PT FSP terbuat dari kayu ulin dengan hiasan dan ukiran pada hampir semua bagian dindingnya mempunyai arti dalam setiap bentuk ukirannya.




Pembekalan Finalis Teruna Dara Kutai Kartanegara 2016


Sebanyak 20 finalis Teruna Dara 2016, mengikuti  pembekalan yang berlangsung pada kamis, 20/10/2016 bertempat diruang Mulawarman Hotel Grand Elty Singgasana Tenggarong, acara ini dibuka langsung Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, hadir juga dalam kesempatan ini pejabat struktural dilingkungan Disbudpar, Manajemen Hotel Grand Elty Singgasana Tenggarong,



Pemilihan Teruna Dara 2016 terlaksana atas kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar dengan Asosiasi Duta Wisata Kukar hal ini disampaikan Airin susanti yang juga Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Wisata Disbudpar, ia mengatakan sebelum pembekalan ini dilaksanakan pihak panitia telah melakukan seleksi terhadap peserta yang berlangsung pada tanggal 10/10/2016 yang berlangsung di Pendopo Wakil Bupati Kukar, dari hasil seleksi tersebut terpilih sebanyak 20 Finalis yang terdiri dari 10 Putra dan 10 putri dan untuk  tahun ini ada 49 peserta yang mengikuti seleksi yang berasal dari beberapa Kecamatan yang ada di Kukar diantaranya, Tenggarong, Tenggarong Seberang, Loa Kulu, Sebulu, Kembang Janggut, Tabang, dan Marang kayu, peserta terdiri 19 Laki-Laki dan 29 Perempuan.



Ditambahkannya para finalis juga telah melalui proses Pra Karantina yang dilaksanakan pada 12-15 Oktober 2015 materi yang diberikan pada para peserta yaitu tentang Busana daerah kutai serta Budaya Kutai, serta City Tour ke objek wisata Museum Mulawarman dan Museum Kayu, serta latihan Koreo dan Photo shot 10 Objek wisata Kukar.



Semantara itu kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP mengatakan mengucapkan semua pihak terumatam pihak sponsor seperti Bankaltim dan Hotel grand Elty Singgasana yang mensupport kegiatan ini sehingga  terselenggaranya pemilihan Taruna Dara ini yang saat ini memasuki masa pembekalan, ada 3 hal yang perlu diperhatikan oleh seorang Teruna dan Dara yaitu Brand, Beauty, Behauviour, ini harus dipadukan dengan baik agar menjadi Duta Wisata terlaksana dengan baik.

Pembekalan finalis Teruna Dara Kutai Kartanegara 2016 diberikan meteri-materi  tentang Kebijakan Pemerintah Daerah Kutai Kartanegara dalam Bidang Kepariwisataan oleh Ibu Dra. Sri Wahyuni, MPP selaku Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara. Serta materi tentang Kepariwisataan dan Public speaking. Ada juga materi pembekalan tentang Leadership & Tanggung Jawab oleh Letkol Ari Pramana Sakti (Dandim 0906 Tenggarong)





















 





Merebahkan Ayu



Merebahkan Tiang Ayu merupakan prosesi sakral terakhir yang menandai berakhirnya perhelatan Erau Adat Kutai Pelas Benua 2016. Pada prosesi ini, pusaka Sangkoh Piatu (Tiang Ayu) yang didirikan di tengah Ruang Stinggil Keraton kembali direbahkan pada posisinya semula, yang berlangsung  Senin 29/8 yang dipimpin langsung oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Haji Aji Muhammad Salehuddin II dan Kerabat Kesultanan  bersama camat Tenggarong Mulyadi.






Hadir pada prosesi tersebut Wabup Kukar Edi Damansyah,  Ketua DPRD Kukar Salehuddin, Dandim 0906/Tgr Letkol Ari Pramana Sakti, dan Kabag Humas Protokol Setkab Kukar Dafip Haryanto Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HAP Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat,  serta para kerabat kesultanan Kutai.










Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dan tampak para undangan tampak hikmat mengikuti  nya dalam sambutan nya Sultan Kutai Kartanegara yang diwakili Pangeran Ario Adzuar Poeger mengatakan bahwa dengan direbahkan Tiang Ayu maka berakhir pula seluruh rangkaian acara adat Erau Kutai yang dimulai dari besawai sampai merebahkan tiang ayu ini, dan ucapan terimakasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara atas dukungan, dan kepada semua yang terlibat dalam acara ritual adat seperti para Dewa, Belian, Pangkon, serta para pengawal, pungkasnya.






Setelah prosesi Merebahkan Ayu, seluruh Kerabat Kesultanan, Para undangan, Belian, Dewa, Pangkon, dan para abdi tampak bersalaman untuk berpamitan dengan Sultan HAM Salehuddin II dan Putra Mahkota.










Untuk diketahui, menurut sinopsis dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Ayu adalah senjata raja Kutai Kartanegara pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti yang disebut juga Sangkoh Piatu. Pada Ayu yang menyerupai tombak tersebut diikatkan Tali Juwita dan Kain Cinde dan pada puncaknya dihiasi janur kuning, daun sirih, serta buah pinang yang terbungkus kain kuning.










Rebah Ayu merupakan lambang kerahayuan, yang bermakna sebagai harapan semua masyarakat Kutai hidup sejahtera, makmur, bahagia, rukun, dan damai atas rida Tuhan Yang Maha Esa












Closing Ceremony EIFAF 2016


Seluruh tim delegasi Partisipan EIFAF 2016 serta para undangan menghadiri acara penutupan  Erau Adat kutai dan International Folk Arts Festival  dalam rangkain acara tersebut seluruh delegasi menunjukan performance didepan para undangan dan bahkan group dari Indonesia tampil dua group yaitu jepen dan belian sentiu dan ini adalah penampilan terakhir dari group kesenian mancanegara maupun dari  Indonesia.






 


Dalam kesempatan ini Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari mengapresiasi seluruh panitia yang telah sukses menyelenggarakan Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) 2016, acara yang berlangsung meriah di Gedung Putri Karang Melenu (PKM) Tenggarong Seberang, Minggu (28/8).






”Terimakasih atas dukungan dan kerja keras semua panitia yang telah sukses menyelenggarakan EIFAF, terkhusus pihak kesultanan Kutai Ing Martadipura yang telah memberikan masukan dan pemikiran, mudah-mudahan ke depannya akan lebih baik lagi,” kata Rita.

Tidak hanya itu, Rita juga menilai pagelaran Erau tahun ini sangat luar biasa. “Saya bahagia sekali bisa mengikuti penutupan Erau, mudah-mudahan tahun depan kita tidak defisit dan bisa menambah banyak lagi negara-negara yang datang ke Kutai Kartanegara. Mari kita bergaul dengan baik dan menghormati budaya bangsa lain,” ujarnya.



 





Ditambahkan Rita, festival budaya ini harus terus dilestarikan sebagai kecintaan kepada warisan leluhur, sekaligus menjadi wadah apresiasi para pecinta seni serta sebagai hiburan bagi masyarakat yang menyaksikannya secara langsung.

“Budaya itu tidak mengenal politik, budaya itu hanya mengenal kegembiraan, kebahagiaan dan juga persaudaraan sehingga siapapun yang menonton dan mencintai seni budaya pasti memiliki pesona dan menyampaikan kedamaian di daerah dan mencintai warisan leluhur,” ujar Rita.


 





Hadir pada acara malam closing ceremony tersebut Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kukar, Wakil Bupati Kukar Edi Damansyah, Plt Sekda H Marli, kepala SKPD di lingkungan Pemkab Kukar.


 





Di akhir acara, Bupati Kukar Rita Widyasari menyerahkan piagam penghargaan kepada seluruh delegasi peserta EIFAF, dilanjutkan dengan menari tarian jepen.


 



 


Ngulur Naga Erau 2016









Erau Adat Kutai And International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2016, telah berlangsung selama sepekan di Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara, di hadiri Sultan Kutai H. Adji Mohamad Salehoeddin II, Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat, Kerabat Kesultanan Ing Martadipura dan Jajaran Pemkab Kutai Kartanegara, Kasdam, Kejaksaan Tinggi Kaltim, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari,P.Hd, Wakil Bupati Drs. Edi Damansyah,M.Si, Ketua DPRD Kutai Kartanegara, Kapolres Kutai Kartanegara, Dandim 0609 Tenggarong, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni, MPP., dan Pimpinan serta tim kesenian 10 negara anggota International al Council of Organizations of folklore Festivals and Folk Art ( CIOFF ).






Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari,P.Hd., menutup secara resmi Erau Adat Kutai And International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2016, Prosesi Puncak Kemeriahan Erau Adat Kutai and International Folklore And Art Festival ( EIFAF ) di tandai dengan prosesi mengulur naga. Prosesi ini di gelar di halaman Keraton Kesultanan Ing Martdipura, Replika Naga akan menyusuri sungai mahakam dan berakhir di Kutai lama, Anggana.




Dua ekor naga yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kepala terbuat dari kayu yang di ukir mirip kepala naga dan di hiasi sisik warna warni dan diatas kepala terpasang ketopong ( mahkota ), di bagian leher terdapat kalung yang dihiasi kain berumbai warna warni. Bagian leher yang berkalung di sammbungkan kebagian badan yang terbuat dari rotan dan bambu, dan di bungkus dengan kain kuning. Pada kain kuning ini disusun sisik - sisik ular besar. Badannya seakan - akan seekor naga yang siap berjalan kearah tujuannya, bagian ekor terdiri terbuat dari kayu yang telah diukir menyerupai seekor naga.






Selama tujuh hari tujuh malam dua ekor naga ini telah di semayamkan di bagian serambi kanan keratin untuk naga laki, dan di bagian bawah sekitar dada di taruh / di tempatkan masing - masing penduduk lengkap dengan isinya di hadapan serambi kiri kanan tempat naga bersemayam terdapat titian di sebut rangga titi tempat naga di turunkan yang di hampari kain kuning untuk menuju sungai, sebelum naga di turunkan dari persemayamannya ada prosesi persembahan oleh dewa belian memberi jamuan dan besawai bahwa naga akan di turunkan. Selesai ritual oleh dewa belian 17 orang laki - laki berpakaian lengkap ( celana panjang batik, baju cina lengan panjang putih, sarung diikatkan di pinggang dan di kepala diikatkan potongan kain batik di sebut pesapu ). Mulai bergerak mengangkat kedua naga tersebut bersamaan dan mulai menuruni titian menuju sungai, sedangkan dewa belian berjalan di bagian muka sebagaian muka sebagai kepala jalan sebagai kepala jalan sambil membawa perapen / persepan.







Saat perjalanan naga menuju ke sungai di hantar oleh empat orang pangkon laki dan empat orang pangkon bini dan seorang membawa molo / guci untuk untuk mengambil air tuli yang di apit oleh dewa belian laki bini yang membawa perapen / persepan. Sedangkan di kiri dan kanan dua naga di apit oleh prajurit yang berpakaian lengkap dan membawa tombak. Sesampainya di tepi sungai ( pelabuhan ) dewa belian melakukan memang dan dua ekor naga di naikkan keatas kapal ( perahu motor ) dengan posisi menghadap kehaluan / depan kapal. Kapal dan pengiring naga bertolak ke ulu sungai menuju kepala benua sebagaimana titik awal prosesi menjamu benua dan berputar - putar sebanyak tiga kali baru menuruni sungai ke hilir. Dalam perjalanan tepatnya di pamerangan desa jembayan loa kulu, perjalanan kapal di tampatkan, alunan gamelan di bunyikan dan dewa belian be mamang untuk pemberitahuan kepada sekalian penghuni / penduduk / masyarakat gaib di sekitar pamerangan bahwa naga sedang di turunkan menuju tepian batu kutai lama, anggana. Selepas wilayah pamerangan, kapal membawa naga melaju kembali hingga di tepian aji samarinda seberang, di tepian aji ini di sambut dengan acara ritual tokoh - tokoh suku bugis, kapal melambat dan dewa belian bemamang sambil mengalunkan gamelan, juga sebagai pemberitahuan bahwa prosesi naga sedang di turunkan di kutai lama, sesampainya di kutai lama dewa belian bemamang dan alunan gamelan di mainkan, kapal berputar di tepian batu kutai lama, di Tepaian Batu ritual penyambutan di lakukan oleh para tokoh - tokoh masyarakat kutai Lama dan para pengiring naga sambil menurunkan / melaboh dua ekor naga di tengah masyarakat Kutai Lama.






Sebelum naga tenggelam, bagian kepala naga tepatnya di daerah kalung naga harus di sembelih / di potong, begitupun di bagian ekor di potong. Bagian kepala dan ekor naga yang telah di potong di bawa kembali ke Tenggarong untuk di semayamkan hingga acara ngulur naga yang akan datang. Saat prosesi ini air tuli di ambil untuk belimbur. Badan naga yang telah terpotong, menjadi perebutan masyarakat yang menghadiri prosesi ini dengan mengambil sisik - sisiknya dengan berbagai macam tujuan yang bersifat mistis. Ada yang berperahu dan berenang mendekati badan naga yang siap di sisiki oleh para pengunjung, secara perlahan, kerangka badan naga tenggelam di tutup gelombang / riak - riak air menghantarkannya ke dasar sungai. Kapal pembawa naga kembali ke tenggarong dan di semua kampong/ desa yang di lewati terjadi acara belimbur massal sebagai unsur kehidupan.




Belimbur bermakna penyucian diri dari pengaruh jahat sehingga orang orang yang di limbur kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah, serta lingkungan dan sekitarnya juga bersih dari pengaruh jahat.


Tampilan Terakhir Pentas Seni






Tampilanan terakhir pada sabtu tanggal 27 Agustus 2016 yang dimulai pada pukul 19.30 Wita. Pentas seni yang berlokasi di Taman Ulin Tenggarong ini mampu menyedot perhatian penonton yang datang menyaksikan pertunjukan pentas seni  tersebut. Tampilan yang disuguhkan pada malam itu dari delegasi Indonesia ditampilkan dari Kecamatan Tabang dan dari group kesenian Handil Borneo Etam dari Kecamatan Muara Jawa, sedangkan dari delegasi folklore yaitu dari Negara Urainian, dan Negara Taiwan A.




Tampilan pertama disuguhkan dari tuan rumah Indonesia yaitu dari Kecamatan Tabang, kemudian dari Negara Ukrainian yang menampilkan tarian dan nyanyian , yanyian yang dinyanyikan oleh Negara Ukrainian dengan tiga (3) bahasa yaitu Bahasa Ukrainian, Bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, serta perwakilan dari Ukrainian Nona Larisa dengan fasihnya bebahasa Kutai, dia menyebutkan “saya gawal dengan orang kutai” tepuk tangan penonton pun riuh dengan ucapan Nona Larissa tadi.



  


Selanjutnya tampilan dari tuan rumah lagi yaitu dari Handil Borneo Etam yang menampilakn tari jepen pesisir, tari ini menceritakan kegiatan gadis – gadis pesisir yang menjalani keseharian di pinggiran sungai Mahakam etam seperti mencuci dan bermain .




Tak kalah juga penampilan dari NegaraTaiwan yang menampilkan 3 tarian sekaligus, tarian pertama bertema tarian bunga yang bertebaran di Negara Taiwan, tarian berikutnya bertema tarian seorang putri yang turun dari langit, dan tarian terakhir dari Taiwan ini adalah tarian kegembiraan masyarakat Taiwan dalam menyambut tahun baru cina.


Even Tahunan

Even

Unduh Gratis