Banner 0

Beluluh Awal

Banner 2

Banner 3

Desa Budaya

Banner 5

Buka Erau

Banner 7

Banner 8

Benner9

Statistik

Hit hari ini : 255
Total Hits : 1,486,586
Pengunjung Hari Ini : 123
Pengunjung Online : 5
Total pengunjung : 402,975

Flag Counter

Home Berita dan Artikel

Berita dan Artikel

 Tradisi Duduk Makan Bersama Beseprah


 Tepat berada di depan Keraton ( Museum Mulawaran ), sebagai rangkaian kegiatan perhelatan Pesta Adat Erau  dijalan Diponegoro, Kecamatan Tenggarong Rabu pagi, 11 September 2019. Tua, muda, Kerabat Kerajaan, hingga rakyat biasa berbondong - bondong datang untuk hadir serta menikmati hidangan yang telah disediakan oleh pihak Kesultanan dalam acara Beseprah. Salah satu kegiatan yang di tunggu – tungu oleh masyarakat Kutai Kartanegara, khusunya yang berada di kota Tenggarong, Karna pada hari ini berlangsung pada pagi hari acara Beseprah, Acara beseprah merupakan makan duduk bersama Raja Kutai Sultan Kutai XXI dengan gelar Sultan Adji Muhammad Arifin dengan warganya, dan hadir pula seluruh Pejabat Pemkab Kutai Kartanegara. Baik dari Pihak Kesultanan, Pejabat Pembkab Kutai Kartanegara dan seluruh masyarakat duduk bersila saling berhadap – hadapan untuk menikmati berbagai hidangan tradisional, khususnya makanan khas Kutai disajikan, seperti bongko, sarabai, putu ayu, singkong goreng, kue cincin, tumbi, bingka, nasi kuning dan nasi uduk.

 Dalam tradisi ini, tidak ada batasan sosial antara warga dan pejabat maupun pihak Kesultanan. Mereka makan bersama, menikmati hidangan tanpa membedakan jabatan. Tentu saja ini untuk mengakrabkan dan mendekatkan pejabat dengan rakyatnya. Sejak dulu diselenggarakan sultan yang berkuasa. Sebagai jamuan persembahan bagi rakyatnya. Simbol harapan dan doa yang dari sultan. Agar menjadi pemimpin yang selalu mengayomi. Acara itu juga keinginan sultan untuk membaur merasakan yang dirasakan rakyatnya.

 Pada era modern, momen tersebut jadi ajang makan bersama. Juga bertujuan mempererat silaturahmi. Menghilangkan segala strata sosial. Momen kebersamaan dengan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

 Bupati Kutai Kartanegara yang hadir Drs. Edi Damansyah. M.Si., mengimbau  seluruh masyarakat bersama - sama menyukseskan rangkaian kegiatan Erau 2019. "Mari kita tunjukkan jati diri masyarakat etam yang ramah tamah, penuh sopan santun, serta menjaga adat ketimuran,. Beliau menambahkan, sektor pariwisata di Kutai Kartanegara merupakan potensi unggulan pada masa depan. Maka, penting untuk menghadirkan rasa tentram dan aman bagi wisatawan. Pada event seperti inilah kesempatan memberi kesan baik tersebut. Terutama kepada para tamu mancanegara.




 Upacara Bepelas Di Keraton (Museum Mulawarman) Dalam Rangka Upacara Adat Erau 2019.


 Ritual Bepelas didahului dengan ritual Merangin oleh Dewa dan Belian di Serapo Belian. Usai Merangin, Dewa dan Belian menuju ke keraton dan berputar sebanyak tujuh kali di area Bepelas, kemudian duduk bersila berjajar, Dewa di sebelah kanan dan Belian di sebelah kiri dengan dipimpin oleh Pawang menghaturkan sembah hormat. Ritual dilanjutkan dengan sajian Tari Selendang oleh Dewa dengan diiringi gamelan sambil mengelilingi area Bepelas sebanyak satu kali. Pada saat yang sama Pemangkon Dalam menyalakan lilin di empat sudut. Selanjutnya ditampilkan Tari Kipas dan Tari Jung Njuluk yang dibawakan oleh Dewa. Para penari mengelilingi area Bepelas sebanyak satu kali. Pawang Dewa melakukan Memang di belakang Tiang Ayu diiringi alunan seruling. Memang bertujuan untuk mengundang Dewa Karang dan Pangeran Sri Ganjur untuk menjaga Pohon Ayu dari gangguan roh-roh jahat selama ritual Bepelas berlangsung.


 Ritual berikutnya adalah penampilan Tari Memuja Panah dengan menggunakan anak panah yang ujungnya dibelah menjadi tujuh mata api. Penari berputar satu kali di area Bepelas, kemudian pada putaran kedua melepaskan busur ke empat penjuru untuk menghilangkan gangguan selama ritual Bepelas berlangsung. Pawang Dewa kembali melakukan Memang untuk mengundang Pangeran Sri Ganjur dengan iringan seruling dan dewa meletakkan empat buah ikat kepala dan empat buah gada yang ditempatkan pada dua buah baki. Bersamaan dengan itu, muncul empat orang laki-laki, dua di kiri dan dua di kanan, untuk menarikan Tari Ganjur. Penari memasangkan ikat kepala dan memegang gada sambil menari sekali putaran di keempat sudut ruangan dengan iringan irama Ganjur. Pada putaran kedua, tampil tujuh orang Dewa menari sambil membawa kipas dan diikuti oleh dua orang penari Ganjur untuk berputar sekali putaran. Pawang Dewa Laki dan Bini, Pangkon Laki dan Bini, peniup seruling, dan pembawa perapen bangkit dari duduknya dan menjemput Sultan di ruang salin busana kebesaran. Seruling terus menerus ditiupkan hingga terdengar sayup dan tak lama kemudian rombongan atau utusan ini kembali lagi ke area Bepelas bersama Sultan.


 Usai Tari Kanjar Bini dimainkan, Dewa menyerahkan sehelai Selendang Kuning kepada putra atau kerabat sebagai pemimpin atau kepala penari yang kemudian diikuti oleh kerabat untuk menarikan Tari Kanjar Buah Kamal. Pangkon Dalam Bini menyalakan lilin kecil di empat sudut sambil berdiri hingga tarian sebanyak dua putaran selesai dilakukan.Demong melaporkan kepada Sultan bahwa ritual Bepelas malam pertama telah selesai dilakukan. Sultan kemudian kembali ke tempat peristirahatan, sementara itu alunan gamelan penutup dibunyikan dan lilin dimatikan.   Bepelas dilaksanakan selama tujuh malam.


 Setiap malam dilakukan ledakan (suara dentuman meriam) sebanyak jumlah malam yang dilaksanakan. Malam pertama hingga keenam dilakukan ledakan sesuai dengan jumlah malam, sedangkan pada malam ke tujuh hanya dilakukan satu kali ledakan. Bepelas ini dilaksanakan pada pukul 20.00 sampai dengan selesai di Keraton Kukar atau Museum Mulawarman. Hadir dalam upacara Bepelas ini bergantian setiap malamnya, baik dari pejabat Pemkab Kukar maupun perwakilan dari kerabat sultan, camat tenggarong dan perwakilan peserta undangan yang hadir turut serta juga dalam tarian Kenjar Laki dan Kenjar Bini bergantian setelah prosesi bepelas tersebut berlangsung.

 Beluluh Sultan


 Ada Prosesi Adat Beluluh yang dapat di saksikan masyarakat umum di teras atau di depat Keraton Kesultanan Kutai, Beluluh ini dilaksanakan setiap sore harinya, dan dilkasnakan langsung oleh Sultan Kutai. Beluluh biasanya dilaksanakan pada permulaan sebelum Erau yang dilakukan setiap sore hari selama Erau berlangsung Upacara Ritual Beluluh sendiri terdiri dari Beluluh Sultan, Beluluh Aji Begorok, dan Beluluh Aji Rangga Titi.

 Upacara diawali oleh Sultan / Raja / Putra Mahkota duduk sejenak di tilam Kasturi kemudian bangkit menuju Balai atau tempat duduk mirip kursi setinggi tiga tingkat yang dibuat dari bambu kuning bertiang 41 buah yang berada diatas tambak karang melalui Molo / guci kuningan yang berhias bunga / mayang kelapa dan mayang pinang yang terdapat di sebelah kiri dan kananan. Sesampainya di depan balai Sultan menaiki balai dan duduk di tingkat ketiga persis di bawah hiasan daun beringin dan di belakangnya terdapat Balai Persembahan, sedangkan sebelah kiri dan kanan di pagari oleh Pangkon Dalam 7 bini dan 7 laki dan belian serta di setiap sudut terdapat Penduduk.

 Demong mengatur dewa laki melaksanakan Memang dan Dewa Bini menghidupkan prapen. Sultan di tutupi Kirab Tuhing diatas kepala di bawah daun beringin oleh dua orang pembantu di sebelah kanan dan dua orang di sebelah kiri. Kirab Tuhing di balik sebanyak tiga kali dan di jatuhkan beras kuning kebelakang. Sejenak kemudian Dewa Laki dan Dewa Bini bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Sultan untuk memberi Tepong Tawar dengan air cindera mata dan air kembang di bagian telapak tangan kanan, kiri, lutut,kanan dan kiri dan betis kanan dan kiri dan di sekakan kemuka.

 Setelah itu baru turun dari balai untuk di sapukan mencari salah seorang petinggi setempat guna melaksanakan Ketikai Lepas, Sultan berdoa bersama sambil beristirahat, pembantu dewa bergeser berjalan duduk sambil membawa air bunga dalam wadah untuk tepong tawar sekalian yang hadir dan dalam prosesi ini di ruangan di mainkan musik gamelan salaseh atau marandowo


 Pesta Adat Erau Resmi Dibuka 0leh Sultan Kutai Kartanegara


 Pesta Adat Erau telah dibuka secara resmi oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura H. Adji Muhammad Arifin dengan di iringi dentuman keras yang berada di depan Museum Mulawarman Tenggarong sebagai tanda pembukaan Erau 2019. Acara yang di awali dengan prosesi mendirikan Ayu, lalu berlanjut di teras keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang di hadir seluruh Pejabat baik dari Pemprov dan Pemkab, serta Kerabat Kesultanan.

 Ketua Panitia Erau, Awang Yakoub Luthman menyampaikan terima kasih telah dikembalikan marwah Erau pada Kesultanan Kutai, bahkan pelaksananya diserahkan kepada pihak kesultanan di mana selama bertahun-tahun menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Pemkab Kukar. "Seiring perkembangan konsep wisata destinasi Indonesia yang telah bertransformasi dari Erau dengan cara konservatif menjadi Erau yang lebih progresif dengan menampilkan budaya kemasan internasional adalah bukan hal yang salah dan kami tetap menjunjung tinggi dan mengapresiasi langkah Pemkab untuk hal tersebut,". Beliau juga menyampaikan terima kasih atas bantuan dari Pemprov dan Pemkab, termasuk bupati, sekda dan perangkat OPD yang memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya Erau Kesultanan Kutai 2019 dengan tema Eroh Berpijak Awal, Kerabat Tirakat, Kampung Tirakat, Rakyat Tirakat, Berharkat Beberkat. Ini menandakan adanya kepedulian terhadap adat dan erau ini adalah pesta rakyat.

Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah. MSi. mengatakan, Pesta Adat Erau ini masuk dalam kalender nasional dan menjadi ajang terpopuler yang sudah ditetapkan Kementerian Pariwisata. Menurut beliau ini kali pertama Erau dipisahkan dengan Tenggarong International Folk Art Festival (TIFAF) berkaitan dengan pelaksanaan Hari Jadi Kota Tenggarong. "Tahun ini atas kesepakatan kami bersama Yang Mulia Sultan dan kerabat sehingga pelaksanaan Erau ini kita pisah. Ini untuk menjaga tradisi dan eksistensi Kesultanan Kutai, kita memberikan dukungan sehingga tradisi adat budaya di tanah Kutai bisa kita jaga dengan baik.

 Berlanjut dengan penyampaian Gubernur Kaltim Dr. Ir. H. Isran Noor, M.Si. menyampaikan, Erau itu sangat penting sebagai upaya bagaimana melestarikan adat istiadat budaya yang ada di Kutai Kartanegara, Kaltim."Semua adat budaya di Indonesia sangat penting kalau mereka merayakan dan mengembangkan budaya itu. Terkait dipisahnya Pesta Adat Erau dengan Festival Seni Internasional, beliau mengatakan ini jadi bahan pertimbangan supaya nilai sakral dari tradisi leluhur tetap terjaga. Penyelenggaraan Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara merupakan peristiwa sakral yang harus tetap dijaga untuk melestarikan adat istiadat dan budaya sekaligus menjadi momentum untuk menyukseskan tahun kunjungan wisata Kaltim tahun 2019. “Orang Kutai sejak dulu tidak pernah menolak kedatangan budaya dari seluruh nusantara. Semuanya diterima dengan lapang dada. Dan itu budaya Kutai. Oleh sebabnya, Kaltim khususnya Kutai Kartanegara menjadi penyumbang dan kontributor persatuan dan kesatuan bangsa.

 Terakhir Acara juga dirangkai dengan menyalakan 7 buah brong/obor yang dilakukan oleh pejabat daerah di Kaltim yakni Gubernur Kaltim H. Isran Noor, Bupati Kukar Edi Damansyah, Walikota Samarinda H. Syaharie Ja’ang, Wakil Walikota Samarinda HM Barkati, Bupati Kutim Ismunandar serta pejabat lainnya.

 Prosesi Mendirikan Tiang Ayu


 Pihak Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura memulai secara resmi pelaksanaan Erau dengan ritual adat mendirikan Ayu, yang berlangsung di Keraton atau Museum Mulawarman Tenggarong, pada pagi hari. Acara ini di Hadiri Gubernur Kaltim, serta Seluruh Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Erau pun di mulai dengan upacara adat Mendirikan Ayu, Sedangkan “Ayu” adalah sebuah tiang yang berbentuk tombak dan terbuat dari kayu ulin yang biasa disebut dengan nama “Sangkoh Piatu”. “Sangkoh Piatu” merupakan senjata Raja Kutai Pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti yang pada batangnya diikatkan Tali Juwita  yang menyimbolkan berbagai lapisan pada masyarakat dan Cinde yang menyimbolkan keluarga Sultan Kutai.






 “Mendirikan Ayu” merupakan sebuah simbolisasi dari upaya untuk mencari atau mendirikan kerahayuan (keselamatan atau ketentraman). Upacara adat “Mendirikan Ayu” dimulai dengan menyiapkan peralatan upacara, yaitu sebidang Jalik yang dihamparkan dan diatasnya  dihiasi Tambak Karang bermotif naga biasa dan naga kurap, serta seluang mas berwarna-warni. Pada Tambak Karang ini terdapat  empat ekor naga yang masing-masing menghadap ke empat sudut luar dan di bagian tengah bermotif taman, sedangkan bagian lainnya terisi dengan seluang mas. Empat kepala naga yang menghadap ke sudut luar masing – masing bertaringkan “Pisang Ambon”, dengan  mulut terbuka sedang menggigit “Kemala” yang disimbulkan dengan sebutir telur ayam kampong serta terdapat lilin besar, lilin kecil, peduduk, piring sebagai alas baju salinan dan jambak dari daun kelapa muda (Janur). 


 Di atas Tambak Karang dihamparkan  kasur berwarna kuning dan di atas kasur kuning ini dihamparkan kain kuning motif merah yang disebut Tapak Liman. dan di atas Tapak Liman ini diletakan Gong Raden Galuh yang dibungkus kain kuning berdekatan dengan Batu tija’an. Di atas Gong Raden Galuh inilah berdiri Sangkoh Piatu atau “Tiang Ayu”. Pada Bagian bawah belakang tersedia Perapen (Persepan) yang dilengkapi dengan lampu tembok, suman dan tepung tawar. Sebelah kanan  Tiang ayu terdapat Balai / Tiang persembahan yang berisi satu buah peduduk dan pakaian persalinan sultan dan jabangan mayang nyiur, sedangkan sebelah kiri terdapat jabangan mayang pinang dan guci / molo tertutup berisi Air Kutai Lama. Dewa Belian menempatkan diri di sisi kiri dan kanan Tambak karang duduk bersila. Lapisan kiri kanan untuk undangan, kerabat dan di bagian belakang sisi kanan keluar di isi oleh Pangkon Dalam dan Pemukul Gamelan, sedangkan sisi kiri keluar di isi juga oleh Pangkon Dalam. Para pejabat / petinggi dan Putra Sultan duduk bersila di bagian depan dan di tengah-tengah terdapat Kursi Sultan. Prosesi  “Mendirikan Ayu”, perapen dinyalakan dengan aroma wangi dan alunan suara gamelan di dengarkan sambil menunggu sultan di tempat acara. Sultan dengan mengenakan pakaian kebesaran menuju Tiang Ayu, para hadirin semua berdiri memberi penghormatan dan kehidmatan. Dewa belian melakukan Sawai dan Tiang Ayu didirikan. Setelah itu, hadirin duduk kembali dan sultan duduk di kursi  singgasana yang telah disediakan.






 Prosesi Adat Ngatur Dahar


 Telah berlangsung Ritual yang dinamakan upacara mengatur dahar yang dilakukan oleh kerabat kesultanan Kutai  Kartanegara sebelum pesta Erau di mulai. Upacara ini pada intinya adalah menyajikan makanan ringan berupa jajanan terdiri 41 jenis, hal ini bertujuan selain sebagai ungkapan rasa syukur  kepada Tuhan yang maha esa juga  mengajak  tokoh warga dan tokoh alam gaib agar selama Erau berlangsung  tidak sungkan untuk  menikmati hidangan setiap hari yang disajikan Sultan dan kerabatnya  di Keraton.


 Upacara ini juga bisa dilakukan di luar Erau terutama untuk  mengawali  hajatan   yang skalanya lebih besar seperti pesta kemeriahan perkawinan raja atau putra mahkota Dalam pelaksanaan Erau Adat Kutai upacara mengatur dahar ini  digelar  di ruang pertemuan keluarga Keraton Sultan Tenggarong pada Sabtu malam (7/9)  sebelum Erau dimulai. Dalam pelaksanaan   dilakukan setelah makan malam dengan menyajikan  sejumlah kue khas daerah. Seperti wajik  warna-warni,  pais, lempar dan lemang, ada pula Buah - buahan seperti pisang juga disajikan, bahkan bahan makanan masih mentah seperti biji kacang hijau dan  pipilan jagung yang sudah dipecahpun disajikan. 


 Tersedia pula ikan gabus   dan ayam panggang namun sayur  dan nasi tidak tampak di hidangkan pada upacara ini. Pawang upacara Mengatur Dahar mengatakan  upacara ini masih tetap dilestarikan karena banyak segi positif ketimbang aspek negatifnya. Sebab  semua mahluk tuhan   pasti senang dan suka  jika    menikmati hidangan.


 Terlebih yang menyajikan adalah Sultan dan kerbatnya. Dengan suasana senang dan suka cita tentu akan berbuah rasa damai dan tenteram. Upacara ini juga bisa dilakukan di luar Erau terutama untuk mengawali hajatan yang skalanya lebih besar seperti pesta kemeriahan perkawinan raja atau putra mahkota

 Acara Adat Merangin


 Dalam Prosesi Adat Erau terdapat didalamnya Ritual Merangin yang digelar tiga (3) malam berturut-turut setiap malamnya sebelum acara Erau dimulai dan juga dilaksanakan dalam pelaksanaan Erau setiap malam kecuali malam Jum`at. 



 Upacara adat Merangin ini dimulai sejak pukul 20.00 wita dipusatkan dilapangan parkiran Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman). Bangunan tersebut terbuat dari kayu beratapkan daun nipah yang terletak disamping Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman) dengan melibatkan tujuh (7) orang Belian (sebutan untuk laki-laki ahli mantra dalam bahasa Kutai) dan tujuh (7) orang Dewa (sebutan untuk Perempuan).



 Acara Merangin ini adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau, tujuannya adalah mengundang mahluk goib untuk ikut serta dalam kemeriahan Erau. Ritual Merangin malam pertama ini, gunanya untuk memberitahukan mahluk goib yang berada dilangit bahwa sebentar lagi Erau akan dilaksanakan.



 Upacara adat Merangin ini diawali dengan pembacaan "Memang"(mantra) oleh salah satu dari tujuh (7) Belian Laki yang mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan. Sementara pimpinan Dewa ikut dalam lingkaran tersebut membakar kemenyan tampak sesekali menghamburkan beras kuning. Binyawan adalah alat utama dalam ritual Merangin berbentuk tiang tersebut dari bambu, dan dibalut janur kuning yang disusun dari bawah hingga keatas sebanyak tujuh (7) tingkat. Dibagian atas Binyawan terdapat replika kura-kura yang juga dibuat dari kayu. Peralatan lainnya yaitu disisi pinggiran Keraton Belian terdapat dua ayunan yang terbuat dari kayu dengan rotan sebagai penggantungnya. Salah satu ayunan diukir dengan ornamen Buaya yang disebut Romba, sedangkan satu ayunan lagi disebut Ayun Dewa. Bunyi tetabuhan gendang dan gong berirama terus menerus mengalun mengiringi ritual itu menambah suasana magis semakin terasa dalam upacara adat itu. Apalagi ketika tujuh (7) orang Belian mulai berputar mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan. Ketika para Belian terus berlari keliling sambil sambil memegangi batang Binyawan, tiang Binyawan itu pun ikut berputar. Para Belian tampak sesekali menaiki Romba yang berputar makin lama semakin cepat. Sementara itu, para Dewa yang terdiri dari tujuh (7) orang wanita sesekali melemparkan beras kuning kearah para Belian yang terus berputar mengelilingi Romba dengan cepat. Upacara adat Merangin diakhiri dengan tarian Dewa Bini yang juga ikut mengelilingi Romba namun berbeda dengan para Belian, tarian Dewa ini dibawakan secara lemah gemulai, yang merupakan rangkaian dari ritual adat Menjamu Benua yang telah dilakukan pada siang harinya, dengan tujuan memberitahukan kepada mahluk goib lainnya bahwa acara Erau akan digelar.


 Menjamu Kepala Benua, Tengah Benua, Dan Buntut Benua


 Empat hari menjelang dilaksanakannya Erau, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura telah menggelar ritual "Menjamu Benua" di beberapa titik di kota Tenggarong. Menjamu Benua dilakukan untuk memohon keselamatan selama Erau berlangsung, baik keselamatan Sultan, kerabat, masyarakat Kutai Kartanegara dan wisatawan yang berkunjung ke Tenggarong.



 Upacara Menjamu Benua memiliki makna memberi makan kepada para gaib yang mendiami wilayah Kutai Kartanegara. Sekaligus untuk memohon kepada Tuhan yang Maha Esa agar supaya sultan dan kerabatnya diberikan keselamatan, demikian juga masyarakat Kutai Kartanegara atau orang yang berkunjung ke Tenggarong". "Ritual ini untuk memberikan makan gaib yang tinggal di Odah Etam ini, Sekaligus memberitahukan kepada gaib tersebut bahwa erau akan dilaksanakan".



 Sebelum ritual Menjamu Benua dimulai, para pelaksana yang terdiri dari 7 orang Belian (ahli mantra laki) dan 9 orang Dewa (ahli mantra perempuan) berangkat dari depan keraton diiringi penabuh gamelan dan gendang serta perlengkapan persembahan berupa 21 jenis kue - kue tradisional, Perapen dan pakaian Sultan, rombongan memasang bendera ( panji - panji ) berwarna kuning dengan lima rumbai di sebelah kiri dan bendera hijau bermotif atau gambar naga di sebelah kanan menuju rumah sultan, menemui Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Salehuddin II dikediamannya untuk meminta restu, dan Sultan pun memberi restu dengan menghambur beras kuning ke arah pelaksana itu.

Sultan juga menyerahkan pakaian sehari-harinya berupa selembar baju, sepotong celana panjang, kopiah untuk dibawa dan disertakan dalam itual menjamu benua. Setelah dilepas oleh sultan, rombongan yang terdiri dari beberapa Belian dan Dewa dengan diiringi tetabuhan alat musik tradisional bergerak maju ke tiga (3) titik di Kota Tenggarong yaitu Tanah Habang Mangkurawang yang disebut Kepala Benua, kemudian depan Museum Mulawarman yang disebut Tengah Benua, dan terakhir di sebelah hilir Jembatan Kutai Kartanegara disebut sebagai Buntut Benua.



 Ditiga lokasi Menjamu Benua disediakan semacam balai utama berbentuk kerucut dengan atasnya dasar segi empat yang terbuat dari bambu dan rangkaian janur kuning untuk menaruh sesajian. Pimpinan Belian ini kemudian membacakan Mantra-mantra sambil sesekali menghamburkan beras kuning kearah Balai Bambu yang berisi berbagai macam jajanan tradisional diantaranya ada kue cucur, pulut (ketan), bubur merah, telur rebus, ayam bakar dan aneka kue tradisional lainya




 Titi Bende Dan Beluluh Sultan


 Acara Ritual Adat Titi Bende, dengan menabuh Gong kecil yang di palu / pukul untuk mengumumkan Titah Sultan akan dilaksanakannya upacara adat Erau oleh Sultan yang dilakukan oleh pihak Kesultanan dengan memukul bende keliling kota tenggarong telah dilaksanakan pada sehari sebelumnya. Dan pada Hari ini telah berlangsung Beluluh Awal dilakukan di Kedaton Kutai kartanegara, yang hadir pada acara beluluh awal ini antara lain Sultan Kutai Kartanegara Putra Mahkota Adji Pangeran Adipati Praboe Soerya Adiningrat, Pejabat Pemkab Kukar serta Kerabat Kesultanan Kutai, Upacara adat Beluluh ini dimulai sejak pukul 10.00 s/d selesai, Dalam Upacara Ritual Beluluh yang dilakukan seorang Belian terhadap raja/sultan/putera mahkota yang berperan mengucapkan doa memohon kepada yang maha kuasa guna membersihkan diri dari unsur-unsur jahat, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, maka akan diluluhkan di atas buluh/bambu dan sebagai pertanda dimulainya pelaksanaan Erau.


 Upacara Ritual Beluluh dilaksanakan pada permulaan sebelum Erau yang dilakukan setiap sore hari selama Erau berlangsung. Upacara Ritual Beluluh sendiri terdiri dari Beluluh Sultan, Beluluh Aji Begorok, dan Beluluh Aji Rangga Titi. Upacara diawali oleh Sultan / Raja / Putra Mahkota duduk sejenak di tilam Kasturi kemudian bangkit menuju Balai atau tempat duduk mirip kursi setinggi tiga tingkat yang dibuat dari bambu kuning bertiang 41 buah yang berada diatas tambak karang melalui Molo / guci kuningan yang berhias bunga / mayang kelapa dan mayang pinang yang terdapat di sebelah kiri dan kananan. Sesampainya di depan balai Sultan menaiki balai dan duduk di tingkat ketiga persis di bawah hiasan daun beringin dan di belakangnya terdapat Balai Persembahan, sedangkan sebelah kiri dan kanan di pagari oleh Pangkon Dalam 7 bini dan 7 laki dan belian serta di setiap sudut terdapat Penduduk. Demong mengatur dewa laki melaksanakan Memang dan Dewa Bini menghidupkan prapen. Sultan di tutupi Kirab Tuhing diatas kepala di bawah daun beringin oleh dua orang pembantu di sebelah kanan dan dua orang di sebelah kiri.


 Kirab Tuhing di balik sebanyak tiga kali dan di jatuhkan beras kuning kebelakang. Sejenak kemudian Dewa Laki dan Dewa Bini bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Sultan untuk memberi Tepong Tawar dengan air cindera mata dan air kembang di bagian telapak tangan kanan, kiri, lutut,kanan dan kiri dan betis kanan dan kiri dan di sekakan kemuka. Setelah itu baru turun dari balai untuk di sapukan mencari salah seorang petinggi setempat guna melaksanakan Ketikai Lepas, Sultan berdoa bersama sambil beristirahat, pembantu dewa bergeser berjalan duduk sambil membawa air bunga dalam wadah untuk tepong tawar sekalian yang hadir dan dalam prosesi ini di ruangan di mainkan musik gamelan salaseh atau marandowo.

 Apabila sultan telah melakukan Beluluh, maka Sultan tidak boleh menginjakan tanah atau Betuhing sampai berakhirnya perayaan erau yang ditandai dengan belimbur.








 Sosialisasi TDUP Dilaksanakan Di Kecamatan Muara Badak


 Kegiatan sosialisasi TDUP dilaksanakan di Kecamatan Muara Badak. Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan pelayanan perijinan secara elektronik sektor pariwisata, pedoman perijinan melalui sistem OSS dan standar laik hygiene untuk rumah makan dan restoran

 Dalam hal ini Dinas Pariwisata bekerja sama dengan DPMD-PTSP serta Dinas Kesehatan Kab. Kutai Kartanegara untuk melaksanakan Sosialisasi TDUP (Tanda Daftar Usaha Pariwisata).

 Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Sertifikasi Usaha Pariwisata. Standar Usaha Pariwisata adalah rumusan kualifikasi usaha pariwisata dan/atau klasifikasi usaha pariwisata yang mencakup aspek produk,pelayanan dan pengelolaan usaha pariwisata. Pentingnya Sertifikasi Usaha Pariwisata adalah proses pemberian sertifikat kepada usaha pariwisata untuk mendukung peningkatan mutu produk pariwisata, pelayanan dan pengelolaan usaha pariwisata melalui audit.


 Sertifikat Usaha Pariwisata adalah bukti tertulis yang diberikan oleh lembaga sertifikasi usaha pariwisata kepada usaha pariwisata yang telah memenuhi standar usaha pariwisata. Lembaga Sertifikasi Usaha Bidang Pariwisata yang selanjutnya disebut LSU Bidang Pariwisata, adalah lembaga mandiri yang berwenang melakukan sertifikasi usaha di bidang pariwisata sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


Even Tahunan

Even